Azan Maghrib Terdengar di Masjid Cordoba

Tahun 2015 saya berkesempatan melancong ke Spanyol, menghabiskan empat hari di puncak musim panas yang terik. Dari aeroporto Madrid saya mengendarai mobil sewaan ke arah selatan, ke wilayah Andalusia.

Nama Andalusia sudah sering saya dengar. Nama yang identik dengan kejayaan Islam di benua Eropa di masa lalu. Beberapa buku tentang sejarah Andalusia juga pernah saya baca. Semakin banyak informasi yang saya gali, semakin besar rasa penasaran saya akan Andalusia.

Dan satu objek yang ingin saya kunjungi adalah Masjid Cordoba. Foto hitam putih salah satu sudut bangunannya saya lihat di sebuah buku sejarah saat duduk di bangku sekolah dasar. Foto itu menunjukkan lengkung yang menghubungkan pilar-pilar di dalam masjid. Begitu khas. Terlihat anggun tetapi juga kokoh.

Beberapa kali setelah itu – sejalan dengan akses informasi yang makin mudah didapat – saya melihat versi berwarna foto itu. Lengkung itu tidak putih dan abu-abu. Tetapi putih dan merah bata.

Saat melancong ke Andalusia saya melihat lengkung itu dalam wujud aslinya, berjejer di dalam ruangan yang temaram. Sinar matahari dibiarkan masuk sedikit saja, membuat kombinasi warna putih dan merah bata terasa begitu alami, menghadirkan suasana syahdu dan khidmat, suasana yang membuat jarak antara insan dan Sang Pencipta begitu dekat.

Lama saya tertegun. Keindahanan Masjid Cordoba adalah cermin sebuah peradaban yang tinggi tingkatannya. Sebuah karya seni yang keindahannya tidak lekang tergerus zaman.

Saya masih ingin berlama-lama duduk di dalamnya saat seorang petugas mengingatkan bahwa waktu kunjungan telah habis. Dengan berat hati berjalan ke arah pintu keluar, menuju penginapan tepat di sisi kiri masjid. Dari jendela kamar hotel Masjid Cordoba telihat begitu anggun, seperti sedang menunggu senja musim panas yang sebentar lagi turun.

Saat matahari tenggelam dan alam mulai redup suara adzan sayup-sayup terdengar. Sambil terkaget-kaget saya mulai bertanya dalam hati. Dari manakah asal suara adzan penanda waktu Maghrib itu? Mungkinkah dari Masjid Cordoba? Bukankah bangunan masjid itu – yang dulunya juga adalah geraja – saat ini sudah menjadi museum?

Dari penelurusan di internet saya mendapat informasi jika suara adzan itu berasal dari sebuah restauran tidak jauh dari masjid. Pemilik restauran yang memutar suara adzan itu. Awalnya tindakan pemilik restauran memutar adzan saat masuk waktu Mahgrib ditentang oleh sebagian warga kota Cordoba. Namun pengadilan memutuskan bahwa memutar suara adzan tidak melanggar aturan apapun sepanjang tidak menimbulkan kebisingan.

Saya kembali tertegun. Mungkinkah di masa lalu suara adzan itu terdengar setiap hari? Apakah warga di sekitar masjid berbondong-bondong memenuhi panggilan shalat?

Ah, betapa fana dunia ini. Tidak ada jaminan bahwa suatu hal atau peristiwa akan abadi. Seperti juga peradaban Islam yang mewarnai Spanyol selama hampir 700 tahun, yang tergusur pada tahun 1492, ditandai dengan penyerahan kunci kota Granada dari Sultan Abu Abdillah (atau Boabdil) kepada Ratu Isabella dan Raja Ferdinand penguasa Castilla.

Advertisements

Partai Alenka

Alenka. Bukan Alengka. Tidak ada kaitannya dengan Alengkadiraja, sebuah negeri di dunia pewayangan. Alenka di sini adalah seorang politisi perempuan Slovenia. Nama lengkapnya Alenka Bratusek.

Alenka muncul sebagai kuda hitam dalam pemilu Slovenia tahun 2013, di tengah suasana politik yang sedang carut-marut. Secara mengejutkan perempuan kelahiran 1970 ini terpilih sebagai perdana menteri, mengalahkan sejumlah politisi senior yang sudah punya nama. Alenka hanyalah seorang pegawai pemerintah yang tiba-tiba mencalonkan diri menjadi anggota parlemen. Tanpa pengalaman politik praktis sama sekali.

Terpilihnya Alenka menyiratkan dua hal. Pertama, rasa jengah publik Slovenia terhadap para politisi yang dipandang lebih mementingkan ego dan kepentingan pribadi. Ekonomi Slovenia terpukul saat krisis melanda Eropa tahun 2008. Saat ekonomi negara-negara lain mulai pulih, Slovenia tetap terpuruk. Para politisi dianggap tidak mampu mencari solusi. Bahkan menambah buruk keadaan.

Kedua, publik Slovenia ingin mencari figur baru. Figur yang bukan berasal dari kelompok politisi kawakan. Mereka berharap banyak kepada Alenka.

Jalan yang harus dihadapi ternyata tidak mudah. Sejak duduk di kursi perdana menteri pada bulan Maret 2013 Alenka kerap menghadapi masalah, mulai dari persoalan internal partai sampai persoalan dalam mengelola pemerintahan sehari-hari.

Alenka hanya mampu bertahan setahun lebih sedikit. Pada bulan April 2014 dia diminta mundur dari jabatannya sebagai pemimpin Partai Positive Slovenia. Selanjutnya dia mengundurkan diri dari jabatan perdana menteri. Rumus sederhananya: tidak etis bagi politisi yang kehilangan kepercayaan kolega partainya untuk tetap menduduki jabatan publik.

Alenka tidak menyerah. Dia membentuk partai baru untuk bertarung di pemilu yang digelar pada Mei 2014. Nama partainya Aliansi Alenka Bratusek. Alias Partai Alenka. Sayang sekali di pemilu Partai Alenka hanya meraih empat kursi. Tidak cukup signifikan untuk mewarnai politik Slovenia.

Sebelum mundur dari kursi perdana menteri Alenka menetapkan dirinya sendiri sebagai kandidat Wakil Ketua Komisi Eropa mewakili Slovenia. Namun pencalonannya gagal. Mayoritas anggota Komisi Eropa memberikan persetujuan. Mereka melihat Alenka tidak cukup kompeten menduduki jabatan itu.

Akhirnya Alenka kembali menjadi warga negara biasa. Partai Aliansi Alenka Bratusek berubah nama menjadi Aliansi Sosial Liberal Demokrat.

Publik Slovenia memilih figur baru – juga tanpa latar belakang politik – sebagai perdana menteri menggantikan Alenka. Namanya Miro Cerar, pengajar di Universitas Ljubljana. 

Kali ini publik tidak salah memilih. Miro Cerar terbukti kompeten. Sampai awal September 2017 dia masih duduk sebagai perdana menteri.

Nonton ‘Siti’ di Vienna Film Festival

Setelah sekian lama tidak menyaksikan film Indonesia, kemarin sore saya berkesempatan menonton sebuah film berjudul Siti di layar lebar. Kebetulan film besutan sutradara Eddie Cahyono produksi tahun 2014 ini diputar di ajang Viennale atau Vienna International Film Festival. Siti menjadi satu-satunya film karya sutradara Indonesia yang diikutkan dalam festival film tahunan di ibukota Austria ini. Oleh karenanya kesempatan menonton film ini sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja.

viennale2
Deskripsi film Siti di buku program Viennale.

Saat film mulai diputar, di layar terpampang adegan dalam format hitam putih. Saya berfikir format hitam putih hanya digunakan sebagai pembuka, untuk menambah kesan flashback yang kuat pada adegan yang menggambarkan masa lalu Siti sang tokoh utama. Berikutnya saya dengar dialog pembuka dalam bahasa Jawa. Lagi-lagi saya menduga penggunaan bahasa Jawa ini hanya sementara. Hanya untuk menegaskan setting film di pesisir selatan Yogyakarta.

Ternyata dugaan saya keliru. Format hitam putih dipakai di sepanjang film, menguatkan nuansa pahit getir kehidupan yang dijadikan tema utama film Siti. Hampir seluruh dialog juga diucapkan dalam bahasa Jawa. Penggunaan bahasa Jawa ini membuat suasana terbangun begitu sempurna, menggambarkan kondisi yang sebenarnya. Karena kebetulan berasal dari Jawa Tengah, saya tidak perlu melihat subtitlebahasa Inggris di layar untuk menghayati dialog di sepanjang film. Sementara tiga teman yang kebetulan lahir dan besar di Jakarta harus melihat subtitle agar bisa memahami dialog dengan sempurna.

Cerita film Siti menggambarkan secara lugas fenomena yang banyak dijumpai di kalangan bawah. Kali ini yang dimunculkan adalah kegetiran hidup sebuah keluarga nelayan. Bagus – suami Siti – mengalami kelumpuhan akibat kecelakaan saat melaut. Tidak hanya itu, kapal yang dibeli dengan uang pinjaman karam dalam kecelakaan itu. Akibatnya Siti harus berjuang mati-matian untuk melunasi pinjaman serta menghidupi Bagas, anak mereka satu-satunya yang duduk di bangku SD.

Penghasilan dari berjualan kerupuk jingking di pantai Parangtritis yang tidak seberapa membuat Siti harus mencari pekerjaan lain. Tidak tamat SMA, Siti tidak memiliki banyak pilihan. Bahkan mungkin tidak memiliki pilihan. Tuntutan hidup membuat Siti terpaksa bekerja sebagai pemandu lagu di warung karaoke remang-remang tidak jauh dari rumahnya. Sejak Siti bekerja sebagai pemandu lagu, Bagus suaminya tidak mau lagi berbicara dengan Siti.

Inti dari film ini adalah konflik batin Siti. Pada satu sisi dia masih mencintai suaminya Bagus yang saat ini hanya bisa terbaring lemah di tempat tidur. Namun di sisi lain di harus mencari uang untuk menyambung hidup dan melunasi hutang. Kemudian juga muncul tokoh Gatot – seorang bintara polisi yang jatuh hati dan mengajak Siti menikah. Meski sebenarnya kehadiran dan peran Gatot di film ini patut dipertanyakan. Jika memang dia mencintai Siti, kenapa dia – misalnya – tidak mengingatkannya untuk berhenti mencari nafkah di ‘kehidupan malam’. Kelihatannya sutradara perlu menambah tokoh untuk meningkatkan kerumitan konflik batin Siti.

Cerita berakhir dengan keberhasilan Siti mengumpulkan uang lima juta rupiah untuk membayar hutang. Gatot – sang polisi yang baik hati – memberi Siti uang. Juga pemilik warung karaoke yang setelah berdemonstrasi ke Polsek diizinkan lagi untuk membuka usahanya.

Pulang dalam keadaan mabuk dan sakit perut, Siti berkata kepada Bagus bahwa ada lelaki bernama Gatot yang mengajaknya menikah. Siti minta pendapat Bagus. Menjawab pertanyaan Siti, Bagus membuka suara – untuk pertama kalinya di sepanjang film – dan dengan nada getir mengizinkan Siti pergi. Mungkin karena kecewa mendengar jawaban tersebut, Siti meraung – maaf – “Asuuuu…” Dalam subtitle bahasa Inggris raungan Siti diterjemahkan sebagai – sekali lagi maaf – asshole.

Tertatih-tatih sambil menahan sakit di perut Siti mengambil uang dari lemari dan menyerahkan kepada ibu mertuanya. “Nggo mbayar kapal, Mbok”. Dia membangunkan Bagas anak satu-satunya namun Bagas menolak dengan alasan mau tidur karena besok haris ke sekolah. Siti keluar dari rumah di pagi buta. Sang ibu mertua tak kuasa menahannya.

viennale
Tiket nonton Siti di Bioskop Gartenbau, Vienna.

Saya lihat penonton – meski jumlahnya tidak begitu banyak – tidak ada yang beranjak dari kursi selama film diputar. Mereka tampak menikmati adegan demi adegan dalam film yang mengalir dan tidak membosankan. Sutradara patut diacungi jempol karena berhasil membangun cerita yang padat, tanpa dialog yang bertele-tele. Sutradara juga membuka mata penonton dan menunjukkan sisi lain dari kehidupan sehari-hari di Indonesia. Getir namun artistik. Sangat pantas jika film ini meraih penghargaan di festival film Hamburg (2015), Taipei (2015), dan Singapura (2014).

Saat beranjak dari kursi, saya menduga para penonton keluar bioskop sambil bertanya-tanya bagaimana nasib Siti selanjutnya. Film ditutup dengan adegan Siti yang dengan tertatih-tatih berhasil mencapai garis pantai. Apakah Siti akan melompat ke laut? Apakah sakit perutnya serius? Apakah sakit perut itu disebabkan oleh minuman keras oplosan yang ditenggaknya di tempat karaoke? Atau ibu mertuanya meminta bantuan para tetangga untuk mengejar Siti? Semua hanya bisa menduga dan menerka.

Siti adalah kisah hidup yang getir namun nyata dan masih banyak dijumpai di Indonesia. Siti adalah potret perempuan marjinal yang dipaksa oleh keadaan menjadi ujung tombak ekonomi keluarga. Dia harus bekerja meski batinnya menjerit karena menjadi pemandu lagu tidaklah sejalan dengan nuraninya.

Saya tidak tahu apa yang muncul di benak penonton Austria saat mereka menyaksikan rumah beralas tanah dan berdinding bambu tempat tinggal keluarga Siti. Juga peralatan rumah tangga yang begitu minim dan orang sakit yang terbaring di tempat tidur tanpa jaminan kesehatan. Bagi mereka yang hidup di negara maju dengan sistem jaminan sosial dan kesehatan yang tertata rapi, kehidupan yang dialami Siti mungkin dianggap sebagai dongeng. Padahal banyak Siti-Siti lain – bahkan dengan kondisi yang jauh lebih memprihatinkan – yang ada di Indonesia.

Angin dingin musim gugur senja itu segera menyambut saya saya keluar dari bioskop. Sepanjang perjalanan pulang saya terus berusaha menduga akhir kisah Siti. Saya berharap Bagus suaminya sembuh dan bisa kembali bekerja sebagai nelayan, Siti tidak lagi menjadi pemandu lagu, dan Bagas bisa lebih berkonsentrasi dalam belajar untuk mewujudkan cita-citanya sebagai pilot.

Nikmatnya Angsa Panggang Khas Slovakia

Kuliner khas suatu kota atau daerah selalu menjadi ‘destinasi’ wisata yang wajib dicoba. Selain maknyus dan membuat kenyang, sering ada cerita menarik di balik terciptanya kuliner khas tersebut. Akhir pekan lalu saya dan sejumlah teman berwisata kuliner merasakan nikmatnya nikmatnya angsa panggang khas daerah Slovensky Grob – wilayah pedesaan berjarak sekitar 30 kilometer arah timur laut dari ibukota Slovakia Bratislava. Musim gugur atau autumn dikenal sebagai goose and duck feast season, saat paling tepat untuk menikmati menu bebek dan angsa.

Jam 11 pagi kami berangkat dari kota Vienna, Austria menuju Bratislava menggunakan mobil. Jarak antara dua ibukota negara ini sekitar 80 kilometer – kurang lebih sama dengan jarak Jakarta-Cikampek. Melewati jalan bebas hambatan, perjalanan Vienna-Bratislava kami tempuh sekitar satu jam. Artinya dalam waktu satu jam kami sudah berpindah negara, sementara di Jakarta dalam satu jam saya baru bisa berpindah dari Gambir ke Pancoran. 🙂

Grob02
Angsa panggang khas Slovakia saat dihidangkan.

Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit dari Bratislava, kami tiba di restauran yang menjadi TKP. Separuh perjalan melalui jalan bebas hambatan, selebihnya kami melewati daerah pertanian. Sampai di restauran kami dipersilakan menuju ruangan di bawah tanah. Maklum, anggota rombongan ‘berburu angsa’ berjumlah 28 orang. Dan ternyata restauran tersebut memiliki ruangan di bawah tanah yang mampu menampung 30 orang.

Oh ya, kami telah melakukan pemesanan satu hari sebelum kunjungan lewat telepon. Tidak hanya untuk memastikan ketersediaan tempat, tetapi juga memberi waktu bagi restauran untuk menyiapkan hidangan. Proses memanggang angsa memakan waktu yang cukup lama. Nggak lucu jika pengunjung tiba-tiba datang dan harus terkantuk-kantuk menunggu proses pemanggangan.

Singkat kata, pramusaji menerangkan urutan hidangan yang akan disajikan. Pertama akan disajikan hati angsa bersama salad dan roti. Berikutnya menu utama angsa panggang. Terakhir hidangan penutup – jika masih ada kavling yang tersisa di perut.

Grob01
Hidangan pembuka: hati angsa, salad dan roti.

Tanpa harus menunggu lama, hati angsa dihidangkan. Tidak disajikan utuh tetapi diiris tipis-tipis. Teksturnya empuk dan lembut. Ibaratnya tidak perlu dikunyah sudah lumer dengan sendirinya di mulut. Salad yang disajikan adalah zucchini, irisan kol, irisan paprika dan cabai yang sudah diawetkan dalam larutan asam atau cuka (pickled). Sambil menikmati enaknya hati angsa, saya berkesimpulan salad disajikan sebagai pendamping untuk menetralisir rasa hati angsa.

Setelah urusan hati selesai tibalah saat menikmati menu utama. Website restauran menyebutkan satu ekor angsa panggang cukup untuk dinikmati oleh 4-5 orang. Berdasarkan informasi ini kami memutuskan memesan 5 ekor angsa. Melihat angsa panggang sudah terhidang, ingatan saya melayang ke masa kanak-kanak. Seperti anak-anak yang lain, saya jeri dengan angsa. Selain ukurannya yang besar, angsa juga termasuk unggas yang agresif. Mereka berani mengejar dan nyosor siapa pun yang dianggap mengganggu. Namun karena yang terhidang adalah daging angsa nan menggugah selera, rasa takut itu hilang sudah.

Grob03
Satu potong besar angsa panggang.

Setelah dipanggang kulit angsa menjadi renyah sementara dagingnya menjadi empuk. Rasa kulit angsa asin dan gurih, mirip kerupuk. Daging angsa terasa lembut dan tidak alot saat dipotong maupun dikunyah. Rasa daging angsa mirip dengan dading bebek yang banyak menjadi menu kuliner Indonesia. Namun jika di tanah air bebek umumnya digoreng atau dibakar lalu dihidangkan dengan nasi hangat kebul-kebul dan sambal, di sini angsa panggang kami santap dengan roti yang bentuknya mirip roti prata. Tidak ada sambal. Mungkin karena tambahan rasa yang terlalu pedas justru ‘merusak’ rasa asli daging angsa. Karena proses pemanggangan yang lama, bumbu – yang entah terdiri dari apa saja – juga meresap ke dalam daging.

Sambil makan saya lihat anggota rombongan mulai ‘bersusah-payah’ menghabiskan daging angsa di depan mereka. Bayangkan saja lima ekor angsa disajikan dalam potongan besar-besar. Mungkin setara dengan 10-12 ekor ayam. Alhasil, di akhir jamuan masih tersisa beberapa potong besar angsa yang kami bungkus dan bawa pulang.

Grob05
Suasana ‘berburu angsa’.

Menurut cerita, tradisi menikmati angsa panggang sudah berumur lebih dari seratus tahun. Tradisi ini bermula saat kondisi ekonomi memburuk. Para istri peternak unggas berusaha mencari penghasilan tambahan karena lesunya penjualan daging mentah. Mereka mulai memanggang angsa dan menjajakannya dari rumah ke rumah. Lama-kelamaan angsa panggang dari desa Slovensky Grob ini mulai dikenal luas di area Bratislava dan orang-orang mulai mendatangi desa tersebut. Awalnya angsa panggang tidak dijual di restauran, tetapi di rumah-rumah penduduk. Lambat laun restauran dibuka. Untuk mempertahankan tradisi, restauran umumnya dibangun dalam bentuk menyerupai rumah. Sekarang angsa panggang menjadi salah satu menu wajib wisata kuliner di Bratislava.

Grob06
Bratislava selepas senja.

Akhirnya enjelang sore kami mengakhiri acara ‘berburu angsa’ dengan perut kenyang dan rasa puas. Rasa penasaran akan angsa panggang Slovensky Grob terjawab sudah. Sebelum kembali ke Vienna, kami menghabiskan sisa sore itu di Bratislava.

Dalam perjalanan pulang ke Vienna sayup-sayup terdengar lagu ‘Potong Bebek Angsa’, theme song perjalanan wisata kuliner akhir pekan ini. 🙂

Sejuta Warna Musim Gugur di Eropa

zellamsee05

Musim gugur, saat udara cerah, adalah waktu yang tepat untuk menikmati keindahan alam di negara dengan empat musim. Di musim gugur atau autumn alam seperti bersolek, berubah menjadi penuh warna. Dedaunan berubah dari hijau menjadi kuning atau merah. Daun yang rontok membentuk hamparan seperti permadani. Perpaduan warna kuning keemasan dan merah yang merona.

Akhir pekan lalu saya dan beberapa rekan kerja plus keluarga berkonvoi menyusuri jalanan Austria untuk menikmati indahnya musim gugur. Perjalanan dimulai dari kota Vienna hari Sabtu pagi, berhenti untuk piknik makan siang di tepi Danau Hallstatt, lalu ke Zell am See – sebuah kota kecil di negara bagian Salzburg. Setelah menginap semalam di Salzburg, hari Minggu pagi rombongan terpecah menjadi dua. Kelompok pertama memilih untuk mendaki pegunungan Schmitten, kelompok kedua meneruskan perjalanan ke kota Hallein dan Salzburg. Perkiraan jarak tempuh perjalanan ini menurut Google Maps adalah 806 kilometer.

Rute perjalanan menikmati keindahan musim gugur.
Rute perjalanan menikmati keindahan musim gugur.

Mengendarai enam mobil, kami berangkat dari Vienna hari Sabtu jam 9 pagi. Destinasi pertama adalah rest area di tepi Danau Hallstat, sekitar 280 kilometer dari titik start. Sesuai kesepakatan, setiap keluarga membawa bekal makan siang untuk dinikmati bersama di tepi danau.

Pemandangan di tepi jalan antara Vienna dan Hallstat.
Pemandangan di tepi jalan antara Vienna dan Hallstat.

Keluar dari kota Vienna kami disambut dengan pemandangan warna-warni. Kuning dan merah dedaunan terselip di antara pohon-pohon cemara yang tetap setia dengan warna hijau. Indahnya pemandangan di kanan-kiri jalan serta kondisi jalanan yang mulus dan bebas macet membuat waktu tiga jam berkendara seperti tidak terasa. Sekitar jam 12 siang rombongan tiba di tepi Danau Hallstatt. Pemberhentian pertama adalah rest area yang dilengkapi taman serta bangku dan meja kayu. Tempat ideal untuk menikmati makan siang.

Pemandangan dari tepi Danau Hallstatt.
Pemandangan dari tepi Danau Hallstatt.

Turun dari mobil, anak-anak berhamburan menuju tepi danau. Ibu-ibu mulai menata bekal makan siang di atas meja kayu di tengah taman. Bapak-bapak – yang dalam perjalanan ini berperan sebagai sopir – duduk bergerombol, bertukar cerita tentang kondisi jalanan di etape pertama.

Setelah perbekalan semua digelar, acara makan siang pun dimulai. Karena yang ikut jalan-jalan adalah orang Indonesia, makanan yang tersaji juga mirip menu piknik di Ancol. Tersedia nasi, telor dan ayam balado, oseng ikan asin, pepes ikan, ayam goreng, asinan, sambal andaliman, dan masih banyak lagi. Rute boleh belantara Eropa tapi soal makanan kami tetap cinta Indonesia. 🙂

zellamsee03
Jalan kampung ala Austria.

Selesai menikmati makan siang kami melanjutkan perjalanan etape kedua. Tentu saja bangku dan meja taman kami tinggalkan dalam keadaan rapi seperti semula. Setiap orang bertanggung jawab membuang sampah masing-masing. Tempat-tempat sampah disediakan di pinggir taman. Jadi tidak ada alasan untuk meninggalkan taman dalam keadaan kotor.

Di etape kedua ini kami menyusuri jalan kecil alias jalan kampung, menurun dan mendaki di sela perbukitan. Warna hijau hutan cemara mendominasi area perbukitan. Dedaunan tidak berubah warna dan juga tidak rontok pada musim dingin. Karenanya hutan di pegunungan sering disebut evergreen forest alias hutan yang selamanya hijau.

Setelah menempuh jarak sekitar 110 kilometer dalam waktu dua jam, kami tiba di penginapan di Zell am See. Di depan penginapan terhampar danau Zeller dan di seberang danau terlihat Pegunungan Schmitten yang sudah dibalut salju. Menyaksikan pemandangan yang indah, setelah check-in kami bergegas ke tepi danau. Setelah sibuk dengan foto bersama, selfie, unggah foto ke media sosial, kami berjalan menyusuri tepi danau sambil menunggu mentari tenggelam. Suasana lengang di tepi danau yang cantik dan bersih membuat kami betah berlama-lama meski hawa dingin mulai terasa menusuk tulang.

Danau Zell am See.
Danau Zell am See.

Hari mulai gelap saat kami berjalan kaki kembali ke penginapan. Acara selanjutnya adalah makan malam bersama dengan menu spesial: ikan forelle panggang. Menurut pengelola penginapan, ikan-ikan yang dihidangkan malam ini dipancing dari danau siang tadi. Jadi dijamin sangat segar dan seratus persen bermuatan lokal. Jika makan siang tadi bertema selera Nusantara, makan malam kali ini bernuansa Eropa. Meski begitu tetap saja ada yang mengeluarkan botol saus sambal. Kurang mantap kalau cuma pedas merica, katanya. No sambal no fun!

Salah satu sudut kota Hallein.
Salah satu sudut kota Hallein.

Di hari kedua, rombongan terpisah menjadi dua. Setelah check out saya dan tiga keluarga lain melanjutkan perjalan ke kota tua Hallein – sekitar satu jam perjalanan dari penginapan. Hallein adalah kota tua dan pada masa lalu dikenal sangat makmur gemah ripah loh jinawi. Zaman dulu Hallein adalah penghasil garam dan zaman itu garam adalah komoditi yang mahal harganya. Tidak heran jika timbul peperangan yang dipicu oleh perebutan wilayah yang menghasilkan garam. Uang hasil perdagangan garam digunakan penduduk Hallein untuk membangun kota mereka. Alhasil, Hallein menjadi salah satu kota paling maju di zamannya.

Jika boleh jujur, tidak ada yang terlalu istimewa di kota Hallein – selain riwayat masa lalu yang gilang-gemilang. Namun karena promosi yang ditata dengan baik di dunia maya membuat banyak orang tertarik untuk mendatangi kota ini. Termasuk kami, tentu saja. Pelajaran yang dapat dipetik hari ini: jangan kepalang tanggung dalam mempromosikan wisata. Tapi tentu saja promosi yang bertanggung jawab. Promosi juga diikuti dengan penyediaan fasilitas untuk pengunjung serta kebersihan yang terjaga.

Perjalanan dari Hallein ke Salzburg.
Perjalanan dari Hallein ke Salzburg.

Dari Hallein kami bergerak menuju Salzburg, sekitar 20 kilometer ke arah utara. Salzburg merupakan salah satu destinasi wisata utama Austria. Selain dikenal sebagai kota kelahiran komponis Mozart, Salzburg juga indentik dengan film The Sound of Music.

Hari Minggu itu kota tua terlihat ramai dan dipenuhi pelancong. Setelah memarkir mobil, kami berjalan menyusuri kota tua – melewai depan rumah tempat Mozart dilahirkan sampai ke katedral.

Deretan bendi di kota tua Salzburg.
Deretan bendi di kota tua Salzburg.

Meski banyak pelancong berkunjung, toko-toko tetap tutup di hari Minggu. Yang diperbolehkan buka hanya toko souvenir, restauran, warung makan, dan cafe. Sering saya tidak habis pikir. Bagi orang Austria uang mungkin bukan segalanya. Jika buka di hari Minggu pasti para pelancong yang jumlahnya ribuan itu akan berbelanja. Namun orang Austria memilih mempertahankan nilai yang selama ini mereka anut. Minggu adalah hari untuk keluarga.

Kuningisasi.
Kuningisasi.

Setelah puas menikmati suasana menjelang sore di Salzburg, kami melanjutkan perjalanan ke Vienna. Jarak Salzburg-Vienna sekitar 300 kilometer. Artinya kami perlu waktu sekurang-kurangnya tiga jam untuk sampai ke Vienna – plus waktu untuk makan malam dan rehat di perjalanan.

Demikian cerita perjalanan menikmati warna-warni musim gugur di Austria akhir pekan lalu. Menyenangkan dan menjadi pengalaman baru. Terima kasih sudah mampir dan selamat menikmati rakhir pekan.

zellamsee04
Danau Zeller di saat musim gugur.

Pesona Andalusia (3): Semalam di Sevilla

Setelah menghabiskan setengah hari di kompleks Alhambra, kami meneruskan perjalanan ke Sevilla. Sebenarnya masih ada destinasi lain di Granada yang ingin kami singgahi yaitu Albayzin – sebuah neighbourhood yang suasananya dipertahankan seperti zaman Islam. Sayang sekali waktu sudah hampir beranjak sore. Sementara kami masih harus menempuh perjalanan darat sepanjang 250 kilometer ke arah barat. Terpaksa kunjungan ke Albayzin tidak jadi terlaksana.

Sekitar jam 2 siang kami bergerak menuju Sevilla. Seperti dari Madrid ke Granada, jalan dari Granada ke Sevilla juga mulus. Jalan bebas hambatan dua lajur yang kami lewati terasa sepi. Suasana begitu lengang karena di puncak musim panas warga setempat jarang bepergian. Selain mulus dan lengang, berkendara di jalan bebas hambatan ini bebas biaya alias gratis.

sevilla01
La Giralda.

Sekira separuh pejalanan, kami berhenti di gas station untuk mengisi bensin. Istri dan anak-anak juga perlu ke kamar kecil. Sebelum ke kasir untuk membayar bensin, saya berputar melihat barang-barang yang dijajakan di kios kecil di gas station. Niatnya mencari makanan kecil untuk teman di perjalanan. Pandangan saya tertuju ke kerupuk dalam kemasan plastik di salah satu rak. Bentuknya mirip benar dengan kerupuk yang banyak dijual di Indonesia. Benar saja, begitu dibuka di mobil ketahuan jika kerupuk ini terbuat dari beras dan rasanya mirip kerupuk puli.

Sekitar pukul 5 sore kami tiba di penginapan. Hotel tempat kami bermalam di Sevilla dapat disebut spesial. Pertama karena gratis alias saya tidak perlu mengeluarkan uang sepeserpun untuk menginap. Saya cukup membayar dengan point dari kartu milleage sebuah maskapai penerbangan. Kedua, letak hotel tepat di sebelah stadion Ramon Sanchez Pizjuan kandang klub Sevilla FC. Tidak perlu jalan jauh kalau ingin mencari souvenir dan kaos bola.

Karena masih ada tenaga dan suasana masih terang-benderang (matahari baru akan terbenam jam 9 malam), setelah check-in kami memutuskan untuk pergi ke kota tua Sevilla. Lokasi kota tua tidak begitu jauh dari hotel, hanya perlu 7-10 menit dengan bis. Tujuan utama kami adalah melihat La Giralda – salah satu ikon kota Sevilla.

sevilla02
Cafe di seberang Katedral Sevilla.

Kami turun di taman di sebelah bekas kompleks istana Real Alcazar. Setelah melewati taman, kami berjalan menyusuri lorong-lorong kecil di antara bangunan-bangunan dengan arsitektur khas Islam. Saya belum pernah ke Afrika Utara. Mungkin suasana di kota tua Sevilla ini mirip dengan suasana di kota dan perkampungan di sana. Aroma Islam dan Arab begitu terasa di sepanjang lorong.

Sekitar satu jam menyusuri lorong dan keluar masuk beberapa toko souvenir, kami tiba di bawah halaman katedral. La Giralda – menara yang ingin kami kunjungi – terlihat berdiri kokoh menjulang menempel di sisi katedral. 

Menurut catatan sejarah, La Giralda selesai dibagun pada tahun 1198 sebagai menara atau minaret dari masjid Sevilla. Menyusul jatuhnya penguasa Muslim Sevilla, masjid Sevilla beralih fungsi menjadi katedral. La Giralda tetap dipertahankan dengan sedikit perubahan. Bagian atas menara diubah sehingga tidak lagi berbentuk kubah. Fungsinya juga diubah menjadi bell tower.

sevilla05
La Giralda dilihat dari arah Alcazar.

Dari katedral kami berencana mengunjungi bekas istana Alcazar. Sampai di depan gerbang kami mendapatkan informasi bahwa Alcazar hanya buka sampai jam 7 malam. Melirik arloji rupanya sudah jam 7.30 malam meski suasana masih terang-benderang. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan menyusuri Calle Alemanes sambil menikmati suasana kota Sevilla. Karena sudah masuk waktu makan malam, kami menghabiskan waktu satu jam berikutnya untuk menikmati paella alias nasgor ala Espana dan tapas.

sevilla03
Pintu gerbang Alcazar.

Selesai makan malam kami melanjutkan perjalanan ke stasiun metro untuk kembali ke hotel. Sebenarnya masih banyak destinasi wisata menarik yang di Sevilla. Sayang sekali kami hanya menginap semalam sehingga hanya sebagian kecil yang dapat kami sambangi. Anak-anak juga sudah mulai terlihat lelah karena sudah berjalan jauh sejak pagi hari.

sevilla04
Salah satu sudut kota Sevilla.

Sampai di hotel, acara berikutnya adalah rehat untuk mengusir penat. Setelah berisitirahat semalam di Sevilla, sebelum melanjutkan perjalanan kami mampir ke toko milik klub Sevilla FC, tepat di samping stadion.

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya: Cordoba.

sevilla06
Lorong dengan pintu masuk model kubah.




Berjabat Tangan dengan Presiden Austria

Senin ini, 26 Oktober 2015, rakyat Austria merayakan Hari Nasional mereka. Enampuluh tahun lalu, 26 Oktober 1955, konstitusi Austria ditandatangani – menandai terbentuknya negara Republik Austria.

Berbagai kegiatan diselenggarakan untuk merayakan hari bersejarah ini. Salah satunya adalah open house yang digelar di kediaman resmi Presiden. Kegiatan ini sudah menjadi semacam tradisi. Tidak hanya membuka kediaman resmi untuk semua kalangan, Presiden Austria Heinz Fischer dan istri juga menyalami tamunya satu per satu. Sesi jabat tangan selesai diteruskan dengan acara foto bersama. Tidak sehari penuh, tentu saja. Open house digelar dari jam 14 sampai jam 16.

image
Antrian menuju pintu gerbang istana presiden.

Kebetulan tidak ada acara lain, saya ajak istri dan anak-anak untuk ikut open house di kompleks istana Presiden. Melihat udara yang cerah dan suhu yang cukup bersahabat, saya membayangkan banyak orang yang akan datang ke acara ini.

Benar saja. Pintu belum dibuka, antrian sudah mengular. Tidak ingin menunggu lebih lama lagi, kami segera masuk ke barisan antrian.

Tepat jam 14 pintu dibuka, antrian mulai bergerak. Namun antrian bergerak sangat lambat. Kami butuh satu setengah jam bagi untuk bisa sampai ke depan pintu masuk kediaman Presiden. Untunglah pengunjung mengantri dengan tertib. Tidak ada yang menyerobot antrian. Tidak juga diperlukan petugas khusus untuk mengatur antrian. Tertib mengantri sudah menjadi makanan sehari-hari warga Austria.

image
Antrian di dalam istana.

Panitia open house menerapkan sistem buka-tutup. Setiap sekira sepuluh menit, 15 sampai 20 pengunjung dipersilakan masuk melalui gerbang utama. Di balik gerbang terdapat empat titik pemeriksaan keamanan. Isi tas diperiksa dan pengunjung harus melewati metal detector. Untuk ukuran kediaman presiden, pengamanan tidak terlihat berlebihan. Gerbang masuk, sebagai contoh, hanya dijaga oleh dua personel kepolisian.

Selesai melewati pemeriksaan keamanan, setiap kelompok disambut oleh seorang guide. Kelompok tempat saya keluarga bergabung disambut oleh guide bernaman Gunther. Dia bertugas memandu dan memberikan informasi tentang kediaman Presiden berikut ruangan-ruangan yang akan kami lewati.

Awalnya saya mengira perjalanan dari pintu gerbang sampai dengan jabat tangan dengan Presiden tidak akan memakan waktu lama. Ternyata perlu waktu hampir 45 menit. Kadang kelompok kami harus berhenti, menyesuaikan dengan pergerakan kelompok di depan kami. Sambil menunggu giliran mendekat ke arah ruangan tempat Presiden menyalami tamunya, kami mendengarkan penjelasan dari Gunther.

image
Salah satu ruangan di istana.

Tiga atau empat ruangan yang begitu megah kami lewati. Pada masa lalu kompleks Istana Hofburg – tempat kediaman Presiden berada – adalah kediaman Kaisar Austria. Kita tahu, sebelum berubah menjadi republik, Austria adalah kekaisaran. Sampai dengan awal abad ke-20 Austria adalah negara besar, salah satu yang terkuat di Eropa. Tidak mengherankan jika negeri ini memiliki banyak istana yang besar dan megah dengan interior yang sangat indah.

Setelah empat ruangan dilalui, akhirnya saya dan keluarga mendapat kesempatan berjabat tangan dengan Presiden Fischer. Setelah mengucapkan selamat, saya memperkenalkan diri sebagai orang Indonesia yang telah tiga tahun tinggal di Austria. Dengan ramah Pak Presiden menanyakan bagaimana kesan kami selama tinggal di Austria. Saya jawab sangat menyenangkan. Pak Presiden tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Setelah berfoto bersama, saya berpamitan dan mengucapkan selamat sekali lagi.

image
Pak Presiden terlihat di cermin sedang bersalaman dengan pengunjung open house.

Menuju pintu keluar, seorang petugas memberikan secarik kertas seukuran kartu pos. Isinya adalah ucapan terima kasih dan informasi bahwa foto-foto dengan Presiden dapat diunduh di laman resmi Presiden dan akun Facebook yang dikelola staf kepresidenan.

image
Anggota angkatan bersenjata memainkan musik klasik menjelang pintu keluar.

Kami berjabat tangan jam 16.30 atau lewat 30 menit dari batas akhir waktu open house. Sementara di belakang kami antrian masih lumayan panjang. Bisa jadi Pak Presiden masih harus menyambut dan berfoto dengan tamu-tamu satu jam ke depan. Salut untuk stamina dan kesabaran beliau yang sudah lumayan sepuh.

image
Ucapan terima kasih.

Demikian cerita tentang jabat tangan dengan Presiden Austria hari ini. Tradisi tahunan ini memberikan gambaran tentang bagaimana seorang Presiden Austria menjalin hubungan dengan rakyatnya dipimpinannya. Meski ada aturan protokoler, acara open house berlangsung dalam suasana santai. Meski Pak Presiden memakai jas lengkap, tidak ada dress code untuk pengunjung. Ada yang mengenakan paikaian formal, sebagian besar – termasuk saya – berbusana kasual.

Rasa pegal di kaki setelah berdiri lebih dari tiga jam seperti hilang saat kami membuka laman resmi Presiden. Foto di istana sudah diunggah hanya berselang dua jam setelah saya dan keluarga berjabat tangan dengan Presiden. Foto dengan resolusi tinggi juga disediakan untuk diunduh.

Banyak hal yang saya dapat hari ini. Budaya tertib mengantri. Seorang presiden yang dekat dengan rakyatnya. Cara mengatur acara secara rapi. Juga menyediakan informasi secara cepat dan efisien.

Selamat merayakan Hari Nasional dan Dirgahayu Austria!