Ramadhan di Kampung (1)

by LareSabin

Saat masuk bulan Ramadhan seperti sekarang, ingatan saya selalu terbang mengenang puasa di kampung halaman tigapuluh tahun silam. Kenangan yang berserak nun jauh di sebuah dusun di kaki Gunung Slamet pada paruh kedua 1980-an. Dusun yang selalu terkurung dalam gelap ketika malam tiba. Meski terletak di Pulau Jawa, seratus tahun setelah pemerintah kolonial Hindia Belanda membangun rel kereta api melintasi sisi selatan dusun ini; atau empat puluh tahun setelah Republik ini merdeka – listrik dari PLN belum juga masuk.

Ramadhan selalu disambut dengan suka cita oleh kami – anak-anak dusun yang selalu riang meski hidup dalam keterbatasan. Ramadhan kami nilai lebih istimewa dari bulan-bulan yang lain. Karena Ramadhan identik dengan kebebasan.

Ya, kebebasan – sebab kami diizinkan oleh orang-orang tua kami untuk tidur di surau selama Ramadhan. Kebebasan ini tidak kami nikmati di bulan-bulan lain. Tradisi tidur di surau hanya ada di bulan Ramadhan.

Lalu dimulailah malam-malam panjang yang menyenangkan itu, terlebih saat Ramadhan jatuh bertepatan dengan musim kemarau. Selepas shalat tarawih kami kembali ke rumah mengambil bekal: nasi dalam wadah rantang logam berikut lauk-pauk yang diletakkan di atasnya. Rantang itu kemudian dibungkus kain berbentuk bujur sangkar yang empat ujungnya dikaitkan menjadi satu.

Menenteng rantang berisi bekal, kami bergegas kembali ke surau. Tidak ada piyama dan selimut, bahkan tidak ada bantal. Kami akan tidur di lantai surau, tanpa alas, tanpa bantal, berselimut kain sarung.

Ada rasa bangga yang membuncah di dada saat kami berjalan menuju surau. Karena tidur di surau identik dengan keberanian dan kemandirian. Anak lelaki berumur di atas sepuluh tahun yang tidur di rumah saat Ramadhan dianggap cengeng dan penakut.

Tentu saja orang tua kami berpikiran bahwa kami – anak-anak mereka – akan segera tidur setiba di surau. Seperti juga yang dilakukan saat mereka masih kanak-kanak, kami manfaatkan momen tidur di surau untuk menikmati kebebasan. Alih-alih langsung tidur, kami menghabiskan malam dengan berjalan-jalan keliling dusun.

Saat bulan sedang purnama, alam di dusun kami terlihat begitu indah. Air sungai di batas desa berkilauan dalam warna perak. Hamparan padi terlihat seperti hijau keemasan. Pohon talas di pematang sawah meliuk mengikuti deru angin malam. Lapangan bola terlihat seperti hamparan padang nan luas dikelilingi nyiur menjulang.

Puas berjalan keliling dusun, kami kembali surau saat tengah malam sudah lewat. Terlelap sebentar, kami harus bangun saat waktu makan sahur tiba. Rantang-rantang segera dibuka, bekal kami nikmati dalam kondisi setengah tertidur-setengah terjaga. Seting terdengar suara dengan nada kaget, karena ada tahu atau tempe atau seiris telur dadar yang hilang dari rantang. Jika begitu kami hanya bergumam: ini pasti ulah anak-anak lain yang umurnya di atas kami. Mereka mengambil lauk secara acak dari rantang-rantang yang berjejer rapi di pojok surau. Saat mereka seumur kami, bekal mereka juga kerap diambil oleh anak-anak yang lebih tua. Ini adalah persoalan memelihara tradisi.

Nasi dan lauk kami nikmati dingin-dingin namun lahap. Tidak ada food warmer atau microwave, dingin namun terasa begitu nikmat.

Selesai menikmati makan sahur, sambil menahan kantuk kami bergiliran mengambil wudhu. Kegiatan berikutnya adalah ‘mengaji’. Satu per satu kami mendatangi Pak Kyai yang sudah duduk di pojok surau. Duduk di depan Pak Kyai, kami membaca empat atau lima ayat Al Quran yang diajarkan sehari sebelumnya. Jika bacaan kami dianggap sempurna, Pak Kyai akan mengajarkan empat atau lima ayat berikutnya – yang kembali akan kami baca di depan beliau di hari berikutnya.

Acara tidur di surau ditutup dengan shalat Subuh berjamaah. Selesai berdoa selepas shalat, kami berhamburan keluar sambil menenteng rantang. Sambil menikmati udara pagi yang dingin, kami pukul rantang-rantang itu dengan sendok di sepanjang jalan.

Puasa hari itu kami jalankan dengan ceria. Sebab yang ada dalam bayangan adalah serunya acara tidur di surau selama bulan Ramadhan. Malam nanti kami akan kembali menikmati kebebasan yang hanya datang setahun sekali.

Advertisements