Pesona Kota Kecil: Tulln, Austria

by LareSabin

Beberapa waktu lalu, tanpa rencana, saya dan keluarga pergi melancong ke kota Tulln. Nama lengkapnya Tulln an der Donau atau ‘Tulln di tepi Sungai Danube’, sebuah kota kecil yang terletak kira-kira 25 kilometer arah barat laut dari kota Wina, ibu negeri Austria. Penduduk kota ini tercatat 15.198 jiwa pada tahun 2012. Setara dengan dua kali populasi Gununglurah – desa tempat saya lahir dan menghabiskan masa kecil.

Perjalanan dari Wina ditempuh dalam waktu 30 menit. Sengaja saya mengambil ‘jalan kampung’ untuk menikmati panorama pedesaan ala Eropa. Dan benar saja, sepanjang jalan terhampar alam yang hijau menyambut musim semi. Sesekali hamparan bunga menyambut di beberapa titik.

Suasana sepi dan lengang terasa di sepanjang jalan. Hari Minggu memang hari bermalas-malasan. Toko-toko tutup. Orang-orang lehih banyak menghabiskan waktu di rumah.

Suasana sepi juga menyambut kedatangan kami di kota Tulln. Setelah mendapatkan tempat parkir di pelataran rumah penduduk, kami berjalan menuju tepian Sungai Danube. Dua menit berjalan kami tiba di bantaran salah satu sungai terpanjang di Eropa ini. Warna hijau dedaunan ditimpali aneka warna bunga mendominasi pemandangan. Tulln memang terkenal dengan taman-tamannya yang luas dan elok.

Saat kami tiba, sekitar jam 2 siang, suasana di tepian sungai masih sepi. Hanya terlihat beberapa orang bersepeda. Ada juga yang duduk-duduk menatap kapal dan speedboat yang sesekali melintas sambil menikmati sinar mentari musim panas.

Puas menikmati udara segar dan pemandangan di tepi sungai, kami melanjutkan pergerakan ke pusat kota atau Zentrum. Petunjuk arah dan peta terpasang jelas di beberapa titik. Disebutkan bahwa pusat kota dapat dicapai dalam waktu tiga menit berjalan kaki atau satu menit bersepeda. Sangat informatif.

Kami menyusuri gang-gang kecil yang bersih di antara rumah dan apartemen. Beberapa restauran terlihat penuh oleh pengunjung yang sedang menikmati makan siang. Dan sudah menjadi tradisi orang Austria, gelas-gelas besar bersisi bir terlihat mendominasi meja makan mereka.

Tidak sampai tiga menit, kami tiba di pusat kota. Rupanya keramaian terpusat di sini, di alun-alun. Sebuah lapangan berlantai beton seluas kurang lebih 50 x 20 meter terhampar. Di sisi selatan lapangan melintas jalan protokol, di sisi utara adalah deretan toko, kafe, dan restauran. Sementara di sisi timur bediri dengan megah bangunan klasik kantor pemerintah kota. Tepat di bawah lapangan adalah tempat parkir berbayar.

Cuaca cerah hari itu dimanfaatkan untuk memanjakan diri dengan sinar matahari. Satu pemandangan menarik, orang lalu-lalang dengan es krim di genggaman. Melihatnya segera dua anak saya mengajukan petisi: beli es krim.

Tidak ada alasan untuk menolak, acara dilanjutkan dengan menikmati es krim sambil berjemur seperti orang Eropa. Tidak tahan didera mentari, saya dan istri – tipikal makhluk tropis – mencari tempat duduk yang terlindungi dari sinar matahari. Sambil berteduh, kami mengawasi anak-anak yang sedang bermain air mancur di tengah lapangan. Es krim dan main air. Apalagi yang lebih menyenangkan buat anak-anak selain dua hal tersebut…

Setelah puas ‘berjemur’ kami melanjutkan perjalanan melihat-lihat sekeliling. Kurang dari 15 menit setiap sudut pusat kota sudah dapat dinikmati. Jalanan terlihat lengang dan menurut informasi angkutan umum juga ikut libur di hari Minggu. Wah, terbayang kemana-mana harus naik ojek…

Kami berjalan menyusuri taman kembali menuju tepian sungai. Sasaran berikut adalah naik ‘kereta api mini’ keliling kota. Karena kereta penuh kami harus menunggu 20 menit untuk perjalanan berikut.

Kereta mini ini mirip dengan yang dioperasikan di Monas, Ancol, Ragunan, atau di beberapa jalan kecil di perkampungan padat penduduk di Jakarta. Tarif satu kali naik adalah satu setengah euro. Lama perjalanan seiktar 20 menit. Artinya, kami mengulang lagi sudut-sudut kota yang telah dilewati sebelumnya. Bedanya, kereta membawa kami agak jauh ke pinggir kota dan berhenti di depan kebun raya.

Sang masinis dengan cekatan mengendalikan kereta meliuk-liuk di antara bangunan-bangunan kuno yang antik, kokoh sekaligus anggun. Sesekali dia membunyikan klakson untuk memberi aba-aba di perlintasan.

Perjalanan dengan kereta berakhir dan kami turun di pemberhentian tak jauh dari tempat parkir mobil. Melirik arloji, ternyata sudah jam 18.30 meski siang masih terang-benderang. Matahari baru akan terbenam jam 20.30 namun perut sudah mengindikasikan saatnya makan malam. Akhirnya kami kembali ke mobil, menikmati makan malam dengan bekal yang dibawa dari Wina.

Setelah perut diisi makanan, otak saya kembali bisa berpikir. Sebenarnya tidak ada yang begitu istimewa atau spektakuler di kota Tulln. Tempat-tempat yang kami kunjungi termasuk standar untuk ukuran Eropa: tepi sungai, taman, lapangan di pusat kota, naik kereta mini. Namun di balik yang standar tadi ada satu hal yang pantas dikagumi: bagaimana objek-objek wisata tadi dikelola dengan baik sehingga ‘hidup’ dan secara ekonomi ‘menghasilkan.’ Padahal Tulln bukan kota besar, hanya kota kecil di sudut Austria.

Kemampuan mengelola ini membuat Tulln menjadi tujuan – atau setidaknya persinggahan – wisata. Terlihat dari beberapa mobil dengan plat nomor dari kota dan negara lain yang saya temui. Menjelang jam 19.00 kami kembali ke Wina dengan rute berbeda dengan saat berangkat. Matahari tidak lagi begitu terik dan keindahan alam kembali terbentang di sepanjang jalan. Sambil mengemudi, saya berandai-andai pemanfaatan potensi wisata model Tulln ini juga bisa diterapkan di Indonesia.

Semoga.

Advertisements