Nikmatnya Angsa Panggang Khas Slovakia

Kuliner khas suatu kota atau daerah selalu menjadi ‘destinasi’ wisata yang wajib dicoba. Selain maknyus dan membuat kenyang, sering ada cerita menarik di balik terciptanya kuliner khas tersebut. Akhir pekan lalu saya dan sejumlah teman berwisata kuliner merasakan nikmatnya nikmatnya angsa panggang khas daerah Slovensky Grob – wilayah pedesaan berjarak sekitar 30 kilometer arah timur laut dari ibukota Slovakia Bratislava. Musim gugur atau autumn dikenal sebagai goose and duck feast season, saat paling tepat untuk menikmati menu bebek dan angsa.

Jam 11 pagi kami berangkat dari kota Vienna, Austria menuju Bratislava menggunakan mobil. Jarak antara dua ibukota negara ini sekitar 80 kilometer – kurang lebih sama dengan jarak Jakarta-Cikampek. Melewati jalan bebas hambatan, perjalanan Vienna-Bratislava kami tempuh sekitar satu jam. Artinya dalam waktu satu jam kami sudah berpindah negara, sementara di Jakarta dalam satu jam saya baru bisa berpindah dari Gambir ke Pancoran. 🙂

Grob02
Angsa panggang khas Slovakia saat dihidangkan.

Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit dari Bratislava, kami tiba di restauran yang menjadi TKP. Separuh perjalan melalui jalan bebas hambatan, selebihnya kami melewati daerah pertanian. Sampai di restauran kami dipersilakan menuju ruangan di bawah tanah. Maklum, anggota rombongan ‘berburu angsa’ berjumlah 28 orang. Dan ternyata restauran tersebut memiliki ruangan di bawah tanah yang mampu menampung 30 orang.

Oh ya, kami telah melakukan pemesanan satu hari sebelum kunjungan lewat telepon. Tidak hanya untuk memastikan ketersediaan tempat, tetapi juga memberi waktu bagi restauran untuk menyiapkan hidangan. Proses memanggang angsa memakan waktu yang cukup lama. Nggak lucu jika pengunjung tiba-tiba datang dan harus terkantuk-kantuk menunggu proses pemanggangan.

Singkat kata, pramusaji menerangkan urutan hidangan yang akan disajikan. Pertama akan disajikan hati angsa bersama salad dan roti. Berikutnya menu utama angsa panggang. Terakhir hidangan penutup – jika masih ada kavling yang tersisa di perut.

Grob01
Hidangan pembuka: hati angsa, salad dan roti.

Tanpa harus menunggu lama, hati angsa dihidangkan. Tidak disajikan utuh tetapi diiris tipis-tipis. Teksturnya empuk dan lembut. Ibaratnya tidak perlu dikunyah sudah lumer dengan sendirinya di mulut. Salad yang disajikan adalah zucchini, irisan kol, irisan paprika dan cabai yang sudah diawetkan dalam larutan asam atau cuka (pickled). Sambil menikmati enaknya hati angsa, saya berkesimpulan salad disajikan sebagai pendamping untuk menetralisir rasa hati angsa.

Setelah urusan hati selesai tibalah saat menikmati menu utama. Website restauran menyebutkan satu ekor angsa panggang cukup untuk dinikmati oleh 4-5 orang. Berdasarkan informasi ini kami memutuskan memesan 5 ekor angsa. Melihat angsa panggang sudah terhidang, ingatan saya melayang ke masa kanak-kanak. Seperti anak-anak yang lain, saya jeri dengan angsa. Selain ukurannya yang besar, angsa juga termasuk unggas yang agresif. Mereka berani mengejar dan nyosor siapa pun yang dianggap mengganggu. Namun karena yang terhidang adalah daging angsa nan menggugah selera, rasa takut itu hilang sudah.

Grob03
Satu potong besar angsa panggang.

Setelah dipanggang kulit angsa menjadi renyah sementara dagingnya menjadi empuk. Rasa kulit angsa asin dan gurih, mirip kerupuk. Daging angsa terasa lembut dan tidak alot saat dipotong maupun dikunyah. Rasa daging angsa mirip dengan dading bebek yang banyak menjadi menu kuliner Indonesia. Namun jika di tanah air bebek umumnya digoreng atau dibakar lalu dihidangkan dengan nasi hangat kebul-kebul dan sambal, di sini angsa panggang kami santap dengan roti yang bentuknya mirip roti prata. Tidak ada sambal. Mungkin karena tambahan rasa yang terlalu pedas justru ‘merusak’ rasa asli daging angsa. Karena proses pemanggangan yang lama, bumbu – yang entah terdiri dari apa saja – juga meresap ke dalam daging.

Sambil makan saya lihat anggota rombongan mulai ‘bersusah-payah’ menghabiskan daging angsa di depan mereka. Bayangkan saja lima ekor angsa disajikan dalam potongan besar-besar. Mungkin setara dengan 10-12 ekor ayam. Alhasil, di akhir jamuan masih tersisa beberapa potong besar angsa yang kami bungkus dan bawa pulang.

Grob05
Suasana ‘berburu angsa’.

Menurut cerita, tradisi menikmati angsa panggang sudah berumur lebih dari seratus tahun. Tradisi ini bermula saat kondisi ekonomi memburuk. Para istri peternak unggas berusaha mencari penghasilan tambahan karena lesunya penjualan daging mentah. Mereka mulai memanggang angsa dan menjajakannya dari rumah ke rumah. Lama-kelamaan angsa panggang dari desa Slovensky Grob ini mulai dikenal luas di area Bratislava dan orang-orang mulai mendatangi desa tersebut. Awalnya angsa panggang tidak dijual di restauran, tetapi di rumah-rumah penduduk. Lambat laun restauran dibuka. Untuk mempertahankan tradisi, restauran umumnya dibangun dalam bentuk menyerupai rumah. Sekarang angsa panggang menjadi salah satu menu wajib wisata kuliner di Bratislava.

Grob06
Bratislava selepas senja.

Akhirnya enjelang sore kami mengakhiri acara ‘berburu angsa’ dengan perut kenyang dan rasa puas. Rasa penasaran akan angsa panggang Slovensky Grob terjawab sudah. Sebelum kembali ke Vienna, kami menghabiskan sisa sore itu di Bratislava.

Dalam perjalanan pulang ke Vienna sayup-sayup terdengar lagu ‘Potong Bebek Angsa’, theme song perjalanan wisata kuliner akhir pekan ini. 🙂

Advertisements

13 Comments Add yours

  1. mysukmana says:

    sayangnya makanan disana gak bisa pake nasi ya kak makannya..:D coba di indonesia angsa panggang sambal bawang sama nasi anget..nyesss bangetttt

    1. LareSabin says:

      Nasi harus bawa sendiri hehehe…

      1. mysukmana says:

        wah kalau saya gak bisa makan gak pake nasi, maklum orang indonesia hihihih

  2. Prnh dgr klo hati angsa itu trmsk mknn mahal. Bnr g si?

    1. LareSabin says:

      Di kuliner Perancis ada makanan berbahan hati angsa atau bebek, namanya foi gras. Katanya sih enak banget. Cara mengolah hatinya tidak lazim, jadinya mahal. Tapi cara pengolahan hati ini banyak dikritik karena dianggap tidak manusiawi eh, tidak hewani hehehe…

      1. Mksde hewane tersiksa ngono?

  3. Senengnya pergi berombongan ke luar negeri dengan sesama orang Indonesia. Menunya maknyus! Apalagi kalau ada saus atau sambal yang super pedas! 🙂

    1. LareSabin says:

      Hehehe… plus guyonan khas orang Indonesia bikin suasana tambah gayeng…

  4. taufiq says:

    salam kenal, mohon izin …share article anda di fb kami dan fb Dit. Eropa Tengah dan Timur.
    tks (Taufiq)

    1. LareSabin says:

      Wah, ada Uda rupanya… Monggo jika mau di-share, honor bisa dibicarakan belakangan hehehehe…

  5. anaanum says:

    Produktif sekali nulis di blognya ^^ … meski di luar negeri blognya pakai bahasa Indonesia, amazing ^^

    1. LareSabin says:

      Hehehe… pas ada momen menarik dan ads waktu untuk menulis… di luar negeri cuma sebentar kok 🙂

  6. savanamoza says:

    daging angsa rasanya hampir sama dengan duck ga ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s