Ramadhan di Kampung (2)

by LareSabin

Orang-orang di dusun kami menyebut tradisi ini ‘Srakal’. Setelah shalat tarawih dan witir serta pembacaan doa selesai, jamaah bersama-sama melantunkan niat puasa dalam bahasa Arab diikuti terjemahannya dalam bahasa Jawa. Niat puasa diucapkan dengan irama dan hentakan yang khas dan penuh semangat.

Selesai mengucapkan niat puasa, jamaah tarawih berdiri membentuk formasi lingkaran. Pada saat bersamaan beduk di pojok mushala mulai ditabuh dengan irama yang cepat, seperti menyuruh jamaah untuk segera membentuk formasi. Selanjutnya dimulailah Srakal ini.

Srakal adalah tradisi melantunkan pujian kepada Allah SWT, menyebutkan sifat-sifat wajib Allah, dan membaca shalawat untuk Nabi Muhammad SAW. Jamaah melagukannya dalam irama yang tak pernah dituangkan dalam partitur. Buyut kami mewariskan irama itu kepada kakek kami, kakek kami mewariskannya kepada ayah kami, dan seterusnya. Kapan tradisi Srakal ini dimulai, siapa yang menggubah syairnya, dan siapa yang mengaransemen iramanya – kami tidak tahu.

Setelah jamaah berdiri dan membentuk formasi, irama beduk berubah menjadi lambat. Srakal dimulai dengan lantunan pujian kepada Allah dalam bahasa Arab yang dilagukan dengan lambat. Kami anak-anak kecil mencoba menerka-nerka apa yang dilantunkan oleh orang-orang tua.

Entah mengapa para orang tua tidak menuangkan naskah pujian itu ke dalam tulisan di kertas. Sehingga kami anak-anak dapat juga melantunkannya dengan benar, bukan tidak sekadar menerka. Mungkin buyut dan kakek kami juga tidak menuangkan naskah pujian ke dalam tulisan. Para orang tua kami mungkin ingin meneruskan tradisi ‘paperless’ warisan moyang mereka.

Irama beduk bertambah cepat saat jamaah mulai melagukan sifat-sifat wajib Allah: wujud, qidam, baqa … dan seterusnya. Lafal dalam bahasa Arab kemudian berganti menjadi bahasa Jawa, sementara beduk ditabuh dengan irama yang bertambah cepat.

Setelah pujian kepada Allah dan penyebutan sifat-sifat wajib Allah, bait selanjutnya berisi shalawat dan sedikit riwayat Nabi.

Penggalan bait yang sedikit saya ingat kurang lebih berbunyi seperti ini:

“Ingsun ngimanaken utusane Allah, kawulane Allah
Kang bapak Raden Abdullah, kang ibu Dewi Aminah

Lahir wonten Mekkah, diutus wonten Mekkah
Pindah teng Madinah, gerah ing Madinah
Gerah ing Madinah, sedha ing Madinah, sinareaken in Madinah

Bangsane bangsa Arab, bangsa Rasul bangsa Quraish
Allahumma shalli ‘ala Muhammad
Shalallahu nabiyullah, shalallahu jaluk ngapura…”

Jamaah melantunkan bait di atas dalam irama cepat namun penuh penghayatan. Kadang mereka saling berpandangan sambil tersenyum, seperti mengatakan bahwa beduk sudah ditabuh dengan irama yang pas sesuai ketukan. Jamaah juga tidak mempertanyakan mengapa ayah Nabi yang diketahui berkebangsaan Arab kok memiliki gelar raden

Setelah beberapa bait lain – yang saya sudah lupa – Srakal berhenti dengan hentakan beduk. Jamaah kemudian duduk, biasanya sambil tertawa lepas seperti memuji ‘pertunjukan’ yang baru selesai. Teh manis dan kudapan disajikan. Sambil menikmati hidangan, jamaah mulai mendiskusikan prosesi Srakal yang baru saja selesai. Di bagian ini beduk terlalu lambat, atau terlalu cepat, atau ada jamaah yang suaranya fals, dan seterusnya. Semuanya dilontarkan sambil tertawa.

Belum ada twitter, facebook, atau youtube saat itu. Belum ada juga yang mengatakan bahwa irama dan panjang-pendeknya kurang sempurna. Yang ada hanyalah niat baik untuk memuji keagungan Allah, menghafal sifat-sifat wajib Allah, dan membaca shalawat untuk junjungan kami Nabi Muhammad SAW. Gusti Allah mboten sare, begitu kata orang tua. Jika niatnya ikhlas, insha Allah menjadi ibadah.

Entah apakah tradisi Srakal sekarang masih ada. Juga apakah anak-anak sekarang yang seusia saya saat itu masih tertarik meneruskan tradisi ini. Mungkin waktu untuk Srakal tidak ada lagi, digantikan dengan ceramah agama ba’da tarawih. Atau digantikan dengan kegiatan-kegiatan yang lebih ‘modern’ dan menarik.

Wallahu a’lam.

Advertisements