Asylum a la Carte

Suaka sesuai selera. Begitu mungkin terjemahan bebasnya. Istilah ‘asylum a la carte’ pertama kali saya dengar dari Johanna Mikl-Leitner, Mendagri Austria. Bu Menteri mempertanyakan mengapa migran yang saat ini berbondong-bondong masuk Eropa seperti begitu ngotot hendak ke Jerman. Mengapa mereka tidak mengajukan suaka di negara yang masuk katefori ‘aman’ yang pertama kali mereka singgahi.

Situasi di Slovenia dijadikan contoh oleh Bu Menteri. Di Slovenia saat ini terdapat sekitar 2.500 orang dengan status pengungsi, namun hanya tujuh di antara 2.500 orang itu yang mengajukan suaka ke pemerintah setempat. Sisanya tidak mengajukan suaka. Dapat ditebak yang tidak mengajukan suaka ini ingin melanjutkan perjalanan ke Jerman.

Slovenia itu kurang aman atau gimana? Kira-kira begitu pertanyaan lanjutan Bu Menteri. Jika para migran itu meninggalkan negeri asal mereka karena tidak ada lagi rasa aman, harusnya mereka mengajukan suaka di negeri aman pertama yang disinggahinya.

Kuatnya keinginan para migran untuk menuju Jerman membuat Bu Menteri curiga. Jangan-jangan migran itu lari ke Eropa bukan karena keselamatan mereka terancam, tetapi lebih disebabkan oleh motif ekonomi. Jika benar demikian, oportunis banget dong mereka. Wallahu a’lam.

Hal ini antara lain yang membuat Austria sejak awal mendukung proposal penerapan kuota wajib bagi anggota Uni Eropa untuk menampung pengungsi. Berdasarkan skema ini setiap anggota EU wajib menerima pengungsi dalam jumlah tertentu. Dua tahun ke depan pengungsi yang direlokasi berjumlah 120.000 orang. Mereka saat ini berada di penampungan di Italia, Yunani dan Hungaria.

Austria berpandangan bahwa kuota wajib tidak hanya bertujuan membagi tanggung jawab di antara anggota EU secara lebih fair. Lebih dari itu, adanya sistem kuota membuat migran tidak bisa lagi menentukan negara yang akan dijadikan sebagai tujuan akhir. Bisa saja mereka direlokasi ke Jerman, bisa juga ke Portugal. Tergantung garis tangan.

Migrasi internasional memang perkara yang pelik. Dengan segala kerumitannya publik sering susah membedakan mana pengungsi yang sesungguhnya – yang hidupnya benar-benar terancam di negara asal – dan mana migran oportunis yang memanfaatkan situasi untuk meningkatkan taraf hidup. Belum lagi jika dikaitkan dengan praktik people smuggling atau penyelundupan manusia yang ketap melibatkan sindikat kejahatan internasional.

Menutup status ini, saya ikut mendoakan semoga krisis pengungsi yang tengah berlangsung di Eropa dapat segera terselesaikan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s