Dilarang Belanja! (di Hari Minggu)

by LareSabin

Di Indonesia hari Minggu identik dengan hari belanja. Di Jakarta, pusat perbelanjaan atau shopping center selalu dipenuhi pengunjung. Begitu juga antrian di kasir supermarket selalu panjang karena banyak keluarga yang berbelanja kebutuhan sehari-hari untuk satu pekan ke depan. Aktivitas belanja di hari Minggu ini membuat kemacetan lalu lintas di sekitar shopping center dan ‘pasar kaget’ menjadi suatu cerita biasa.

Tidak hanya pusat perbelanjaan, ‘pasar kaget’ yang khusus digelar pada akhir pekan juga tidak kalah ramai. Salah satu yang sering saya kunjungi adalah ‘pasar kaget’ STEKPI Kalibata (sekarang sudah bubar). Orang dari berbagai kalangan tumpah ruah sampai melangkahkan kaki menjadi tidak leluasa. Sebagian besar datang dengan tujuan untuk berbelanja.

Di Wina, Austria adalah kebalikannya. Hari Minggu semua toko tutup. Begitu juga shopping center dan supermarket. Aktivitas bisnis yang buka hanyalah restauran dan kedai makanan. Padahal di hari biasa (Senin sampai Sabtu) toko-toko juga hanya buka sampai jam enam sore. Hanya pada hari Kamis mereka buka sampai jam delapan malam.

Tutupnya tempat belanja menjadi masalah saat kita perlu membeli sesuatu. Yang kerap terjadi adalah istri tiba-tiba terperanjat karena tidak ada lagi stok gula pasir atau minyak goreng di dapur, sementara dia sedang menyiapkan masakan untuk dibawa ke acara kumpul-kumpul Minggu siang. Hal ini tidak menjadi soal di Indonesia karena banyak warung yang buka sepanjang waktu.

Konon ada tiga alasan mengapa toko-toko tutup di hari Minggu. Pertama, hari Minggu adalah hari untuk beribadah bagi umat Kristen yang merupakan mayoritas di Austria. Kedua, hari Minggu adalah hari untuk berkumpul dengan keluarga sehingga tidak tepat diisi dengan keluyuran di mall.

Dua alasan pertama sangat masuk akal dan dapat dicerna dengan logika sederhana. Setelah lima hari bergelut dengan pekerjaan, dibutuhkan satu hari untuk bersantai bersama keluarga. Acara belanja umumnya dilakukan hari Sabtu dan hari Minggu digunakan sepenuhnya untuk acara keluarga dan mengumpulkan tenaga untuk seminggu ke depan.

Alasan ketiga adalah untuk mengontrol konsumerisme dan mempertahankan nilai-nilai sosial. Karena toko-toko tutup, para orang tua memiliki kesempatan mengajak anak-anak mereka berkunjung handai taulan, bermain di taman, atau berkunjung ke museum. Artinya, di Eropa yang selama ini sering dianggap identik dengan kapitalis justru terdapat upaya nyata untuk mencegeh konsumerisme yang membabi buta!

Pemerintah kota Wina juga memanfaatkan hari Minggu untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi. Caranya dengan menggratiskan tiket angkutan umum bagi anak-anak usia sekolah. Karenanya orang-orang lebih memilih baik bus dan trem di hari Minggu. Jalanan menjadi lengang tanpa harus dengan slogan ‘car free day.’

Awalnya saya belum dapat memahami ‘larangan berbelanja di hari Minggu’ ini. Lama-lama akhirnya terbiasa juga meski tetap ngeyel membayangkan mengisi hari Minggu dengan sesuatu yang ‘khas’ Jakarta. Misalnya dengan ‘ngubek-ngubek’ toko buku di pusat perbelanjaan, sesuatu yang tidak dapat dilakukan di sini.

Selamat menikmati hari Minggu!

Advertisements