Azan Maghrib Terdengar di Masjid Cordoba

Tahun 2015 saya berkesempatan melancong ke Spanyol, menghabiskan empat hari di puncak musim panas yang terik. Dari aeroporto Madrid saya mengendarai mobil sewaan ke arah selatan, ke wilayah Andalusia.

Nama Andalusia sudah sering saya dengar. Nama yang identik dengan kejayaan Islam di benua Eropa di masa lalu. Beberapa buku tentang sejarah Andalusia juga pernah saya baca. Semakin banyak informasi yang saya gali, semakin besar rasa penasaran saya akan Andalusia.

Dan satu objek yang ingin saya kunjungi adalah Masjid Cordoba. Foto hitam putih salah satu sudut bangunannya saya lihat di sebuah buku sejarah saat duduk di bangku sekolah dasar. Foto itu menunjukkan lengkung yang menghubungkan pilar-pilar di dalam masjid. Begitu khas. Terlihat anggun tetapi juga kokoh.

Beberapa kali setelah itu – sejalan dengan akses informasi yang makin mudah didapat – saya melihat versi berwarna foto itu. Lengkung itu tidak putih dan abu-abu. Tetapi putih dan merah bata.

Saat melancong ke Andalusia saya melihat lengkung itu dalam wujud aslinya, berjejer di dalam ruangan yang temaram. Sinar matahari dibiarkan masuk sedikit saja, membuat kombinasi warna putih dan merah bata terasa begitu alami, menghadirkan suasana syahdu dan khidmat, suasana yang membuat jarak antara insan dan Sang Pencipta begitu dekat.

Lama saya tertegun. Keindahanan Masjid Cordoba adalah cermin sebuah peradaban yang tinggi tingkatannya. Sebuah karya seni yang keindahannya tidak lekang tergerus zaman.

Saya masih ingin berlama-lama duduk di dalamnya saat seorang petugas mengingatkan bahwa waktu kunjungan telah habis. Dengan berat hati berjalan ke arah pintu keluar, menuju penginapan tepat di sisi kiri masjid. Dari jendela kamar hotel Masjid Cordoba telihat begitu anggun, seperti sedang menunggu senja musim panas yang sebentar lagi turun.

Saat matahari tenggelam dan alam mulai redup suara adzan sayup-sayup terdengar. Sambil terkaget-kaget saya mulai bertanya dalam hati. Dari manakah asal suara adzan penanda waktu Maghrib itu? Mungkinkah dari Masjid Cordoba? Bukankah bangunan masjid itu – yang dulunya juga adalah geraja – saat ini sudah menjadi museum?

Dari penelurusan di internet saya mendapat informasi jika suara adzan itu berasal dari sebuah restauran tidak jauh dari masjid. Pemilik restauran yang memutar suara adzan itu. Awalnya tindakan pemilik restauran memutar adzan saat masuk waktu Mahgrib ditentang oleh sebagian warga kota Cordoba. Namun pengadilan memutuskan bahwa memutar suara adzan tidak melanggar aturan apapun sepanjang tidak menimbulkan kebisingan.

Saya kembali tertegun. Mungkinkah di masa lalu suara adzan itu terdengar setiap hari? Apakah warga di sekitar masjid berbondong-bondong memenuhi panggilan shalat?

Ah, betapa fana dunia ini. Tidak ada jaminan bahwa suatu hal atau peristiwa akan abadi. Seperti juga peradaban Islam yang mewarnai Spanyol selama hampir 700 tahun, yang tergusur pada tahun 1492, ditandai dengan penyerahan kunci kota Granada dari Sultan Abu Abdillah (atau Boabdil) kepada Ratu Isabella dan Raja Ferdinand penguasa Castilla.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s