Australia yang (Selalu) Gamang

Tempat yang selalu menarik dikunjungi di airport adalah toko buku. Saat pulang dari Perth minggu lalu saya melihat buku ‘The Rise and Fall of Australia’ karya Nick Bryant. Penulis adalah koresponden BBC berkewarganegaraan Amerika yang pernah bertugas di Negeri Kanguru selama lima tahun.

Dengan teknik penulisan gaya wartawan yang enak dibaca Bryant menggambarkan bagaimana tetangga selatan kita itu secara terus-menerus berada di persimpangan. Hampir di sepanjang perjalanan sejarah mereka merasa ‘gamang’.

Persimpangan paling berat yang mereka hadapi adalah identitas. Pertama, Australia adalah bangsa Eropa yang berada di tengah-tengah bangsa Asia dan Pasifik. Awalnya mereka membanggakan peradaban Eropa sebagai aspek paling penting yang menjadi pembeda dengan negara-negara di sekitarnya.

Pendulum bergerak dan dewasa ini Asia-Pasifik menjadi lebih penting bagi Australia dibandingkan Eropa. Setidaknya secara ekonomi. Australia mulai menganggap diri mereka bagian dari Asia, meski masih malu-malu.

Kedua, Australia masih juga bimbang apakah akan menjadi republik atau tetap menjadikan tahta Inggris sebagai kepala negara. Sejumlah tokoh pro-republik pernah menjadi perdana menteri. Sayangnya saat menjadi perdana menteri semangat republikan mereka seperti melemah lalu hilang begitu saja.

Bryant menyebut nuansa romantisme masa lalu yang masih begitu kental yang membuat Australia merasa perlu tetap mempertahankan ikatan mereka dengan Inggris.

Dua contoh di atas menggambarkan banyak persimpangan yang ada. Dapat dikatakan sudah jamak karena persaingan antara Sydney dan Melbourne sudah muncul saat negara ini baru lahir. Persaingan membuat mereka perlu ‘menciptakan’ kota baru Canberra sebagai ibukota.

Selain persimpangan di atas Bryant juga mengupas kegaduhan politik tingkat federal dua dekade terakhir. Setelah John Howard lengser, belum ada perdana menteri yang berkuasa lebih dari tiga tahun. Masa pemerintahan Kevid Rudd berlangsung singkat karena ‘dikudeta’ oleh sesama politisi Partai Buruh. Posisinya kemudian digantikan oleh Julia Gillard. Rudd kemudian naik lagi sebelum akhirnya Partai Buruh kalah dari Partai Koalisi.

Partai Koalisi juga tidak solid. Perseteruan antara Tony Abbott dan Malcom Turnbull mendominasi dinamika internal partai ini setelah duduk kembali di pemerintahan. Pada pemilu terakhir mereka hanya unggul tipis dari Partai Buruh.

Gonjang-ganjing politik ini membuat Bryant secara cerdas menyebut Canberra sebagai ‘coup capital of the democratic world.’ Dinamika politik federal pada hakikatnya juga merupakan cerminan dari kegamangan Australia menatap masa depan. Baik Partai Buruh maupun Koalisi sepertinya tidak memiliki perbedaan platform yang jelas.

Satu hal yang tidak lagi membuat mereka gamang, menurut saya, adalah soal sepakbola. Australia terlihat nyaman berpindah dari konfderasi Oceania ke Asia. Harapan mereka untuk dapat berlaga di zona yang lebih kompetitif terkabul. Fakta ini membuat pikiran usil saya muncul: mereka merasa nyaman menjadi bagian dari Asia jika hal tersebut dianggap menguntungkan hehehe…

Akhirnya, saya menilai buku ini layak dan enak dibaca. Sebagai ‘orang Barat’ Bryant relatif objektif dalam menganalisis Australia yang juga berbudaya Barat. Latar belakangnya sebagai jurnalis juga membuat buku ini tidak membosankan untuk dibaca.

Advertisements

Dulu Dijajah Siapa?

Membaca buku The Human Story karangan James C. Davis, satu hal terbersit di benak. Sering kita dengar orang Indonesia berandai-andai. Coba kita dulu dijajah Inggris, bukan Belanda. Mungkin nasib kita akan lebih bagus dari sekarang. Sebab Inggris tidak hanya menjajah tetapi juga menularkan hal-hal yang baik.

Malaysia, bekas jajahan Inggris, lebih makmur dari kita. Sementara kita masih begini-begini saja. Tidak heran jika negeri jiran tersebut suka menggoda akhir-akhir ini.

Davis menyebut Indonesia dalam konteks Inggris menjajah India. Menurutnya, India merupakan prioritas kedua. Yang diincar pedagang-pedagang Inggris saat itu adalah Indonesia, alias East Indies. Oleh karena itu perusahaan yang dibentuk diberi nama English East India Company.

Continue reading “Dulu Dijajah Siapa?”

Tujuh Dosa Politik Luar Negeri Amerika

Kebijakan luar negeri Presiden Goerge Bush banyak menuai kritikan, di dalam maupun di luar Amerika. Banyak tulisan yang mengupasnya, termasuk buku karya Loch K. Johnson berjudul Seven Sins of American Foreign Policy (Pearson Longman, 2007). Johnson adalah profesor di University of Georgia dan editor senior jurnal Intelligence and National Security.
Apa saja tujuh dosa tersebut?
Continue reading “Tujuh Dosa Politik Luar Negeri Amerika”

Buku: The Post-American World

Membaca satu buku sampai selesai, dalam waktu tidak terlalu lama, dan tanpa diselingi dengan kegiatan membaca buku lain, termasuk hal yang sulit saya kerjakan. Biasanya setelah selesai membaca sepertiga buku, saya berpaling ke buku lain. Artinya, pada saat yang bersamaan kadang ada sampai tiga buku yang saya baca.

Kesulitan tersebut teratasi minggu lalu, saat saya membaca buku terbaru tulisan Fareed Zakaria, The Post-American World. Mungkin karena rasa penasaran, sebab tulisan Zakaria sering saya baca di majalah Newsweek. Atau juga topiknya menarik, mengenai peran Amerika Serikat (AS) dalam tata politik global.

Zakaria adalah editor Newsweek International, pindah ke AS dari India pada tahun 1982.

Continue reading “Buku: The Post-American World”