Topi Hijau, Maulid dan Natal

by LareSabin

Sebelum kembali ke Wina siang ini, saya berkesempatan melihat-lihat kembali pusat kota Ljubljana. Meski bulan Desember hampir habis, salju juga belum juga turun. Matahari bersinar lumayan cerah membuat hawa musim dingin menjadi sedikit hangat.

Suasana Natal begitu terasa. Pohon Natal lumayan tinggi berdiri kokoh di depan katedral. Di sekelilingnya berdiri kios-kios yang menjual aneka pernak-pernik Natal. Tidak jauh dari katedral empat orang bertopi ala Sinterklas menyanyi lagu dalam irama ceria diiringi akordeon dan seruling.

Lalu saya melihat topi berwarna hijau dengan gambar bintang merah ini. Sekilas mirip topi tentara. Aku jatuh hati kepada topi ini pada pandangan pertama. Dan pada pandangan kedua, aku memutuskan membelinya.

“Rojen pod srečno zvezdo”. Tulisan dalam bahasa Slovenia ini tertera di lidah topi. Terjemahannya dalam bahasa Inggris tertera di bagian atas topi: born under under a lucky star.

Topi langsung aku pakai, menemaniku menyusuri sudut kota tua Ljubljana. Beberapa langkah dari kios penjual topi, saya baru sadar jika hari ini umat Islam memperingati kelahiran Nabi Muhammad dan sehari berikutnya umat Kristen merayakan kelahiran Yesus.

Ah, mungkin cuma kebetulan yang direka pikiran saya saja. Namun topi ini akan menjadi selalu pengingat saat hari lahir dua figur paling penting dalam sejarah manusia diperingati back to back.

Dulu saya menyambut hari lahir Nabi Muhammad dengan membaca dan melagukan syair dari kitab Al-Barzanji. Perjanjen, demikian orang-orang di kampung saya menyebutnya. Syair Al-Barzanji merupakan lantunan rasa bahagia menyambut kelahiran Nabi. Belum ada tradisi saling mengucapkan Selamat Maulid Nabi. Yang ada adalah lantunan doa Yaa Nabi salaam ‘alaika. Wahai utusan Allah semoga keselamatan selalu bersamamu.

Setelah merantau meninggalkan kampung halaman, saya mulai bertemu dengan sahabat-sahabat yang beragama Kristen. Sejak itu tradisi kebhinekaan bertambah satu lagi: mengucapkan Selamat Natal kepada teman dan sahabat yang merayakan.

Perayaan Maulid Nabi dan Natal yang berdampingan mengajarkan kepada kita bahwa perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Namun kita selalu memiliki kesempatan untuk menjadikan perbedaan sebagai nikmat dan anugerah. Bukan sebagai alasan untuk saling mengalahkan.

Yaa Nabi salaam ‘alaika, yaa Rasul salaam ‘alaika. Yaa habib salam ‘alaika, shalawatullah ‘alaika. Wahai nabi, rasul dan sang kekasih semoga keselamatan selalu bersamamu dan rahmat Allah selalu tercurah untukmu.

Untuk seluruh saudara dan sahabat yang beragama Kristen, Selamat Natal semoga damai selalu bersama kita semua.

(Tol A2 selepas kota Graz menuju ke Wina)

Advertisements