Ikan Bakar Krems

Krems, bukan kremes. Jarak kota Krems dari Vienna kira-kira 70 kilometer, sekitar satu jam perjalanan menggunakan mobil. Kota ini terletak di pinggir sungai Danube – atau Donau dalam bahasa Jerman.

Di sebuah taman di pinggir kota Krems – tepat di bibir sungai Donau – sepasang suami-istri berjualan ikan bakar. Orang sini menyebutnya steckerlfisch. Artinya kira-kira ikan yang ditusuk. Disebut demikian karena ikan dibakar dengan cara ditusuk. Bilah penusuk dari kayu masuk dari mulut dan keluar di bagian ekor si ikan.

Suami istri ini tidak berjualan di warung permanen. Mereka menaruh alat pembakar ikan di pojok taman berikut satu meja dan dua bangku. Meja itu cukup untuk menampung delapan orang. Saat ramai, pengunjung yang tidak kebagian bangku harus rela menikmati ikan sambil berdiri.

Alat pembakar ikan berbentuk kotak persegi panjang. Ukurannya lumayan panjang, cukup untuk menampung 50 ekor ikan. Api dari pembakaran kayu menyala di tengah kotak. Ikan ditaruh berjejer vertikal memenuhi pinggiran kotak.

Ada dua jenis ikan yang ditawarkan: makarel dan trout. Tinggal pilih lebih suka jenis ikan yang mana. Harga trout sedikit lebih mahal dibandingkan makarel. Besar kecilnya ikan juga menentukan harga. Saat memesan biasanya sang penjual menanyakan ukuran ikan yang diminati. Besar atau kecil. Penjual kemudian mengambil ikan yang sudah matang dari pinggir alat pembakar. Ikan dilepas dari bilah kayu sebelum disajikan.

Ikan tidak dihidangkan di atas piring, tetapi di atas selembar kertas putih bersama sepotong roti tawar dan garpu plastik. Tidak ada pilihan pendamping lain seperti kentang goreng, apalagi nasi. Juga tidak ada penambah cita rasa seperti saus tomat, kecap, cabe rawit, merica, atau sambil terasi. Pengunjung hanya disuruh menikmati ikan bakar dengan bumbu sesuai resep dan bumbu rahasia si penjual.

Rasa ikannya bagaimana? Enak dan empuk, dengan aroma bumbu yang tidak terlalu kuat namun meresap. Tidak ada juga bau gosong karena ikan tidak bersentuhan langsung dengan api. Asap panas yang membuat ikan menjadi masak.

Lain ladang lain belalang. Kami membayangkan nikmatnya makan ikan bakar di Indonesia bersama nasi panas kebul-kebul, sambal terasi atau sambal kecap, dan aneka lalapan segar. Di sini kami harus mengikuti adat setempat: makan ikan bakar bersama roti tawar.

Jika masih penasaran ingin menikmati ikan bakar ini ‘secara Indonesia’, kami membelinya untuk dibawa pulang. Di rumah baru kami sandingkan ikan yang lezat ini dengan nasi dan sambal.

Oh ya, kios ikan bakar tidak buka saat musim dingin. Tidak lazim makan di taman saat cuaca dingin. Juga tidak banyak nelayan yang menangkap ikan di musim dingin.

Demikian sedikit cerita pengantar tidur tentang steckerlfisch alias ikan bakar Krems.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s