Sapu Tangan dan Perjuangan

by LareSabin

Beberapa waktu lampau sapu tangan adalah benda penting. Bukan hanya karena fungsinya, tetapi juga karena nilainya sebagai pengikat memori. Setidaknya itu yang tersirat dari beberapa lagu  jadul.

Sapu Tangan dari Bandung Selatan adalah salah satu contoh. Lagu ini berkisah tentang asmara yang berkobar di tengah perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Seperti pergulatan antara cinta kepada kekasih dan cinta kepada tanah air. Di akhir lagu sang gadis pujaan merelakan kekasihnya mendahulukan cintanya kepada negara. Sapu tangan menjadi ‘tanda kasih jaya sakti’ mereka.

Setelah kemerdekaan diraih muncul lagu tentang ‘sapu tanganku warna merah jambu.’ Saya lupa judul lagu itu. Jika tidak salah sapu dalam lagu ini juga menjadi tanda ikatan kasih asmara ‘di zaman susah.’ 

Saat belum alamat email, pin BB, dan nomer HP belum menjadi bagian dari peradaban, para pecinta berharap sapu tangan dapat menjadi penolong mereka untuk bertemu dengan kekasih yang hilang entah kemana. Setiap hari sapu tangan itu mereka pandangi, seperti orang zaman sekarang memerhatikan telepon genggam menunggu pesan atau panggilan masuk.

Di zaman perjuangan sapu tangan memiliki makna yang tidak kalah penting dari senjata. Jika senjata mewakili kedahsyatan – atau kebrutalan – sebuah perang sebagai bagian dari pejuangan, sapu tangan menggambarkan sisi lain dari sudut pandang kemanusiaan. Saat perang berkecamuk, soal asmara tetap ada dan bergelora.

Dua minggu ini sapu tangan juga kembali menjadi benda penting bagi saya. Bukan sebagai penanda kekasih yang hilang, tapi sebagai senjata dalam perjuangan melawan macet di Jakarta yang panas. Memang sapu tangan itu tidak lagi menyimpan kenangan manis, tetapi bau apek keringat yang mengering dan debu jalanan yang tertinggal di badan. Tidak disimpan sebagai kenangan, tetapi harus dicuci setiap hari agar bisa dipakai lagi esok lusa.

Advertisements