Nonton ‘Siti’ di Vienna Film Festival

Setelah sekian lama tidak menyaksikan film Indonesia, kemarin sore saya berkesempatan menonton sebuah film berjudul Siti di layar lebar. Kebetulan film besutan sutradara Eddie Cahyono produksi tahun 2014 ini diputar di ajang Viennale atau Vienna International Film Festival. Siti menjadi satu-satunya film karya sutradara Indonesia yang diikutkan dalam festival film tahunan di ibukota Austria ini. Oleh karenanya kesempatan menonton film ini sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja.

viennale2
Deskripsi film Siti di buku program Viennale.

Saat film mulai diputar, di layar terpampang adegan dalam format hitam putih. Saya berfikir format hitam putih hanya digunakan sebagai pembuka, untuk menambah kesan flashback yang kuat pada adegan yang menggambarkan masa lalu Siti sang tokoh utama. Berikutnya saya dengar dialog pembuka dalam bahasa Jawa. Lagi-lagi saya menduga penggunaan bahasa Jawa ini hanya sementara. Hanya untuk menegaskan setting film di pesisir selatan Yogyakarta.

Ternyata dugaan saya keliru. Format hitam putih dipakai di sepanjang film, menguatkan nuansa pahit getir kehidupan yang dijadikan tema utama film Siti. Hampir seluruh dialog juga diucapkan dalam bahasa Jawa. Penggunaan bahasa Jawa ini membuat suasana terbangun begitu sempurna, menggambarkan kondisi yang sebenarnya. Karena kebetulan berasal dari Jawa Tengah, saya tidak perlu melihat subtitlebahasa Inggris di layar untuk menghayati dialog di sepanjang film. Sementara tiga teman yang kebetulan lahir dan besar di Jakarta harus melihat subtitle agar bisa memahami dialog dengan sempurna.

Cerita film Siti menggambarkan secara lugas fenomena yang banyak dijumpai di kalangan bawah. Kali ini yang dimunculkan adalah kegetiran hidup sebuah keluarga nelayan. Bagus – suami Siti – mengalami kelumpuhan akibat kecelakaan saat melaut. Tidak hanya itu, kapal yang dibeli dengan uang pinjaman karam dalam kecelakaan itu. Akibatnya Siti harus berjuang mati-matian untuk melunasi pinjaman serta menghidupi Bagas, anak mereka satu-satunya yang duduk di bangku SD.

Penghasilan dari berjualan kerupuk jingking di pantai Parangtritis yang tidak seberapa membuat Siti harus mencari pekerjaan lain. Tidak tamat SMA, Siti tidak memiliki banyak pilihan. Bahkan mungkin tidak memiliki pilihan. Tuntutan hidup membuat Siti terpaksa bekerja sebagai pemandu lagu di warung karaoke remang-remang tidak jauh dari rumahnya. Sejak Siti bekerja sebagai pemandu lagu, Bagus suaminya tidak mau lagi berbicara dengan Siti.

Inti dari film ini adalah konflik batin Siti. Pada satu sisi dia masih mencintai suaminya Bagus yang saat ini hanya bisa terbaring lemah di tempat tidur. Namun di sisi lain di harus mencari uang untuk menyambung hidup dan melunasi hutang. Kemudian juga muncul tokoh Gatot – seorang bintara polisi yang jatuh hati dan mengajak Siti menikah. Meski sebenarnya kehadiran dan peran Gatot di film ini patut dipertanyakan. Jika memang dia mencintai Siti, kenapa dia – misalnya – tidak mengingatkannya untuk berhenti mencari nafkah di ‘kehidupan malam’. Kelihatannya sutradara perlu menambah tokoh untuk meningkatkan kerumitan konflik batin Siti.

Cerita berakhir dengan keberhasilan Siti mengumpulkan uang lima juta rupiah untuk membayar hutang. Gatot – sang polisi yang baik hati – memberi Siti uang. Juga pemilik warung karaoke yang setelah berdemonstrasi ke Polsek diizinkan lagi untuk membuka usahanya.

Pulang dalam keadaan mabuk dan sakit perut, Siti berkata kepada Bagus bahwa ada lelaki bernama Gatot yang mengajaknya menikah. Siti minta pendapat Bagus. Menjawab pertanyaan Siti, Bagus membuka suara – untuk pertama kalinya di sepanjang film – dan dengan nada getir mengizinkan Siti pergi. Mungkin karena kecewa mendengar jawaban tersebut, Siti meraung – maaf – “Asuuuu…” Dalam subtitle bahasa Inggris raungan Siti diterjemahkan sebagai – sekali lagi maaf – asshole.

Tertatih-tatih sambil menahan sakit di perut Siti mengambil uang dari lemari dan menyerahkan kepada ibu mertuanya. “Nggo mbayar kapal, Mbok”. Dia membangunkan Bagas anak satu-satunya namun Bagas menolak dengan alasan mau tidur karena besok haris ke sekolah. Siti keluar dari rumah di pagi buta. Sang ibu mertua tak kuasa menahannya.

viennale
Tiket nonton Siti di Bioskop Gartenbau, Vienna.

Saya lihat penonton – meski jumlahnya tidak begitu banyak – tidak ada yang beranjak dari kursi selama film diputar. Mereka tampak menikmati adegan demi adegan dalam film yang mengalir dan tidak membosankan. Sutradara patut diacungi jempol karena berhasil membangun cerita yang padat, tanpa dialog yang bertele-tele. Sutradara juga membuka mata penonton dan menunjukkan sisi lain dari kehidupan sehari-hari di Indonesia. Getir namun artistik. Sangat pantas jika film ini meraih penghargaan di festival film Hamburg (2015), Taipei (2015), dan Singapura (2014).

Saat beranjak dari kursi, saya menduga para penonton keluar bioskop sambil bertanya-tanya bagaimana nasib Siti selanjutnya. Film ditutup dengan adegan Siti yang dengan tertatih-tatih berhasil mencapai garis pantai. Apakah Siti akan melompat ke laut? Apakah sakit perutnya serius? Apakah sakit perut itu disebabkan oleh minuman keras oplosan yang ditenggaknya di tempat karaoke? Atau ibu mertuanya meminta bantuan para tetangga untuk mengejar Siti? Semua hanya bisa menduga dan menerka.

Siti adalah kisah hidup yang getir namun nyata dan masih banyak dijumpai di Indonesia. Siti adalah potret perempuan marjinal yang dipaksa oleh keadaan menjadi ujung tombak ekonomi keluarga. Dia harus bekerja meski batinnya menjerit karena menjadi pemandu lagu tidaklah sejalan dengan nuraninya.

Saya tidak tahu apa yang muncul di benak penonton Austria saat mereka menyaksikan rumah beralas tanah dan berdinding bambu tempat tinggal keluarga Siti. Juga peralatan rumah tangga yang begitu minim dan orang sakit yang terbaring di tempat tidur tanpa jaminan kesehatan. Bagi mereka yang hidup di negara maju dengan sistem jaminan sosial dan kesehatan yang tertata rapi, kehidupan yang dialami Siti mungkin dianggap sebagai dongeng. Padahal banyak Siti-Siti lain – bahkan dengan kondisi yang jauh lebih memprihatinkan – yang ada di Indonesia.

Angin dingin musim gugur senja itu segera menyambut saya saya keluar dari bioskop. Sepanjang perjalanan pulang saya terus berusaha menduga akhir kisah Siti. Saya berharap Bagus suaminya sembuh dan bisa kembali bekerja sebagai nelayan, Siti tidak lagi menjadi pemandu lagu, dan Bagas bisa lebih berkonsentrasi dalam belajar untuk mewujudkan cita-citanya sebagai pilot.

Advertisements

Liga Kurusetra

Tahun 1994 muncul tabloid GO, kepanjangan dari Gema Olahraga. Bersaing dengan tabloid olahraga yang sudah ada sebelumnya, Tabloid GO menghadirkan fitur baru sebagai pembeda. Salah satunya adalah halaman untuk cerita pendek alias cerpen.

Melihat ada halaman untuk cerpen, saya berangan-angan mengirimkan cerpen ke tabloid GO. Akhirnya ide terkumpul dan selesailah draft cerpen ‘Liga Kurusetra’. Karena tabloid yang dituju bernuansa olahraga, saya pilih sepakbola sebagai tema cerpen.

Inti cerita adalah kesepakatan Pandawa dan Kurawa – dua pihak yang berseteru dalam epik Mahabarata – untuk menghindari pertumpahan darah yang sia-sia. Alih-alih berperang, mereka memilih bertanding sepakbola untuk menentukan siapa yang lebih unggul.

Naskah cerpen kemudian saya ketik dengan mesin ketik manual, pinjaman dari seorang teman kos. Tahun 1995 rental komputer sudah ada di beberapa tempat di Jogja. Namun atas pertimbangan ‘ketersediaan anggaran’, saya memilih menggunakan mesin ketik.

Naskah saya kirim dan setelah itu tidak pernah ada kabar apapun dari penerbit. Meski bukan lagi zaman batu, saat itu internet, alamat email, dan handphone belum dikenal luas. Bahkan saluran telepon belum menjangkau kos-kosan tempat saya tinggal.

Selang berapa lama, datang selembar wesel dari Tabloid GO, honor untuk cerpen saya yang dimuat dua minggu sebelumnya. Segera saya meluncur ke tukang koran, mencari Tabloid GO edisi dua minggu lalu. Hasilnya nihil. Koran yang tidak laku sudah dikembalikan ke agen.

Akhirnya saya nikmati honor cerpen pertama itu tanpa pernah melihat langsung penampakannya. Dan setelah duapuluh tahun berlalu, belum juga lahir cerpen kedua hehehe…

P.S. Tabloid GO berhenti terbit pada tahun 2006.

Ramadhan di Kampung (3)

Bagi kami anak-anak yang hidup di sebuah dusun terpencil, siklus hidup hanya berputar di sekitar tempat kami tinggal. Tak banyak di antara kami yang memiliki kesempatan melihat kehidupan di luar dusun.

Karenanya apa yang datang dari luar selalu menarik perhatian. Terlebih jika yang datang itu berasal dari ‘kota’. Bagi kami kota adalah tempat yang jauh dan tak terjangkau serta berbeda dengan dusun kami pada semua aspek.

Menjelang akhir Ramadhan dusun kami kedatangan ‘anak-anak kota’. Mereka adalah anak-anak dari perantau asal dusun kami yang lahir dan besar di kota besar – umumnya Jakarta.

Kami melihat mereka seperti makhluk dari planet. Atau kalaupun sama-sama dari satu planet, kami menaruh mereka di kasta tertinggi. Kami yang bukan kerabat dari anak-anak kota itu hanya melihat dan mengamati tingkah polah mereka. Sering juga kami membuntuti mereka dari kejauhan saat mereka menjalankan aktivitas yang bagi kami rutin dan biasa namun bagi mereka adalah sesuatu yang istimewa. Mandi di sungai, berkubang lumpur di sawah, memancing ikan di kolam, dan seterusnya.

Kami tidak berani menegur mereka terlebih dahulu. Mereka menggunakan bahasa Indonesia, sementara kami sehari-hari menggunakan bahasa Jawa. Bahasa Indonesia hanya kami gunakan saat membaca buku pelajaran di kelas, tidak pernah kami gunakan di luar kelas.

Cara berpakaian ‘anak-anak kota’ itu juga tidak seperti kami. Pakaian mereka bagus-bagus dengan aneka warna yang masih terang. Sementara sebagian besar pakaian kami sudah lusuh dan jelas lagi warnanya apa.

Sore menjelang malam hari mereka juga tidak memakai kain sarung. Sering kami merasa heran karena saat maghrib tiba ‘anak-anak kota’ itu tetap bercelana pendek, tidak memakai kain sarung atau celana panjang. Padahal ada aturan tidak tertulis yang mengharuskan anak-anak memakai sarung atau celana panjang dari menjelang maghrib.

Momen paling menyenangkan adalah kami diajak bermain oleh ‘anak-anak kota’ itu. Ajakan bermain ibarat ‘recognition’ terhadap status dan keberadaan kami.

Lebaran selesai, ‘anak-anak kota’ itu kembali ke tempat mereka tinggal. Kami anak-anak dusun melepas mereka dalam kesedihan. Sambil berharap tahun depan akan kembali dan masih mengenali kami – anak-anak dusun tidak pernah kemana-mana.

(Ditulis di atas Emirates EK127, saat pesawat melaju di atas wilayah Turki)

Ramadhan di Kampung (2)

Orang-orang di dusun kami menyebut tradisi ini ‘Srakal’. Setelah shalat tarawih dan witir serta pembacaan doa selesai, jamaah bersama-sama melantunkan niat puasa dalam bahasa Arab diikuti terjemahannya dalam bahasa Jawa. Niat puasa diucapkan dengan irama dan hentakan yang khas dan penuh semangat.

Selesai mengucapkan niat puasa, jamaah tarawih berdiri membentuk formasi lingkaran. Pada saat bersamaan beduk di pojok mushala mulai ditabuh dengan irama yang cepat, seperti menyuruh jamaah untuk segera membentuk formasi. Selanjutnya dimulailah Srakal ini.

Srakal adalah tradisi melantunkan pujian kepada Allah SWT, menyebutkan sifat-sifat wajib Allah, dan membaca shalawat untuk Nabi Muhammad SAW. Jamaah melagukannya dalam irama yang tak pernah dituangkan dalam partitur. Buyut kami mewariskan irama itu kepada kakek kami, kakek kami mewariskannya kepada ayah kami, dan seterusnya. Kapan tradisi Srakal ini dimulai, siapa yang menggubah syairnya, dan siapa yang mengaransemen iramanya – kami tidak tahu.

Setelah jamaah berdiri dan membentuk formasi, irama beduk berubah menjadi lambat. Srakal dimulai dengan lantunan pujian kepada Allah dalam bahasa Arab yang dilagukan dengan lambat. Kami anak-anak kecil mencoba menerka-nerka apa yang dilantunkan oleh orang-orang tua.

Entah mengapa para orang tua tidak menuangkan naskah pujian itu ke dalam tulisan di kertas. Sehingga kami anak-anak dapat juga melantunkannya dengan benar, bukan tidak sekadar menerka. Mungkin buyut dan kakek kami juga tidak menuangkan naskah pujian ke dalam tulisan. Para orang tua kami mungkin ingin meneruskan tradisi ‘paperless’ warisan moyang mereka.

Irama beduk bertambah cepat saat jamaah mulai melagukan sifat-sifat wajib Allah: wujud, qidam, baqa … dan seterusnya. Lafal dalam bahasa Arab kemudian berganti menjadi bahasa Jawa, sementara beduk ditabuh dengan irama yang bertambah cepat.

Setelah pujian kepada Allah dan penyebutan sifat-sifat wajib Allah, bait selanjutnya berisi shalawat dan sedikit riwayat Nabi.

Penggalan bait yang sedikit saya ingat kurang lebih berbunyi seperti ini:

“Ingsun ngimanaken utusane Allah, kawulane Allah
Kang bapak Raden Abdullah, kang ibu Dewi Aminah

Lahir wonten Mekkah, diutus wonten Mekkah
Pindah teng Madinah, gerah ing Madinah
Gerah ing Madinah, sedha ing Madinah, sinareaken in Madinah

Bangsane bangsa Arab, bangsa Rasul bangsa Quraish
Allahumma shalli ‘ala Muhammad
Shalallahu nabiyullah, shalallahu jaluk ngapura…”

Jamaah melantunkan bait di atas dalam irama cepat namun penuh penghayatan. Kadang mereka saling berpandangan sambil tersenyum, seperti mengatakan bahwa beduk sudah ditabuh dengan irama yang pas sesuai ketukan. Jamaah juga tidak mempertanyakan mengapa ayah Nabi yang diketahui berkebangsaan Arab kok memiliki gelar raden

Setelah beberapa bait lain – yang saya sudah lupa – Srakal berhenti dengan hentakan beduk. Jamaah kemudian duduk, biasanya sambil tertawa lepas seperti memuji ‘pertunjukan’ yang baru selesai. Teh manis dan kudapan disajikan. Sambil menikmati hidangan, jamaah mulai mendiskusikan prosesi Srakal yang baru saja selesai. Di bagian ini beduk terlalu lambat, atau terlalu cepat, atau ada jamaah yang suaranya fals, dan seterusnya. Semuanya dilontarkan sambil tertawa.

Belum ada twitter, facebook, atau youtube saat itu. Belum ada juga yang mengatakan bahwa irama dan panjang-pendeknya kurang sempurna. Yang ada hanyalah niat baik untuk memuji keagungan Allah, menghafal sifat-sifat wajib Allah, dan membaca shalawat untuk junjungan kami Nabi Muhammad SAW. Gusti Allah mboten sare, begitu kata orang tua. Jika niatnya ikhlas, insha Allah menjadi ibadah.

Entah apakah tradisi Srakal sekarang masih ada. Juga apakah anak-anak sekarang yang seusia saya saat itu masih tertarik meneruskan tradisi ini. Mungkin waktu untuk Srakal tidak ada lagi, digantikan dengan ceramah agama ba’da tarawih. Atau digantikan dengan kegiatan-kegiatan yang lebih ‘modern’ dan menarik.

Wallahu a’lam.

Ramadhan di Kampung (1)

Saat masuk bulan Ramadhan seperti sekarang, ingatan saya selalu terbang mengenang puasa di kampung halaman tigapuluh tahun silam. Kenangan yang berserak nun jauh di sebuah dusun di kaki Gunung Slamet pada paruh kedua 1980-an. Dusun yang selalu terkurung dalam gelap ketika malam tiba. Meski terletak di Pulau Jawa, seratus tahun setelah pemerintah kolonial Hindia Belanda membangun rel kereta api melintasi sisi selatan dusun ini; atau empat puluh tahun setelah Republik ini merdeka – listrik dari PLN belum juga masuk.

Ramadhan selalu disambut dengan suka cita oleh kami – anak-anak dusun yang selalu riang meski hidup dalam keterbatasan. Ramadhan kami nilai lebih istimewa dari bulan-bulan yang lain. Karena Ramadhan identik dengan kebebasan.

Ya, kebebasan – sebab kami diizinkan oleh orang-orang tua kami untuk tidur di surau selama Ramadhan. Kebebasan ini tidak kami nikmati di bulan-bulan lain. Tradisi tidur di surau hanya ada di bulan Ramadhan.

Lalu dimulailah malam-malam panjang yang menyenangkan itu, terlebih saat Ramadhan jatuh bertepatan dengan musim kemarau. Selepas shalat tarawih kami kembali ke rumah mengambil bekal: nasi dalam wadah rantang logam berikut lauk-pauk yang diletakkan di atasnya. Rantang itu kemudian dibungkus kain berbentuk bujur sangkar yang empat ujungnya dikaitkan menjadi satu.

Menenteng rantang berisi bekal, kami bergegas kembali ke surau. Tidak ada piyama dan selimut, bahkan tidak ada bantal. Kami akan tidur di lantai surau, tanpa alas, tanpa bantal, berselimut kain sarung.

Ada rasa bangga yang membuncah di dada saat kami berjalan menuju surau. Karena tidur di surau identik dengan keberanian dan kemandirian. Anak lelaki berumur di atas sepuluh tahun yang tidur di rumah saat Ramadhan dianggap cengeng dan penakut.

Tentu saja orang tua kami berpikiran bahwa kami – anak-anak mereka – akan segera tidur setiba di surau. Seperti juga yang dilakukan saat mereka masih kanak-kanak, kami manfaatkan momen tidur di surau untuk menikmati kebebasan. Alih-alih langsung tidur, kami menghabiskan malam dengan berjalan-jalan keliling dusun.

Saat bulan sedang purnama, alam di dusun kami terlihat begitu indah. Air sungai di batas desa berkilauan dalam warna perak. Hamparan padi terlihat seperti hijau keemasan. Pohon talas di pematang sawah meliuk mengikuti deru angin malam. Lapangan bola terlihat seperti hamparan padang nan luas dikelilingi nyiur menjulang.

Puas berjalan keliling dusun, kami kembali surau saat tengah malam sudah lewat. Terlelap sebentar, kami harus bangun saat waktu makan sahur tiba. Rantang-rantang segera dibuka, bekal kami nikmati dalam kondisi setengah tertidur-setengah terjaga. Seting terdengar suara dengan nada kaget, karena ada tahu atau tempe atau seiris telur dadar yang hilang dari rantang. Jika begitu kami hanya bergumam: ini pasti ulah anak-anak lain yang umurnya di atas kami. Mereka mengambil lauk secara acak dari rantang-rantang yang berjejer rapi di pojok surau. Saat mereka seumur kami, bekal mereka juga kerap diambil oleh anak-anak yang lebih tua. Ini adalah persoalan memelihara tradisi.

Nasi dan lauk kami nikmati dingin-dingin namun lahap. Tidak ada food warmer atau microwave, dingin namun terasa begitu nikmat.

Selesai menikmati makan sahur, sambil menahan kantuk kami bergiliran mengambil wudhu. Kegiatan berikutnya adalah ‘mengaji’. Satu per satu kami mendatangi Pak Kyai yang sudah duduk di pojok surau. Duduk di depan Pak Kyai, kami membaca empat atau lima ayat Al Quran yang diajarkan sehari sebelumnya. Jika bacaan kami dianggap sempurna, Pak Kyai akan mengajarkan empat atau lima ayat berikutnya – yang kembali akan kami baca di depan beliau di hari berikutnya.

Acara tidur di surau ditutup dengan shalat Subuh berjamaah. Selesai berdoa selepas shalat, kami berhamburan keluar sambil menenteng rantang. Sambil menikmati udara pagi yang dingin, kami pukul rantang-rantang itu dengan sendok di sepanjang jalan.

Puasa hari itu kami jalankan dengan ceria. Sebab yang ada dalam bayangan adalah serunya acara tidur di surau selama bulan Ramadhan. Malam nanti kami akan kembali menikmati kebebasan yang hanya datang setahun sekali.

Cerita Buah Mundu

Hari Sabtu kemarin saya membeli dua kilogram buah apel berwarna hijau kekuningan. Atau kuning kehijauan, terserah. Difoto dengan smartphone, ternyata bagus juga hasilnya.

Saat menikmati apel yang renyah dan manis ini, tiba-tiba saya teringat buah mundu saat kecil dulu. Melirik wikipedia, nama latin buah mundu adalah ‘garcinia dulcis’. Katanya buah ini asli Indonesia, bukan pendatang. Masih satu kerabat dengan manggis dan asam kandis. Karena penampakannya mirip apel, mundu kerap disebut sebagai ‘apel jawa.’

Nah, ‘apel jawa’ ini merupakan buah impian saat saya kecil. Kalau tidak salah, hanya ada satu pohon mundu yang tumbuh di desa kami. Pohonnya tinggi menjulang di pekarangan depan sebuah rumah, tidak jauh dari sungai tempat kami ramai-ramai mandi.

Setiap melewati pohon itu, dalam perjalanan menuju sungai, saya dan kawan-kawan sepermainan hanya bisa menatapnya sambil menahan air liur. Membayangkan enaknya rada buah mundu yang bergantungan. Buah yang masih hijau pun kami bersedia diberi. Apalagi buah yang telah matang dan berwarna kuning mengkilat.

Sayang sekali, tidak ada di antara kami yang berkerabat dengan empunya pohon. Kenyataan ini membuat akses kami untuk dapat mencicipi buah mundu itu otomatis tertutup. Karena itu, kami hanya bisa kembali menatap pohon mundu itu, setiap kali kami melewatinya dalam perjalanan menuju ke sungai.

Pernah saya dengar beberapa anak hendak memetik buah mundu secara ilegal alias mencurinya malam-malam. Sial, upaya tak terpuji itu rupanya ketahuan. Satu anak yang sedang beroperasi di atas pohon tergesa turun. Karena tergesa, kain sarung yang dikenakan anak itu tertinggal di pohon.

Esoknya si anak mengetuk pintu rumah pemilik pohon mundu, mengambil sarung yang ‘tertinggal’ dan menyampaikan pengakuan dosa.

Cerita ini membuat saya semakin terkesan dengan pohon mundu satu-satunya di desa kami itu. Mencicipi rasa buahnya yang lezat adalah impian di masa kecil, saat keseharian anak-anak masih begitu sederhana…

Kereta Api Kenangan

Jalan kereta api rute Purwokerto-Cirebon melintang di ujung selatan desaku. Lokasinya di dekat area perawahan – jauh dari pemukiman penduduk. Jalan kereta yang dibangun Belanda itu meliuk di antara dua gundukan bukit, lalu melintasi sungai yang menjadi batas dengan desa sebelah.

Meski setiap hari melintas dalam jumlah puluhan, kereta merupakan sosok asing bagiku. Juga bagi teman-teman sebayaku. Seumur-umur tidak ada di antara kami yang pernah naik kereta.

Padahal jika malam telah larut dan alam hanyut dalam hening, bunyi kereta yang melintas terdengar jelas sampai ke tengah desa. Suaranya khas seperti berirama. Sumbernya adalah bunyi hentakan teratur dari pertemuan roda kereta dan sambungan rel. Sampai kemudian bunyi itu melirih, lalu sirna ditelan sunyi.

Karena lokasinya yang jauh dari pemukiman, sehari-hari kami jarang melihat dari dekat kereta yang melintas. Hanya pada bulan Ramadhan kami memiliki banyak kesempatan untuk bermain di area sekitar rel kereta. Selepas shalat subuh biasanya kami beramai-ramai menapaki jalan desa menuju ke sana. Juga setelah waktu ashar sambil menunggu maghrib tiba.

Jika beruntung, kami akan menjumpai momen penting ketika kereta melintas. Kami melihat sosok asing itu dengan antusias. Dari atas bukit kereta terlihat melintas dengan angkuh tetapi berwibawa.

Sebagian dari kami berteriak: Minta! Minta! Dalam pikiran kami semua penumpang kereta adalah orang kaya. Kami berharap mereka akan melempar satu atau dua keping uang logam keluar jendela. Meskipun kami tahu tidak pernah ada koin yang dilemparkan oleh orang-orang kaya itu.

Jika memang ada yang melempar dengan niat derma, bagaimana kami akan tahu sementara kami hanya melihat dari jauh di atas bukit. Dan koin itu pasti jatuh tertelan semak belukar yang tumbuh rimbun di sisi rel kereta.

Ada juga yang sibuk menghitung jumlah gerbong. Setelah kereta melintas, selalu muncul kesimpangsiuran. Satu orang menyebut sepuluh gerbong, satu lagi hanya menghitung sembilan.

Beda hitungan ini disebabkan oleh perbedaan aliran dan keyakinan. Yang sepuluh berkeyakinan bahwa lokomotif harus dikategorikan sebagai ‘gerbong.’ Sebaliknya yang sembilan berpendapat bahwa lokomotif bukanlah ‘gerbong’. Karenanya hitungan harus dimulai dari gerbong di belakang lokomotif.

Demikianlah. Perbedaan ini menjadi topik debat seru dalam perjalanan pulang. Tidak pernah ada kata sepakat, meski kami berulang-ulang menghitung saat kereta lewat.

Meski menjadi topik perdebatan, kereta tetap saja menjadi sosok asing bagi kami. Tidak ada yang pernah naik kereta – moda transportasi yang setiap hari melintasi ujung selatan desa kami.

Sampai akhirnya aku tamat SMP dan hijrah ke daerah lain untuk melanjutkan studi tingkat SMA. Saat semester pertama memasuki bulan keempat, seluruh murid kelas satu diajak berwisata ke Jakarta. Saat itulah pertama kali aku naik kereta api: kelas ekonomi rute Kutoarjo-Pasar Senen.

Sesaat setelah kereta api melewati Stasiun Purwokerto, aku beranjak menuju ke jendela di ujung gerbong. Suasana di luar gelap karena malam telah tiba. Tapi aku merasa yakin lokasi dua gundukan bukit ujung selatan desaku – tempat rel kereta ini melintas – akan aku temukan.

Benar saja. Samar-samar kulihat gundukan itu. Juga persawahan yang dibalut gelapnya malam. Lalu kereta melintasi jembatan di atas sungai, meninggalkan desaku di belakang. Semuanya berlangsung begitu cepat. Seperti berkelebat saja.

Di dekat jendela di ujung gerbong itu aku menitikkan air mata. Serasa kawan-kawanku berderet di atas bukit berteriak: Minta! Minta! Dan ketika kereta berlalu mereka sibuk dengan silang pendapat soal jumlah gerbong. Sayang keretaku lewat di malam hari. Saat itu teman-temanku sedang lelap bersama mimpi mereka.

Aku juga menitikkan air mata teringat ayah dan ibu. Mereka mungkin juga sedang terlelap tidur. Jika masih terjaga, mereka hanya bisa mendengar dari jauh bunyi khas pertemuan roda dan rel kereta. Tanpa tahu jika keretaku baru saja melintas, meliuk di sela gundukan bukit di ujung desa.

Aku terisak sambil berdiri di dekat jendela di ujung gerbong. Sampai rasa lelah membawaku kembali ke tempat duduk, dan keretaku terus melaju ke ibukota.