Selamat Makan, Prijatno

by LareSabin

Saat hidup di asrama SMA tahun 1990-1993, setidaknya tiga kali sehari saya mengucapkan kata ‘Selamat Makan.’ Tidak hanya mengucapkan, tetapi mengucapkan dengan keras. Penuh semangat.

Setiap hari seluruh penghuni sarapan, makan siang dan makan malam bersama di ruang makan asrama. Jika dalam setahun rata-rata 300 hari dihabiskan di asrama, selama 3 tahun saya dan teman-teman mengucapkan kata ‘Selamat Makan’ 2.700 kali! (Data resmi please cek BPS).

Prosesi makan bersama ini diawali dengan pemukulan gong oleh petugas piket. Sebelum gong ditabuh, suasana ruang makan sangatlah hiruk-pikuk. Obrolan, candaan, tawa riang (maupun getir) terdengar di setiap sudut.

Begitu gong berbunyi suasana seketika menjadi senyap. Semua menundukkan kepala, berdoa menurut agama dan keyakinan masing-masing.

Saat gong ditabuh lagi tanda selesai berdoa, semua yang ada di ruang makan bersama-sama dengan penuh semangat mengucapkan “Selamat makaaaannnnn…!!!” Acara makan dimulai.

Kemarin di Ljubljana saya berkesempatan jalan-jalan sebentar ke pusat kota. Beruntung hari itu sedang digelar festival makanan. Makanan khas Slovenia – juga kuliner dari berbagai negara – disajikan di tenda-tenda kecil yang tertata rapi.

Di salah satu sudut terpasang spanduk. Di situ tertulis ucapan pengantar makan dalam berbagai bahasa. Dan ternyata ada kata ‘Selamat Makan’ di spanduk itu. Ada rasa senang melihatnya meski tidak sampai menitikkan air mata. (Kalah oleh air liur akibat lapar -red).

Tulisan ‘Dober tek’ – bahasa Slovenia untuk selamat makan – dicetak tebal di spanduk. Ada juga tulisan ‘Prijatno.’ Saya kira ‘Prijatno’ ini nama ketua panitia food festival hehehe…

Berdasarkan hasil konsultasi dengan Ki Google, ‘Prijatno’ adalah selamat makan dalam bahasa Bosnia. Oalah…

Ya sudah kalau begitu. Selamat makan, Prijatno… (kali ini tanpa bunyi gong).

Advertisements