Sejuta Warna Musim Gugur di Eropa

by LareSabin

zellamsee05

Musim gugur, saat udara cerah, adalah waktu yang tepat untuk menikmati keindahan alam di negara dengan empat musim. Di musim gugur atau autumn alam seperti bersolek, berubah menjadi penuh warna. Dedaunan berubah dari hijau menjadi kuning atau merah. Daun yang rontok membentuk hamparan seperti permadani. Perpaduan warna kuning keemasan dan merah yang merona.

Akhir pekan lalu saya dan beberapa rekan kerja plus keluarga berkonvoi menyusuri jalanan Austria untuk menikmati indahnya musim gugur. Perjalanan dimulai dari kota Vienna hari Sabtu pagi, berhenti untuk piknik makan siang di tepi Danau Hallstatt, lalu ke Zell am See – sebuah kota kecil di negara bagian Salzburg. Setelah menginap semalam di Salzburg, hari Minggu pagi rombongan terpecah menjadi dua. Kelompok pertama memilih untuk mendaki pegunungan Schmitten, kelompok kedua meneruskan perjalanan ke kota Hallein dan Salzburg. Perkiraan jarak tempuh perjalanan ini menurut Google Maps adalah 806 kilometer.

Rute perjalanan menikmati keindahan musim gugur.

Rute perjalanan menikmati keindahan musim gugur.

Mengendarai enam mobil, kami berangkat dari Vienna hari Sabtu jam 9 pagi. Destinasi pertama adalah rest area di tepi Danau Hallstat, sekitar 280 kilometer dari titik start. Sesuai kesepakatan, setiap keluarga membawa bekal makan siang untuk dinikmati bersama di tepi danau.

Pemandangan di tepi jalan antara Vienna dan Hallstat.

Pemandangan di tepi jalan antara Vienna dan Hallstat.

Keluar dari kota Vienna kami disambut dengan pemandangan warna-warni. Kuning dan merah dedaunan terselip di antara pohon-pohon cemara yang tetap setia dengan warna hijau. Indahnya pemandangan di kanan-kiri jalan serta kondisi jalanan yang mulus dan bebas macet membuat waktu tiga jam berkendara seperti tidak terasa. Sekitar jam 12 siang rombongan tiba di tepi Danau Hallstatt. Pemberhentian pertama adalah rest area yang dilengkapi taman serta bangku dan meja kayu. Tempat ideal untuk menikmati makan siang.

Pemandangan dari tepi Danau Hallstatt.

Pemandangan dari tepi Danau Hallstatt.

Turun dari mobil, anak-anak berhamburan menuju tepi danau. Ibu-ibu mulai menata bekal makan siang di atas meja kayu di tengah taman. Bapak-bapak – yang dalam perjalanan ini berperan sebagai sopir – duduk bergerombol, bertukar cerita tentang kondisi jalanan di etape pertama.

Setelah perbekalan semua digelar, acara makan siang pun dimulai. Karena yang ikut jalan-jalan adalah orang Indonesia, makanan yang tersaji juga mirip menu piknik di Ancol. Tersedia nasi, telor dan ayam balado, oseng ikan asin, pepes ikan, ayam goreng, asinan, sambal andaliman, dan masih banyak lagi. Rute boleh belantara Eropa tapi soal makanan kami tetap cinta Indonesia. 🙂

zellamsee03

Jalan kampung ala Austria.

Selesai menikmati makan siang kami melanjutkan perjalanan etape kedua. Tentu saja bangku dan meja taman kami tinggalkan dalam keadaan rapi seperti semula. Setiap orang bertanggung jawab membuang sampah masing-masing. Tempat-tempat sampah disediakan di pinggir taman. Jadi tidak ada alasan untuk meninggalkan taman dalam keadaan kotor.

Di etape kedua ini kami menyusuri jalan kecil alias jalan kampung, menurun dan mendaki di sela perbukitan. Warna hijau hutan cemara mendominasi area perbukitan. Dedaunan tidak berubah warna dan juga tidak rontok pada musim dingin. Karenanya hutan di pegunungan sering disebut evergreen forest alias hutan yang selamanya hijau.

Setelah menempuh jarak sekitar 110 kilometer dalam waktu dua jam, kami tiba di penginapan di Zell am See. Di depan penginapan terhampar danau Zeller dan di seberang danau terlihat Pegunungan Schmitten yang sudah dibalut salju. Menyaksikan pemandangan yang indah, setelah check-in kami bergegas ke tepi danau. Setelah sibuk dengan foto bersama, selfie, unggah foto ke media sosial, kami berjalan menyusuri tepi danau sambil menunggu mentari tenggelam. Suasana lengang di tepi danau yang cantik dan bersih membuat kami betah berlama-lama meski hawa dingin mulai terasa menusuk tulang.

Danau Zell am See.

Danau Zell am See.

Hari mulai gelap saat kami berjalan kaki kembali ke penginapan. Acara selanjutnya adalah makan malam bersama dengan menu spesial: ikan forelle panggang. Menurut pengelola penginapan, ikan-ikan yang dihidangkan malam ini dipancing dari danau siang tadi. Jadi dijamin sangat segar dan seratus persen bermuatan lokal. Jika makan siang tadi bertema selera Nusantara, makan malam kali ini bernuansa Eropa. Meski begitu tetap saja ada yang mengeluarkan botol saus sambal. Kurang mantap kalau cuma pedas merica, katanya. No sambal no fun!

Salah satu sudut kota Hallein.

Salah satu sudut kota Hallein.

Di hari kedua, rombongan terpisah menjadi dua. Setelah check out saya dan tiga keluarga lain melanjutkan perjalan ke kota tua Hallein – sekitar satu jam perjalanan dari penginapan. Hallein adalah kota tua dan pada masa lalu dikenal sangat makmur gemah ripah loh jinawi. Zaman dulu Hallein adalah penghasil garam dan zaman itu garam adalah komoditi yang mahal harganya. Tidak heran jika timbul peperangan yang dipicu oleh perebutan wilayah yang menghasilkan garam. Uang hasil perdagangan garam digunakan penduduk Hallein untuk membangun kota mereka. Alhasil, Hallein menjadi salah satu kota paling maju di zamannya.

Jika boleh jujur, tidak ada yang terlalu istimewa di kota Hallein – selain riwayat masa lalu yang gilang-gemilang. Namun karena promosi yang ditata dengan baik di dunia maya membuat banyak orang tertarik untuk mendatangi kota ini. Termasuk kami, tentu saja. Pelajaran yang dapat dipetik hari ini: jangan kepalang tanggung dalam mempromosikan wisata. Tapi tentu saja promosi yang bertanggung jawab. Promosi juga diikuti dengan penyediaan fasilitas untuk pengunjung serta kebersihan yang terjaga.

Perjalanan dari Hallein ke Salzburg.

Perjalanan dari Hallein ke Salzburg.

Dari Hallein kami bergerak menuju Salzburg, sekitar 20 kilometer ke arah utara. Salzburg merupakan salah satu destinasi wisata utama Austria. Selain dikenal sebagai kota kelahiran komponis Mozart, Salzburg juga indentik dengan film The Sound of Music.

Hari Minggu itu kota tua terlihat ramai dan dipenuhi pelancong. Setelah memarkir mobil, kami berjalan menyusuri kota tua – melewai depan rumah tempat Mozart dilahirkan sampai ke katedral.

Deretan bendi di kota tua Salzburg.

Deretan bendi di kota tua Salzburg.

Meski banyak pelancong berkunjung, toko-toko tetap tutup di hari Minggu. Yang diperbolehkan buka hanya toko souvenir, restauran, warung makan, dan cafe. Sering saya tidak habis pikir. Bagi orang Austria uang mungkin bukan segalanya. Jika buka di hari Minggu pasti para pelancong yang jumlahnya ribuan itu akan berbelanja. Namun orang Austria memilih mempertahankan nilai yang selama ini mereka anut. Minggu adalah hari untuk keluarga.

Kuningisasi.

Kuningisasi.

Setelah puas menikmati suasana menjelang sore di Salzburg, kami melanjutkan perjalanan ke Vienna. Jarak Salzburg-Vienna sekitar 300 kilometer. Artinya kami perlu waktu sekurang-kurangnya tiga jam untuk sampai ke Vienna – plus waktu untuk makan malam dan rehat di perjalanan.

Demikian cerita perjalanan menikmati warna-warni musim gugur di Austria akhir pekan lalu. Menyenangkan dan menjadi pengalaman baru. Terima kasih sudah mampir dan selamat menikmati rakhir pekan.

zellamsee04

Danau Zeller di saat musim gugur.

Advertisements