Berjabat Tangan dengan Presiden Austria

by LareSabin

Senin ini, 26 Oktober 2015, rakyat Austria merayakan Hari Nasional mereka. Enampuluh tahun lalu, 26 Oktober 1955, konstitusi Austria ditandatangani – menandai terbentuknya negara Republik Austria.

Berbagai kegiatan diselenggarakan untuk merayakan hari bersejarah ini. Salah satunya adalah open house yang digelar di kediaman resmi Presiden. Kegiatan ini sudah menjadi semacam tradisi. Tidak hanya membuka kediaman resmi untuk semua kalangan, Presiden Austria Heinz Fischer dan istri juga menyalami tamunya satu per satu. Sesi jabat tangan selesai diteruskan dengan acara foto bersama. Tidak sehari penuh, tentu saja. Open house digelar dari jam 14 sampai jam 16.

image

Antrian menuju pintu gerbang istana presiden.

Kebetulan tidak ada acara lain, saya ajak istri dan anak-anak untuk ikut open house di kompleks istana Presiden. Melihat udara yang cerah dan suhu yang cukup bersahabat, saya membayangkan banyak orang yang akan datang ke acara ini.

Benar saja. Pintu belum dibuka, antrian sudah mengular. Tidak ingin menunggu lebih lama lagi, kami segera masuk ke barisan antrian.

Tepat jam 14 pintu dibuka, antrian mulai bergerak. Namun antrian bergerak sangat lambat. Kami butuh satu setengah jam bagi untuk bisa sampai ke depan pintu masuk kediaman Presiden. Untunglah pengunjung mengantri dengan tertib. Tidak ada yang menyerobot antrian. Tidak juga diperlukan petugas khusus untuk mengatur antrian. Tertib mengantri sudah menjadi makanan sehari-hari warga Austria.

image

Antrian di dalam istana.

Panitia open house menerapkan sistem buka-tutup. Setiap sekira sepuluh menit, 15 sampai 20 pengunjung dipersilakan masuk melalui gerbang utama. Di balik gerbang terdapat empat titik pemeriksaan keamanan. Isi tas diperiksa dan pengunjung harus melewati metal detector. Untuk ukuran kediaman presiden, pengamanan tidak terlihat berlebihan. Gerbang masuk, sebagai contoh, hanya dijaga oleh dua personel kepolisian.

Selesai melewati pemeriksaan keamanan, setiap kelompok disambut oleh seorang guide. Kelompok tempat saya keluarga bergabung disambut oleh guide bernaman Gunther. Dia bertugas memandu dan memberikan informasi tentang kediaman Presiden berikut ruangan-ruangan yang akan kami lewati.

Awalnya saya mengira perjalanan dari pintu gerbang sampai dengan jabat tangan dengan Presiden tidak akan memakan waktu lama. Ternyata perlu waktu hampir 45 menit. Kadang kelompok kami harus berhenti, menyesuaikan dengan pergerakan kelompok di depan kami. Sambil menunggu giliran mendekat ke arah ruangan tempat Presiden menyalami tamunya, kami mendengarkan penjelasan dari Gunther.

image

Salah satu ruangan di istana.

Tiga atau empat ruangan yang begitu megah kami lewati. Pada masa lalu kompleks Istana Hofburg – tempat kediaman Presiden berada – adalah kediaman Kaisar Austria. Kita tahu, sebelum berubah menjadi republik, Austria adalah kekaisaran. Sampai dengan awal abad ke-20 Austria adalah negara besar, salah satu yang terkuat di Eropa. Tidak mengherankan jika negeri ini memiliki banyak istana yang besar dan megah dengan interior yang sangat indah.

Setelah empat ruangan dilalui, akhirnya saya dan keluarga mendapat kesempatan berjabat tangan dengan Presiden Fischer. Setelah mengucapkan selamat, saya memperkenalkan diri sebagai orang Indonesia yang telah tiga tahun tinggal di Austria. Dengan ramah Pak Presiden menanyakan bagaimana kesan kami selama tinggal di Austria. Saya jawab sangat menyenangkan. Pak Presiden tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Setelah berfoto bersama, saya berpamitan dan mengucapkan selamat sekali lagi.

image

Pak Presiden terlihat di cermin sedang bersalaman dengan pengunjung open house.

Menuju pintu keluar, seorang petugas memberikan secarik kertas seukuran kartu pos. Isinya adalah ucapan terima kasih dan informasi bahwa foto-foto dengan Presiden dapat diunduh di laman resmi Presiden dan akun Facebook yang dikelola staf kepresidenan.

image

Anggota angkatan bersenjata memainkan musik klasik menjelang pintu keluar.

Kami berjabat tangan jam 16.30 atau lewat 30 menit dari batas akhir waktu open house. Sementara di belakang kami antrian masih lumayan panjang. Bisa jadi Pak Presiden masih harus menyambut dan berfoto dengan tamu-tamu satu jam ke depan. Salut untuk stamina dan kesabaran beliau yang sudah lumayan sepuh.

image

Ucapan terima kasih.

Demikian cerita tentang jabat tangan dengan Presiden Austria hari ini. Tradisi tahunan ini memberikan gambaran tentang bagaimana seorang Presiden Austria menjalin hubungan dengan rakyatnya dipimpinannya. Meski ada aturan protokoler, acara open house berlangsung dalam suasana santai. Meski Pak Presiden memakai jas lengkap, tidak ada dress code untuk pengunjung. Ada yang mengenakan paikaian formal, sebagian besar – termasuk saya – berbusana kasual.

Rasa pegal di kaki setelah berdiri lebih dari tiga jam seperti hilang saat kami membuka laman resmi Presiden. Foto di istana sudah diunggah hanya berselang dua jam setelah saya dan keluarga berjabat tangan dengan Presiden. Foto dengan resolusi tinggi juga disediakan untuk diunduh.

Banyak hal yang saya dapat hari ini. Budaya tertib mengantri. Seorang presiden yang dekat dengan rakyatnya. Cara mengatur acara secara rapi. Juga menyediakan informasi secara cepat dan efisien.

Selamat merayakan Hari Nasional dan Dirgahayu Austria!

Advertisements