Penangkapan Diponegoro

by LareSabin

Tahun 1990, atau 1991, saya berkesempatan mengunjungi rumah tempat Pangeran Diponegoro ditangkap Belanda. Terletak di sisi barat kota Magelang, rumah yang kini difungsikan sebagai museum berada di lingkungan yang asri. Dari halaman rumah terhampar pemandangan indah lereng Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.

Setelah lima tahun berperang, Diponegoro memutuskan menerima ajaka Belanda untuk berunding. Ternyata ajakan berunding itu tipu muslihat belaka. Alih-alih diajak bernegosiasi, Diponegoro ditangkap oleh Letnan Jenderal De Kock. Diponegoro kemudian diasingkan ke Manado, lalu dipindah ke Makassar.

Minggu lalu saya berkesempatan melihat lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh. Lukisan yang termasyhur itu sedang dipamerkan di Galeri Nasional bersama dengan sejumlah lukisan lain koleksi Istana Presiden.

Penangkapan Pangeran Diponegoro dilukis pada tahun 1857. Melalui lukisan ini Raden Saleh mempersepsikan penangkapan yang terjadi pada tanggal 28 Marer 1830.

Satu hal yang menonjol adalah bagaimana Raden Saleh melukis bentuk tubuh orang-orang Belanda secara tidak proporsional. Berbeda dengan bentuk tubuh Diponegoro dan pengikutnya yang dilukis secara proporsional. Untuk pelukis dengan kaliber maestro, melukis tubuh orang dalam bentuk yang tidak proporsional tentulah bukan suatu kebetulan, apalagi kecelakaan. Bentuk tidak proporsional ini mengandung pesan tentang ‘ketidaknormalan’ Belanda karena telah berlaku lancung. Mereka pura-pura mengajak berunding, namun ajakan itu ternyata jebakan. Mereka telah mengkhianati niat baik Diponegoro.

Raden Saleh juga menggambarkan sosok Diponegoro yang gagah, terlihat seperti melakukan perlawanan terakhir sebelum dimasukkan kereta milik Belanda. Sosok Diponegoro versi Raden Saleh berkebalikan dengan sosok yang digambarkan dalam lukisan mengenai peristiwa yang sama karya pelukis Belanda Nicolaas Pieneman. Dalam lukisan yang diselesaikan tahun 1835 itu Diponegoro digambarkan sebagai sosok yang lesu dan terlihat tak berdaya di hadapan Belanda.

Meski ‘dibesarkan’ oleh Belanda, Raden Saleh tidak kehilangan jati dirinya sebagai orang Indonesia. Melalui lukisan itu Raden Saleh menciptakan suasana baru peristiwa penangkapan Diponegoro, bertolak belakang dengan apa yang digambarkan Pieneman. Raden Saleh juga mencibir De Kock dan kawan-kawannya sebagai orang yang tidak normal karena sifat mereka yang licik dan menghalalkan secara cara.

Tahun 2011 saya berkunjung ke Makassar, tempat Pangeran Diponegoro wafat dan dimakamkan. Karena waktu yang terbatas, makam dan museum Diponegoro urung dikunjungi. Mudah-mudahan ada kesempatan lagi di lain waktu untuk mengunjungi tempat peristirahatan sang pangeran yang pernah membuat Belanda kewalahan ini.

Advertisements