Rugby: Antara Brutalitas dan Sportivitas

Setelah tayangan sepakbola Liga Inggris selesai, kanal televisi saya pindah ke siaran langsung pertandingan Piala Dunia rugby. Laga yang disiarkan adalah England versus Wales.

Hampir semua bentuk ‘kekerasan’ tersaji dalam pertandingan rugby. Mulai dari jegal, tackle, tabrak, sikut, injak, piting. Segala cara dan upaya seperti ‘dihalalkan’ dalam rangka merebut dan mempertahankan bola.

Terlebih yang bertanding adalah England dan Wales. Secara politik, keduanya adalah entitas yang memiliki kedudukan setara sebagai bagian dari United Kingdom of Great Britain and Nothern Ireland – yang dalam bahasa Indonsia secara keliru dipadankan dengan Inggris dan bukan Kerajaan Serikat. Tapi dalam olahraga keduanya selalu bersaing. England selalu ingin mempertahankan dominasi, sementara Wales tidak mau terlihat inferior.

Walhasil selama 80 menit jalannya pertandingan, kekerasan demi kekerasan silih berganti dilakukan oleh pemain kedua tim. Di tengah laga, sejumlah pemain terpaksa ditandu ke luar lapangan karena mengalami cedera lumayan parah. Ada juga beberapa pemain yang harus dibalut kepala, tangan atau kakinya karena mengalami luka akibat benturan.

Menariknya, meski saling jegal dan baku tackling – para pemain dari kedua tim mampu mengendalikan emosi selama pertandingan berlangsung. Tidak ada yang marah karena dijegal lawan – sekasar apapun. Apalagi membalas dengan pukulan, misalnya. Tidak ada yang sewot karena kepalanya terinjak di tengah kerumunan. Singkatnya, semua menjunjung tinggi sportivitas dan tahu benar jika kekerasan yang dilakukan adalah bagian dari permainan. Yang penting aturannya ditaati.

Karakteristik yang memadukan brutalitas dan sportivitas ini membuat rugby dijuluki sebagai olahraga ‘berandalan’ yang dimainkan oleh ‘gentlemen’. Karakteristik ini juga yang mungkin membuat rugby tidak bisa berkembang di Indonesia. Laga olahraga dengan tingkat kekerasan seperti rugby bisa memicu tawuran massal – pemain berikut penonton – dalam tempo sesingkat-singkatnya. Lha wong olahraga catur yang tanpa kontak fisik saja bisa berakhir dengan adu jotos hehehe…

Oh ya, Wales keluar sebagai pemenang dengan skor 28-25. Padahal sampai menit ke 70 England masih memimpin. Selamat buat Wales!

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. Bama says:

    Dan yang paling penting di dalam rugby tidak ada ‘diving’ seperti dalam sepakbola. 🙂 Suka geregetan kalau lihat pemain sepakbola disenggol sedikit terus jatuh dan pura-pura kesakitan.

    1. LareSabin says:

      Betul sekali, Masbro. Bahkan sampai kepala bocor berdarah-darah pun tetap lanjut main. Memang olahraga yang keras. Pemain yang diving bakal terinjak lawannya hehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s