Ramadhan di Kampung (3)

by LareSabin

Bagi kami anak-anak yang hidup di sebuah dusun terpencil, siklus hidup hanya berputar di sekitar tempat kami tinggal. Tak banyak di antara kami yang memiliki kesempatan melihat kehidupan di luar dusun.

Karenanya apa yang datang dari luar selalu menarik perhatian. Terlebih jika yang datang itu berasal dari ‘kota’. Bagi kami kota adalah tempat yang jauh dan tak terjangkau serta berbeda dengan dusun kami pada semua aspek.

Menjelang akhir Ramadhan dusun kami kedatangan ‘anak-anak kota’. Mereka adalah anak-anak dari perantau asal dusun kami yang lahir dan besar di kota besar – umumnya Jakarta.

Kami melihat mereka seperti makhluk dari planet. Atau kalaupun sama-sama dari satu planet, kami menaruh mereka di kasta tertinggi. Kami yang bukan kerabat dari anak-anak kota itu hanya melihat dan mengamati tingkah polah mereka. Sering juga kami membuntuti mereka dari kejauhan saat mereka menjalankan aktivitas yang bagi kami rutin dan biasa namun bagi mereka adalah sesuatu yang istimewa. Mandi di sungai, berkubang lumpur di sawah, memancing ikan di kolam, dan seterusnya.

Kami tidak berani menegur mereka terlebih dahulu. Mereka menggunakan bahasa Indonesia, sementara kami sehari-hari menggunakan bahasa Jawa. Bahasa Indonesia hanya kami gunakan saat membaca buku pelajaran di kelas, tidak pernah kami gunakan di luar kelas.

Cara berpakaian ‘anak-anak kota’ itu juga tidak seperti kami. Pakaian mereka bagus-bagus dengan aneka warna yang masih terang. Sementara sebagian besar pakaian kami sudah lusuh dan jelas lagi warnanya apa.

Sore menjelang malam hari mereka juga tidak memakai kain sarung. Sering kami merasa heran karena saat maghrib tiba ‘anak-anak kota’ itu tetap bercelana pendek, tidak memakai kain sarung atau celana panjang. Padahal ada aturan tidak tertulis yang mengharuskan anak-anak memakai sarung atau celana panjang dari menjelang maghrib.

Momen paling menyenangkan adalah kami diajak bermain oleh ‘anak-anak kota’ itu. Ajakan bermain ibarat ‘recognition’ terhadap status dan keberadaan kami.

Lebaran selesai, ‘anak-anak kota’ itu kembali ke tempat mereka tinggal. Kami anak-anak dusun melepas mereka dalam kesedihan. Sambil berharap tahun depan akan kembali dan masih mengenali kami – anak-anak dusun tidak pernah kemana-mana.

(Ditulis di atas Emirates EK127, saat pesawat melaju di atas wilayah Turki)

Advertisements