Penangkapan Diponegoro

Tahun 1990, atau 1991, saya berkesempatan mengunjungi rumah tempat Pangeran Diponegoro ditangkap Belanda. Terletak di sisi barat kota Magelang, rumah yang kini difungsikan sebagai museum berada di lingkungan yang asri. Dari halaman rumah terhampar pemandangan indah lereng Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Setelah lima tahun berperang, Diponegoro memutuskan menerima ajaka Belanda untuk berunding. Ternyata ajakan…

Sapu Tangan dan Perjuangan

Beberapa waktu lampau sapu tangan adalah benda penting. Bukan hanya karena fungsinya, tetapi juga karena nilainya sebagai pengikat memori. Setidaknya itu yang tersirat dari beberapa lagu  jadul. Sapu Tangan dari Bandung Selatan adalah salah satu contoh. Lagu ini berkisah tentang asmara yang berkobar di tengah perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Seperti pergulatan antara cinta kepada kekasih dan…

Nonton ‘Siti’ di Vienna Film Festival

Setelah sekian lama tidak menyaksikan film Indonesia, kemarin sore saya berkesempatan menonton sebuah film berjudul Siti di layar lebar. Kebetulan film besutan sutradara Eddie Cahyono produksi tahun 2014 ini diputar di ajang Viennale atau Vienna International Film Festival. Siti menjadi satu-satunya film karya sutradara Indonesia yang diikutkan dalam festival film tahunan di ibukota Austria ini. Oleh karenanya kesempatan…

Liga Kurusetra

Tahun 1994 muncul tabloid GO, kepanjangan dari Gema Olahraga. Bersaing dengan tabloid olahraga yang sudah ada sebelumnya, Tabloid GO menghadirkan fitur baru sebagai pembeda. Salah satunya adalah halaman untuk cerita pendek alias cerpen. Melihat ada halaman untuk cerpen, saya berangan-angan mengirimkan cerpen ke tabloid GO. Akhirnya ide terkumpul dan selesailah draft cerpen ‘Liga Kurusetra’. Karena…

Ramadhan di Kampung (3)

Bagi kami anak-anak yang hidup di sebuah dusun terpencil, siklus hidup hanya berputar di sekitar tempat kami tinggal. Tak banyak di antara kami yang memiliki kesempatan melihat kehidupan di luar dusun. Karenanya apa yang datang dari luar selalu menarik perhatian. Terlebih jika yang datang itu berasal dari ‘kota’. Bagi kami kota adalah tempat yang jauh…

Ramadhan di Kampung (2)

Orang-orang di dusun kami menyebut tradisi ini ‘Srakal’. Setelah shalat tarawih dan witir serta pembacaan doa selesai, jamaah bersama-sama melantunkan niat puasa dalam bahasa Arab diikuti terjemahannya dalam bahasa Jawa. Niat puasa diucapkan dengan irama dan hentakan yang khas dan penuh semangat. Selesai mengucapkan niat puasa, jamaah tarawih berdiri membentuk formasi lingkaran. Pada saat bersamaan…

Ramadhan di Kampung (1)

Saat masuk bulan Ramadhan seperti sekarang, ingatan saya selalu terbang mengenang puasa di kampung halaman tigapuluh tahun silam. Kenangan yang berserak nun jauh di sebuah dusun di kaki Gunung Slamet pada paruh kedua 1980-an. Dusun yang selalu terkurung dalam gelap ketika malam tiba. Meski terletak di Pulau Jawa, seratus tahun setelah pemerintah kolonial Hindia Belanda…

Cerita Buah Mundu

Hari Sabtu kemarin saya membeli dua kilogram buah apel berwarna hijau kekuningan. Atau kuning kehijauan, terserah. Difoto dengan smartphone, ternyata bagus juga hasilnya. Saat menikmati apel yang renyah dan manis ini, tiba-tiba saya teringat buah mundu saat kecil dulu. Melirik wikipedia, nama latin buah mundu adalah ‘garcinia dulcis’. Katanya buah ini asli Indonesia, bukan pendatang….

Kereta Api Kenangan

Jalan kereta api rute Purwokerto-Cirebon melintang di ujung selatan desaku. Lokasinya di dekat area perawahan – jauh dari pemukiman penduduk. Jalan kereta yang dibangun Belanda itu meliuk di antara dua gundukan bukit, lalu melintasi sungai yang menjadi batas dengan desa sebelah. Meski setiap hari melintas dalam jumlah puluhan, kereta merupakan sosok asing bagiku. Juga bagi…

Marak

Menghabiskan masa kecil di sebuah desa di kaki Gunung Slamet, saya beruntung menjumpai tradisi menangkap ikan di sungai dengan cara ‘marak’. Sampai dengan awal 1980-an, air Sungai Mengaji di sisi timur desa masih mengalir jernih. Sungai Mengaji juga dipenuhi bebatuan dengan berbagai bentuk dan ukuran. Batu-batu itu mungkin dimuntahkan oleh Gunung Slamet saat meletus di…

Teh Jahe

Syahdan, tenda angkringan yang bertebaran di setiap sudut kota Jogja selalu memiliki tiga buah ‘ceret’ – tempat menjerang air. Ceret pertama berisi air putih, ceret nomor dua berisi seduhan teh kental, dan ceret nomor tiga berisi air jahe. Ketiganya diletakkan di atas tungku arang – biasanya di bagian kanan gerobak angkringan. Jika pengunjung memesan kopi,…

Lebaran tiba

Ah, sehari menjelang lebaran. Aku terkenang dusunku nun jauh di sana, tersenyum menyambut kehadiran anak-anaknya dari perantauan. Aku tahu apa yang dikerjakan para perantau itu. Menyusuri jalan dusun selepas subuh, menggandeng anak-anak mereka. Tanpa jemu para perantau itu bercerita. Tentang pematang sawah tempat mereka berlarian saat kanak-kanak. Tentang sungai berair jernih tempat mereka menghabiskan waktu…