Secangkir Kopi, Segelas Tiramisu

Seperti di kota-kota besar lain di Eropa, ngopi juga menjadi semacam tradisi di Wina. Konon penduduk Wina pertama kali mengenal kopi dari tentara Turki pada waktu mereka mengepung kota Wina tahun 1683. Saat tentara Turki dipukul mundur, bekal biji kopi berkarung-karung mereka tinggal begitu saja. Sejak itu penduduk Wina mulai mengenal – dan selanjutnya kecanduan – kopi.

Ada aturan tidak tertulis saat seseorang ngopi di warkop atau cafe di Wina. Dia boleh duduk menikmati kopi tanpa batas waktu, selama yang dia mau. Bahkan setelah kopi di cangkir tandas, dia boleh tetap duduk di kursinya tanpa harus risau diminta pergi oleh pramusaji. Biasanya pramusaji hanya menghampiri dan bertanya apakah akan memesan kopi lagi atau minuman yang lain.

Pramusaji juga tidak akan melakukan gerakan provokatif, memberi aba-aba seperti hendak mengusir pengunjung yang gelasnya sudah kosong. Mengapa? Karena harga kopi yang dibayar sudah termasuk ongkos duduk tanpa batasan waktu alias unlimited. Oleh karenanya warkop atau cafe menjadi slaah satu tempat favorit untuk membaca, mencari inspirasi, atau melamun.

Seperti juga siang tadi, setelah secangkir cappuccino dan segelas tiramisu masuk ke mulut saya ingin meniru pengunjung lain yang terlihat duduk-duduk santai tanpa beban. Baru lima menit ternyata jam makan siang sudah hampir habis. Segera saya kembali ke kantor, meninggalkan orang-orang yang kelihatannya hanya duduk-duduk di cafe saja seharian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s