Azan Maghrib Terdengar di Masjid Cordoba

Tahun 2015 saya berkesempatan melancong ke Spanyol, menghabiskan empat hari di puncak musim panas yang terik. Dari aeroporto Madrid saya mengendarai mobil sewaan ke arah selatan, ke wilayah Andalusia.

Nama Andalusia sudah sering saya dengar. Nama yang identik dengan kejayaan Islam di benua Eropa di masa lalu. Beberapa buku tentang sejarah Andalusia juga pernah saya baca. Semakin banyak informasi yang saya gali, semakin besar rasa penasaran saya akan Andalusia.

Dan satu objek yang ingin saya kunjungi adalah Masjid Cordoba. Foto hitam putih salah satu sudut bangunannya saya lihat di sebuah buku sejarah saat duduk di bangku sekolah dasar. Foto itu menunjukkan lengkung yang menghubungkan pilar-pilar di dalam masjid. Begitu khas. Terlihat anggun tetapi juga kokoh.

Beberapa kali setelah itu – sejalan dengan akses informasi yang makin mudah didapat – saya melihat versi berwarna foto itu. Lengkung itu tidak putih dan abu-abu. Tetapi putih dan merah bata.

Saat melancong ke Andalusia saya melihat lengkung itu dalam wujud aslinya, berjejer di dalam ruangan yang temaram. Sinar matahari dibiarkan masuk sedikit saja, membuat kombinasi warna putih dan merah bata terasa begitu alami, menghadirkan suasana syahdu dan khidmat, suasana yang membuat jarak antara insan dan Sang Pencipta begitu dekat.

Lama saya tertegun. Keindahanan Masjid Cordoba adalah cermin sebuah peradaban yang tinggi tingkatannya. Sebuah karya seni yang keindahannya tidak lekang tergerus zaman.

Saya masih ingin berlama-lama duduk di dalamnya saat seorang petugas mengingatkan bahwa waktu kunjungan telah habis. Dengan berat hati berjalan ke arah pintu keluar, menuju penginapan tepat di sisi kiri masjid. Dari jendela kamar hotel Masjid Cordoba telihat begitu anggun, seperti sedang menunggu senja musim panas yang sebentar lagi turun.

Saat matahari tenggelam dan alam mulai redup suara adzan sayup-sayup terdengar. Sambil terkaget-kaget saya mulai bertanya dalam hati. Dari manakah asal suara adzan penanda waktu Maghrib itu? Mungkinkah dari Masjid Cordoba? Bukankah bangunan masjid itu – yang dulunya juga adalah geraja – saat ini sudah menjadi museum?

Dari penelurusan di internet saya mendapat informasi jika suara adzan itu berasal dari sebuah restauran tidak jauh dari masjid. Pemilik restauran yang memutar suara adzan itu. Awalnya tindakan pemilik restauran memutar adzan saat masuk waktu Mahgrib ditentang oleh sebagian warga kota Cordoba. Namun pengadilan memutuskan bahwa memutar suara adzan tidak melanggar aturan apapun sepanjang tidak menimbulkan kebisingan.

Saya kembali tertegun. Mungkinkah di masa lalu suara adzan itu terdengar setiap hari? Apakah warga di sekitar masjid berbondong-bondong memenuhi panggilan shalat?

Ah, betapa fana dunia ini. Tidak ada jaminan bahwa suatu hal atau peristiwa akan abadi. Seperti juga peradaban Islam yang mewarnai Spanyol selama hampir 700 tahun, yang tergusur pada tahun 1492, ditandai dengan penyerahan kunci kota Granada dari Sultan Abu Abdillah (atau Boabdil) kepada Ratu Isabella dan Raja Ferdinand penguasa Castilla.

Advertisements

Partai Alenka

Alenka. Bukan Alengka. Tidak ada kaitannya dengan Alengkadiraja, sebuah negeri di dunia pewayangan. Alenka di sini adalah seorang politisi perempuan Slovenia. Nama lengkapnya Alenka Bratusek.

Alenka muncul sebagai kuda hitam dalam pemilu Slovenia tahun 2013, di tengah suasana politik yang sedang carut-marut. Secara mengejutkan perempuan kelahiran 1970 ini terpilih sebagai perdana menteri, mengalahkan sejumlah politisi senior yang sudah punya nama. Alenka hanyalah seorang pegawai pemerintah yang tiba-tiba mencalonkan diri menjadi anggota parlemen. Tanpa pengalaman politik praktis sama sekali.

Terpilihnya Alenka menyiratkan dua hal. Pertama, rasa jengah publik Slovenia terhadap para politisi yang dipandang lebih mementingkan ego dan kepentingan pribadi. Ekonomi Slovenia terpukul saat krisis melanda Eropa tahun 2008. Saat ekonomi negara-negara lain mulai pulih, Slovenia tetap terpuruk. Para politisi dianggap tidak mampu mencari solusi. Bahkan menambah buruk keadaan.

Kedua, publik Slovenia ingin mencari figur baru. Figur yang bukan berasal dari kelompok politisi kawakan. Mereka berharap banyak kepada Alenka.

Jalan yang harus dihadapi ternyata tidak mudah. Sejak duduk di kursi perdana menteri pada bulan Maret 2013 Alenka kerap menghadapi masalah, mulai dari persoalan internal partai sampai persoalan dalam mengelola pemerintahan sehari-hari.

Alenka hanya mampu bertahan setahun lebih sedikit. Pada bulan April 2014 dia diminta mundur dari jabatannya sebagai pemimpin Partai Positive Slovenia. Selanjutnya dia mengundurkan diri dari jabatan perdana menteri. Rumus sederhananya: tidak etis bagi politisi yang kehilangan kepercayaan kolega partainya untuk tetap menduduki jabatan publik.

Alenka tidak menyerah. Dia membentuk partai baru untuk bertarung di pemilu yang digelar pada Mei 2014. Nama partainya Aliansi Alenka Bratusek. Alias Partai Alenka. Sayang sekali di pemilu Partai Alenka hanya meraih empat kursi. Tidak cukup signifikan untuk mewarnai politik Slovenia.

Sebelum mundur dari kursi perdana menteri Alenka menetapkan dirinya sendiri sebagai kandidat Wakil Ketua Komisi Eropa mewakili Slovenia. Namun pencalonannya gagal. Mayoritas anggota Komisi Eropa memberikan persetujuan. Mereka melihat Alenka tidak cukup kompeten menduduki jabatan itu.

Akhirnya Alenka kembali menjadi warga negara biasa. Partai Aliansi Alenka Bratusek berubah nama menjadi Aliansi Sosial Liberal Demokrat.

Publik Slovenia memilih figur baru – juga tanpa latar belakang politik – sebagai perdana menteri menggantikan Alenka. Namanya Miro Cerar, pengajar di Universitas Ljubljana. 

Kali ini publik tidak salah memilih. Miro Cerar terbukti kompeten. Sampai awal September 2017 dia masih duduk sebagai perdana menteri.

Penangkapan Diponegoro

Tahun 1990, atau 1991, saya berkesempatan mengunjungi rumah tempat Pangeran Diponegoro ditangkap Belanda. Terletak di sisi barat kota Magelang, rumah yang kini difungsikan sebagai museum berada di lingkungan yang asri. Dari halaman rumah terhampar pemandangan indah lereng Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.

Setelah lima tahun berperang, Diponegoro memutuskan menerima ajaka Belanda untuk berunding. Ternyata ajakan berunding itu tipu muslihat belaka. Alih-alih diajak bernegosiasi, Diponegoro ditangkap oleh Letnan Jenderal De Kock. Diponegoro kemudian diasingkan ke Manado, lalu dipindah ke Makassar.

Minggu lalu saya berkesempatan melihat lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh. Lukisan yang termasyhur itu sedang dipamerkan di Galeri Nasional bersama dengan sejumlah lukisan lain koleksi Istana Presiden.

Penangkapan Pangeran Diponegoro dilukis pada tahun 1857. Melalui lukisan ini Raden Saleh mempersepsikan penangkapan yang terjadi pada tanggal 28 Marer 1830.

Satu hal yang menonjol adalah bagaimana Raden Saleh melukis bentuk tubuh orang-orang Belanda secara tidak proporsional. Berbeda dengan bentuk tubuh Diponegoro dan pengikutnya yang dilukis secara proporsional. Untuk pelukis dengan kaliber maestro, melukis tubuh orang dalam bentuk yang tidak proporsional tentulah bukan suatu kebetulan, apalagi kecelakaan. Bentuk tidak proporsional ini mengandung pesan tentang ‘ketidaknormalan’ Belanda karena telah berlaku lancung. Mereka pura-pura mengajak berunding, namun ajakan itu ternyata jebakan. Mereka telah mengkhianati niat baik Diponegoro.

Raden Saleh juga menggambarkan sosok Diponegoro yang gagah, terlihat seperti melakukan perlawanan terakhir sebelum dimasukkan kereta milik Belanda. Sosok Diponegoro versi Raden Saleh berkebalikan dengan sosok yang digambarkan dalam lukisan mengenai peristiwa yang sama karya pelukis Belanda Nicolaas Pieneman. Dalam lukisan yang diselesaikan tahun 1835 itu Diponegoro digambarkan sebagai sosok yang lesu dan terlihat tak berdaya di hadapan Belanda.

Meski ‘dibesarkan’ oleh Belanda, Raden Saleh tidak kehilangan jati dirinya sebagai orang Indonesia. Melalui lukisan itu Raden Saleh menciptakan suasana baru peristiwa penangkapan Diponegoro, bertolak belakang dengan apa yang digambarkan Pieneman. Raden Saleh juga mencibir De Kock dan kawan-kawannya sebagai orang yang tidak normal karena sifat mereka yang licik dan menghalalkan secara cara.

Tahun 2011 saya berkunjung ke Makassar, tempat Pangeran Diponegoro wafat dan dimakamkan. Karena waktu yang terbatas, makam dan museum Diponegoro urung dikunjungi. Mudah-mudahan ada kesempatan lagi di lain waktu untuk mengunjungi tempat peristirahatan sang pangeran yang pernah membuat Belanda kewalahan ini.

Sapu Tangan dan Perjuangan

Beberapa waktu lampau sapu tangan adalah benda penting. Bukan hanya karena fungsinya, tetapi juga karena nilainya sebagai pengikat memori. Setidaknya itu yang tersirat dari beberapa lagu  jadul.

Sapu Tangan dari Bandung Selatan adalah salah satu contoh. Lagu ini berkisah tentang asmara yang berkobar di tengah perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Seperti pergulatan antara cinta kepada kekasih dan cinta kepada tanah air. Di akhir lagu sang gadis pujaan merelakan kekasihnya mendahulukan cintanya kepada negara. Sapu tangan menjadi ‘tanda kasih jaya sakti’ mereka.

Setelah kemerdekaan diraih muncul lagu tentang ‘sapu tanganku warna merah jambu.’ Saya lupa judul lagu itu. Jika tidak salah sapu dalam lagu ini juga menjadi tanda ikatan kasih asmara ‘di zaman susah.’

Saat belum alamat email, pin BB, dan nomer HP belum menjadi bagian dari peradaban, para pecinta berharap sapu tangan dapat menjadi penolong mereka untuk bertemu dengan kekasih yang hilang entah kemana. Setiap hari sapu tangan itu mereka pandangi, seperti orang zaman sekarang memerhatikan telepon genggam menunggu pesan atau panggilan masuk.

Di zaman perjuangan sapu tangan memiliki makna yang tidak kalah penting dari senjata. Jika senjata mewakili kedahsyatan – atau kebrutalan – sebuah perang sebagai bagian dari pejuangan, sapu tangan menggambarkan sisi lain dari sudut pandang kemanusiaan. Saat perang berkecamuk, soal asmara tetap ada dan bergelora.

Dua minggu ini sapu tangan juga kembali menjadi benda penting bagi saya. Bukan sebagai penanda kekasih yang hilang, tapi sebagai senjata dalam perjuangan melawan macet di Jakarta yang panas. Memang sapu tangan itu tidak lagi menyimpan kenangan manis, tetapi bau apek keringat yang mengering dan debu jalanan yang tertinggal di badan. Tidak disimpan sebagai kenangan, tetapi harus dicuci setiap hari agar bisa dipakai lagi esok lusa.

Libur Panjang dan Macet di Jalan Tol

Setiap libur panjang kita disuguhi – dan kadang menikmati – kemacetan parah di jalan tol. Jalan bebas hambatan yang dibangun untuk mempercepat pergerakan kendaraan mendadak berubah menjadi tempat parkir tiban. Penyebab kemacetan ini demikian kompleks. Ada yang menyebut pintu masuk dan keluar tol sebagai biang keladi.

Di Austria, berbeda dengan di Indonesia, tidak dikenal gerbang masuk dan keluar tol. Kendaraan yang melintasi jalan tol dikenakan bea tapi tidak dengan membayar di tempat saat masuk atau keluar gerbang tol. Austria – dan juga beberapa negara lain di Eropa – menerapkan sistem stiker. Stiker tol yang dikenal juga sebagai vignette ini dipasang di bagian kiri atas kaca depan kendaraan.

Ada tiga jenis stiker tol untuk kendaraan pribadi – ukuran kecil dan sedang. Pertama adalah stiker dengan masa berlaku 10 hari seharga €8.80. Sekitar 132ribu rupiah dengan kurs 15ribu. Stiker dengan durasi terpendek ini biasanya dibeli oleh kendaraan yang melintas di Austria untuk sementara waktu. Misalnya mereka yang tengah melancong.

Kedua adalah stiker dengan masa berlaku 2 bulan seharga €25.70 atau sekitar 385ribu.

Ketiga adalah stiker dengan masa berlaku setahun seharga €85.70 atau sekitar Rp 1.285.500. Dengan stiker ini kita bisa berkendara di tol sak monahe. Mau ngalor-ngidul di tol sepanjang tahun juga boleh

Denda dikenakan untuk kendaraan yang tidak memiliki stiker yang valid. Jika dibaya di tempat, besarnya denda adalah €240. Denda akan lebih mahal jika dibayar di waktu lain. Misal: lagi bokek berat.

Tidak adanya gerbang tol membuat antrian kendaraan masuk atau keluar tol jarang ditemui. Tol selalu lancar, kecuali dalam kondisi darurat.

Selain itu sistem stiker juga membuat ongkos tol menjadi murah – jauh lebih murah dibandingkan di Indonesia. Tol tahunan seharga €85.70 jika dibagi 365 jatuhnya hanya kisaran 3.000-4.000 rupiah.

Berapa rata-rata ongkos tol yang harus dikeluarkan di Indonesia dalam sehari? Bisakah sistem stiker diterapkan di Indonesia?

Jangan dipikir terlalu serius, ndak merusak mood liburan hehehe…

Topi Hijau, Maulid dan Natal

Sebelum kembali ke Wina siang ini, saya berkesempatan melihat-lihat kembali pusat kota Ljubljana. Meski bulan Desember hampir habis, salju juga belum juga turun. Matahari bersinar lumayan cerah membuat hawa musim dingin menjadi sedikit hangat.

Suasana Natal begitu terasa. Pohon Natal lumayan tinggi berdiri kokoh di depan katedral. Di sekelilingnya berdiri kios-kios yang menjual aneka pernak-pernik Natal. Tidak jauh dari katedral empat orang bertopi ala Sinterklas menyanyi lagu dalam irama ceria diiringi akordeon dan seruling.

Lalu saya melihat topi berwarna hijau dengan gambar bintang merah ini. Sekilas mirip topi tentara. Aku jatuh hati kepada topi ini pada pandangan pertama. Dan pada pandangan kedua, aku memutuskan membelinya.

“Rojen pod srečno zvezdo”. Tulisan dalam bahasa Slovenia ini tertera di lidah topi. Terjemahannya dalam bahasa Inggris tertera di bagian atas topi: born under under a lucky star.

Topi langsung aku pakai, menemaniku menyusuri sudut kota tua Ljubljana. Beberapa langkah dari kios penjual topi, saya baru sadar jika hari ini umat Islam memperingati kelahiran Nabi Muhammad dan sehari berikutnya umat Kristen merayakan kelahiran Yesus.

Ah, mungkin cuma kebetulan yang direka pikiran saya saja. Namun topi ini akan menjadi selalu pengingat saat hari lahir dua figur paling penting dalam sejarah manusia diperingati back to back.

Dulu saya menyambut hari lahir Nabi Muhammad dengan membaca dan melagukan syair dari kitab Al-Barzanji. Perjanjen, demikian orang-orang di kampung saya menyebutnya. Syair Al-Barzanji merupakan lantunan rasa bahagia menyambut kelahiran Nabi. Belum ada tradisi saling mengucapkan Selamat Maulid Nabi. Yang ada adalah lantunan doa Yaa Nabi salaam ‘alaika. Wahai utusan Allah semoga keselamatan selalu bersamamu.

Setelah merantau meninggalkan kampung halaman, saya mulai bertemu dengan sahabat-sahabat yang beragama Kristen. Sejak itu tradisi kebhinekaan bertambah satu lagi: mengucapkan Selamat Natal kepada teman dan sahabat yang merayakan.

Perayaan Maulid Nabi dan Natal yang berdampingan mengajarkan kepada kita bahwa perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Namun kita selalu memiliki kesempatan untuk menjadikan perbedaan sebagai nikmat dan anugerah. Bukan sebagai alasan untuk saling mengalahkan.

Yaa Nabi salaam ‘alaika, yaa Rasul salaam ‘alaika. Yaa habib salam ‘alaika, shalawatullah ‘alaika. Wahai nabi, rasul dan sang kekasih semoga keselamatan selalu bersamamu dan rahmat Allah selalu tercurah untukmu.

Untuk seluruh saudara dan sahabat yang beragama Kristen, Selamat Natal semoga damai selalu bersama kita semua.

(Tol A2 selepas kota Graz menuju ke Wina)

Nonton ‘Siti’ di Vienna Film Festival

Setelah sekian lama tidak menyaksikan film Indonesia, kemarin sore saya berkesempatan menonton sebuah film berjudul Siti di layar lebar. Kebetulan film besutan sutradara Eddie Cahyono produksi tahun 2014 ini diputar di ajang Viennale atau Vienna International Film Festival. Siti menjadi satu-satunya film karya sutradara Indonesia yang diikutkan dalam festival film tahunan di ibukota Austria ini. Oleh karenanya kesempatan menonton film ini sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja.

viennale2
Deskripsi film Siti di buku program Viennale.

Saat film mulai diputar, di layar terpampang adegan dalam format hitam putih. Saya berfikir format hitam putih hanya digunakan sebagai pembuka, untuk menambah kesan flashback yang kuat pada adegan yang menggambarkan masa lalu Siti sang tokoh utama. Berikutnya saya dengar dialog pembuka dalam bahasa Jawa. Lagi-lagi saya menduga penggunaan bahasa Jawa ini hanya sementara. Hanya untuk menegaskan setting film di pesisir selatan Yogyakarta.

Ternyata dugaan saya keliru. Format hitam putih dipakai di sepanjang film, menguatkan nuansa pahit getir kehidupan yang dijadikan tema utama film Siti. Hampir seluruh dialog juga diucapkan dalam bahasa Jawa. Penggunaan bahasa Jawa ini membuat suasana terbangun begitu sempurna, menggambarkan kondisi yang sebenarnya. Karena kebetulan berasal dari Jawa Tengah, saya tidak perlu melihat subtitlebahasa Inggris di layar untuk menghayati dialog di sepanjang film. Sementara tiga teman yang kebetulan lahir dan besar di Jakarta harus melihat subtitle agar bisa memahami dialog dengan sempurna.

Cerita film Siti menggambarkan secara lugas fenomena yang banyak dijumpai di kalangan bawah. Kali ini yang dimunculkan adalah kegetiran hidup sebuah keluarga nelayan. Bagus – suami Siti – mengalami kelumpuhan akibat kecelakaan saat melaut. Tidak hanya itu, kapal yang dibeli dengan uang pinjaman karam dalam kecelakaan itu. Akibatnya Siti harus berjuang mati-matian untuk melunasi pinjaman serta menghidupi Bagas, anak mereka satu-satunya yang duduk di bangku SD.

Penghasilan dari berjualan kerupuk jingking di pantai Parangtritis yang tidak seberapa membuat Siti harus mencari pekerjaan lain. Tidak tamat SMA, Siti tidak memiliki banyak pilihan. Bahkan mungkin tidak memiliki pilihan. Tuntutan hidup membuat Siti terpaksa bekerja sebagai pemandu lagu di warung karaoke remang-remang tidak jauh dari rumahnya. Sejak Siti bekerja sebagai pemandu lagu, Bagus suaminya tidak mau lagi berbicara dengan Siti.

Inti dari film ini adalah konflik batin Siti. Pada satu sisi dia masih mencintai suaminya Bagus yang saat ini hanya bisa terbaring lemah di tempat tidur. Namun di sisi lain di harus mencari uang untuk menyambung hidup dan melunasi hutang. Kemudian juga muncul tokoh Gatot – seorang bintara polisi yang jatuh hati dan mengajak Siti menikah. Meski sebenarnya kehadiran dan peran Gatot di film ini patut dipertanyakan. Jika memang dia mencintai Siti, kenapa dia – misalnya – tidak mengingatkannya untuk berhenti mencari nafkah di ‘kehidupan malam’. Kelihatannya sutradara perlu menambah tokoh untuk meningkatkan kerumitan konflik batin Siti.

Cerita berakhir dengan keberhasilan Siti mengumpulkan uang lima juta rupiah untuk membayar hutang. Gatot – sang polisi yang baik hati – memberi Siti uang. Juga pemilik warung karaoke yang setelah berdemonstrasi ke Polsek diizinkan lagi untuk membuka usahanya.

Pulang dalam keadaan mabuk dan sakit perut, Siti berkata kepada Bagus bahwa ada lelaki bernama Gatot yang mengajaknya menikah. Siti minta pendapat Bagus. Menjawab pertanyaan Siti, Bagus membuka suara – untuk pertama kalinya di sepanjang film – dan dengan nada getir mengizinkan Siti pergi. Mungkin karena kecewa mendengar jawaban tersebut, Siti meraung – maaf – “Asuuuu…” Dalam subtitle bahasa Inggris raungan Siti diterjemahkan sebagai – sekali lagi maaf – asshole.

Tertatih-tatih sambil menahan sakit di perut Siti mengambil uang dari lemari dan menyerahkan kepada ibu mertuanya. “Nggo mbayar kapal, Mbok”. Dia membangunkan Bagas anak satu-satunya namun Bagas menolak dengan alasan mau tidur karena besok haris ke sekolah. Siti keluar dari rumah di pagi buta. Sang ibu mertua tak kuasa menahannya.

viennale
Tiket nonton Siti di Bioskop Gartenbau, Vienna.

Saya lihat penonton – meski jumlahnya tidak begitu banyak – tidak ada yang beranjak dari kursi selama film diputar. Mereka tampak menikmati adegan demi adegan dalam film yang mengalir dan tidak membosankan. Sutradara patut diacungi jempol karena berhasil membangun cerita yang padat, tanpa dialog yang bertele-tele. Sutradara juga membuka mata penonton dan menunjukkan sisi lain dari kehidupan sehari-hari di Indonesia. Getir namun artistik. Sangat pantas jika film ini meraih penghargaan di festival film Hamburg (2015), Taipei (2015), dan Singapura (2014).

Saat beranjak dari kursi, saya menduga para penonton keluar bioskop sambil bertanya-tanya bagaimana nasib Siti selanjutnya. Film ditutup dengan adegan Siti yang dengan tertatih-tatih berhasil mencapai garis pantai. Apakah Siti akan melompat ke laut? Apakah sakit perutnya serius? Apakah sakit perut itu disebabkan oleh minuman keras oplosan yang ditenggaknya di tempat karaoke? Atau ibu mertuanya meminta bantuan para tetangga untuk mengejar Siti? Semua hanya bisa menduga dan menerka.

Siti adalah kisah hidup yang getir namun nyata dan masih banyak dijumpai di Indonesia. Siti adalah potret perempuan marjinal yang dipaksa oleh keadaan menjadi ujung tombak ekonomi keluarga. Dia harus bekerja meski batinnya menjerit karena menjadi pemandu lagu tidaklah sejalan dengan nuraninya.

Saya tidak tahu apa yang muncul di benak penonton Austria saat mereka menyaksikan rumah beralas tanah dan berdinding bambu tempat tinggal keluarga Siti. Juga peralatan rumah tangga yang begitu minim dan orang sakit yang terbaring di tempat tidur tanpa jaminan kesehatan. Bagi mereka yang hidup di negara maju dengan sistem jaminan sosial dan kesehatan yang tertata rapi, kehidupan yang dialami Siti mungkin dianggap sebagai dongeng. Padahal banyak Siti-Siti lain – bahkan dengan kondisi yang jauh lebih memprihatinkan – yang ada di Indonesia.

Angin dingin musim gugur senja itu segera menyambut saya saya keluar dari bioskop. Sepanjang perjalanan pulang saya terus berusaha menduga akhir kisah Siti. Saya berharap Bagus suaminya sembuh dan bisa kembali bekerja sebagai nelayan, Siti tidak lagi menjadi pemandu lagu, dan Bagas bisa lebih berkonsentrasi dalam belajar untuk mewujudkan cita-citanya sebagai pilot.