LareSabin

-nyanyian sepanjang jalan-

Pesona Andalusia (2): Kemegahan Alhambra

Al Qal’at al Hamra. The red fort. Benteng merah.

Nama dalam bahasa Arab itu berubah menjadi ‘Alhambra’ dalam bahasa Spanyol. Terletak di atas bukit di pinggiran kota Granada, Alhambra merupakan kompleks yang awalnya berfungsi sebagai benteng. Di kompleks ini kemudian dibangun istana yang megah dan taman yang indah. Pembangunan selesai pada masa pemerintahan dua penguasa Kerajaan Alhambra yaitu Sultan Yusuf I (1333-1353) dan Sultan Muhammad V (1353-1391).

wpspain01

Benteng di salah satu sudut kompleks Alhambra.

Menghabiskan malam pertama dengan rehat total setelah menempuh perjalanan panjang Vienna-Hamburg-Madrid-Granada, pagi hari kami sudah siap untuk memulai pengembaraan di Andalusia. Selesai sarapan di hotel dan check-out, sekitar jam 9 pagi kami berjalan kaki menuju pintu masuk utama Alhambra. Kebetulan hotel tempat kami menginap hanya berjarak ‘seperlemparan batu’ dari kompleks Alhambra.Dan sejak tadi malam mobil juga sudah terparkir di tempat parkir tidak jauh dari pintu masuk tersebut.

Tujuan pertama kami adalah mesin pencetak tiket. Bentuknya mirip ATM. Tiket sudah kami pesan dua bulan yang lalu. Saya cukup memasukkan kartu kredit yang digunakan membayar saat memesan tiket. Tanpa memasukkan data apa pun, di layar muncul empat tiket yang siap dicetat. Tinggal tekan ‘print’ dan tiket untuk kami berempat sudah siap.

Kami memesan tiket untuk sesi pagi. Artinya kami boleh berada di kompleks Alhambra mulai jam 10 sampai dengan jam 2 siang. Di tiket itu juga tercantum slot waktu untuk masuk ke Istana Nasrid jam 1.30 siang. Sebagai informasi, jumlah pengunjung Istana Nasrid dibatasi dan pintu masuk dibuka setiap setengah jam. Tujuannya agar pengunjung tidak berdesakan di istana yang ukurannya tidak terlalu besar ini.

Generalife

Jalan keluar dari taman Generalife.

Jalan keluar dari taman Generalife.

Setelah melihat peta Alhambra, kami putuskan untuk menikmati keindahan taman Generalife. Nama taman ini, Generalife, berasal dari bahasa Arab Jannat al Arif. Kurang lebih artinya taman orang-orang pandai. Melihat keindahannya, saya membayangkan betapa pintarnya arsitek yang membangun taman ini. Di puncak bukit yang tandus mereka membangun taman dengan sistem irigasi yang begitu rapi. Tanaman tumbuh menghijau membuat hawa menjadi begitu sejuk.

Konon, sistem pengairan modern ini merupakan salah satu peninggalan terpenting peradaban Islam di Spanyol. Sistem pengairan ini tidak hanya dimanfaatkan untuk membangun taman-taman yang cantik. Tetapi juga untuk mengembangkan sistem pertanian modern pada zaman itu.

Alcazaba

Benteng Alcazaba.

Benteng Alcazaba.

Puas berkeliling Generalife, kami melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya: Alcazaba bagian dari Alhambra yang berfungsi sebagai benteng dan barak militer. Dari Generalife ke Alhambra terhampar taman dan bangunan-bangunan kecil dengan nuansa Islam yang sangat kental.

Begitu masuk ke Alcazaba, suasana benteng begitu terasa. Tembok bangunan dibuat tebal dan kokoh, sehingga tidak akan roboh diterjang meriam musuh. Dari atas benteng kota tua Granada terlihat jelas.

Istana Nasrid

Pilar-pilar yang cantik dan megah di Istana Nasrid.

Pilar-pilar yang cantik dan megah di Istana Nasrid.

Destinasi terakhir di Alhambra adalah Istana Nasrid. Istana ini dibangun oleh Dinasti Nasrid yang berkuasa di Granda pada tahun 1238-1492. Keindahan bangunan dan ornamen di dalamnya sungguh mempesona. Selain kaligrafi tulisan Arab, sebagian tembok istana dihiasi dengan ornamen geometris yang menjadi ciri khas peradaban Arab zaman itu.

Kaligrafi yang terpampang indah di sejumlah sudut istana bertuliskan ‘wa laa ghaliba ilallah’. Pemenang sesungguhnya hanyalah Allah, demikian kira-kira arti kalimat tersebut. Kalimat ini tidak hanya menjadi sumber semangat tetapi juga sebagai pengingat. Bahwa segala kemegahan yang ada di Alhambra hanya dapat dibangun atas izin dan kuasa Allah.

Patung singa yang menjadi salah satu ikon Alhambra.

Patung singa yang menjadi salah satu ikon Alhambra.

Empat jam menyusuri sudut-sudut Alhambra – di tengah suhu musim panas yang mencapai 40 derajat – menjadi pengalaman tak terlupakan. Di sudut Eropa, selama lebih dari 700 tahun, berkembang peradaban Islam yang gemilang. Ingin rasanya lebih lama menikmati keindahan taman dan bangunan di kompleks Alhambra, namun alokasi waktu mengharuskan kami untuk segera beranjak.

Pintu dengan ornamen khas Islam di Istana Nasrid.

Pintu dengan ornamen khas Islam di Istana Nasrid.

Ada rasa berat saat kaki ini melangkah, keluar melintasi pintu gerbang Alhambra. Terbayang bagaimana perasaan Sultan Abu Abdullah atau Muhammad XII (yang juga dikenal sebagai Boabdil dalam bahasa Spanyol) saat harus meninggalkan menyerahkan kunci kota Granada kepada penguasa Catillia, Ratu Isabela dan Raja Ferdinand. Granada menjadi benteng terakhir kaum Muslim di Spanyol. Pada tanggal 2 Januari 1492, Boabdil terpaksa meninggalkan Granada dan segala kemegahan Alhambra.

Di sebuah bukit konon Boabdil menghentikan kudanya untuk melihat kota Granada terakhir kalinya. Bukit itu kemudian diberi nama Suspiro del Moro atau ‘the Moor’s sigh’. Boabdil meninggalkan Granada dengan penuh rasa sedih bersama sejumlah pengikutnya.

Seperti cerita dalam novel ‘The Alchemist’ karya Paulo Coelho. MAKTUB. Semua sudah tertulis. Maka itulah takdir yang harus dilalui.

Sambil terus mengagumi keindahan dan kemegahan Alhambra, siang itu kami meneruskan perjalanan ke destinasi berikutnya: Sevilla.

 

Pesona Andalusia (1): Vienna-Madrid-Granada


Ini adalah kisah lama, catatan perjalanan libur Lebaran bulan Juli yang lalu – namun belum sempat dituangkan dalam tulisan. Cerita tentang wisata sejarah ke Andalusia, region di bagian selatan Spanyol yang kaya dengan peninggalan sejarah Islam.

Andalusia yang identik dengan masa kejayaan Islam di tanah Spanyol membuat saya penasaran. Gambaran tentang wilayah ini dalam novel ‘The Alchemist’ karya Paulo Coelho membuat saya semakin penasaran untuk mengunjunginya. Dan harapan itu terkabul saat libur Lebaran yang lalu.

Etape pertama yang harus dilewati adalah penerbangan Vienna-Hamburg-Madrid. Sengaja transit di Hamburg karena harga tiket dengan transit lebih murah dari harga tiket direct ticket Vienna-Madrid. Karena pergi berempat, akumulasi selisih jadi lumayan signifikan. Transit di airport Hamburg juga dapat dimanfaatkan untuk berburu souvenir khas kota tersebut.

Singkat kata, penerbangan Vienna-Hamburg-Madrid berjalan lancar. Setelah mengambil bagasi, kami bergegas menuju counter penyewaan mobil. Setelah menyerahkan bukti pemesanan online dan menandatangani beberapa dokumen, petugas di counter menyerahkan kunci mobil.

“Anda beruntung hari ini. Mobil untuk Anda kami upgrade ke yang lebih besar,” katanya.

Saya pesan mobil Volkswagen Golf, tapi diberi sedan Skoda Octavia yang lebih besar tanpa biaya tambahan.

Rute Madrid-Granada menurut Google Maps

Rute Madrid-Granada menurut Google Maps

Masalah muncul saat piranti GPS hendak dipasang. Receiver dan kabel GPS saya bawa tetapi ternyata dudukan atau base untuk menempelkan GPS di kaca tertinggal di Vienna. Saat memarkir mobil di bandara Vienna, ternyata hanya GPS receiver yang saya copt dan base GPS masih menempel di kaca mobilOlala.

Rencana pun berubah. Awalnya kami akan langsung meluncur ke kota Granada. Terpaksa kami harus mengubah haluan, mencari toko elektronik terdekat untuk membeli dudukan GPS. Karena tidak bisa ditempelkan ke kaca, GPS kami pasang di monopod untuk selfie. Dari airport Madrid, istri saya yang bertugas memegang tongsis.

Setelah dudukan didapat, segera kami meluncur ke arah Granada.

Pemandangan di jalan bebas hambatan Madrid-Granada

Perjalanan Madrid-Granada sejauh 428 kilometer (menurut Google Maps) kami tempuh selama kurang lima jam. Sekitar separuh perjalanan, suasana Andalusia mulai terasa. Kanan kiri jalan terhampar warna coklat tanah pertanian di musim panas dan warna hijau tetumbuhan. Bangunan dengan nuansa ‘Islam’ mulai banyak terlihat.

Lahan pertanian di lahan yang terlihat kering dan tandus.

Lahan pertanian di lahan yang terlihat kering dan tandus.

Kami tiba di Granada bersamaan dengan saat mentari tenggelam. Acara malam pertama di Andulusia adalah istirahat total. Besok pagi kami akan menjelajahi destinasi pertama: Alhambra.

Akhir Pekan di Naschmarkt Vienna

Setelah hampir seminggu diselimuti mendung dan sesekali diguyur hujan, Sabtu ini cuaca kota Vienna berubah menjadi bersahabat. Mendung masih menggantung namun hujan tidak lagi turun.

Bersama tiga sahabat yang kebetulan sedang berkunjung ke Vienna, saya menghabiskan Sabtu pagi akhir pekan ini di Naschmarkt. Naschmarkt adalah pasar ‘tradisional’ yang terletak tidak jauh dari pusat kota Vienna. Konon sudah ada sejak abad ke-16, pasar ini terletak di bantaran Sungai Wien memanjang sekitar 1,5 kilometer.

Sabtu adalah puncak keramaian pasar ini. Wisatawan berbaur dengan penduduk lokal, berdesakan di lorong pasar. Sebagian pengunjung datang ke pasar untuk membeli kebutuhan sehari-hari: sayur, buah, bumbu, daging, hasil peternakan – baik segar maupun olahan. Sebagian datang untuk melihat-lihat dan menikmati suasana. Ada juga yang datang untuk berwisata kuliner, menikmati hidangan makanan di restauran dan cafe di pojok pasar.

Naschmarkt adalah salah satu destinasi wisata wajib di Vienna. Produk yang dijajakan mungkin bukan sesuatu yang baru atau barang yang unik. Namun semuanya tertata dengan rapi, dengan paduan warna-warni yang begitu kaya. Selain itu kondisi pasar juga sangat bersih. Tidak terlihat sampah berserakan di lantai. Kedai tempat berjualan juga bersih dan tertata rapi.

Bagi yang ingin menikmati suasana Naschmarkt, saya unggah beberapa foto yang saya ambil pada Sabtu pagi.

Salah satu kedai yang menjual sayur dan buah. Segar-segar dan tertata rapi.

Salah satu kedai yang menjual sayur dan buah. Segar-segar dan tertata rapi.

Naschmarkt02

Deretan restauran, masih sepi karena belum masuk jam makan siang. Kain warna merah yang disampirkan di kursi adalah selimut yang disediakan untuk pengunjung. Suhu udara di bawah 10 derajat, kadang jaket tidak cukup untuk menutup hawa dingin.

Kedai penjual kopi dan kudapan. Cocok untuk mengganjapo perut di tengah hawa dingin musin gugur.

Kedai penjual kopi dan kudapan. Cocok untuk mengganjapo perut di tengah hawa dingin musin gugur.

Naschmarkt05

Rempah-rempah juga dijual di Naschmarkt. Sudah dibungkus rapi. Tinggal pilih mau bikin jamu beras kencur atau ramuan kunyit asam hehehe…

Naschmarkt06

Kedai ini menjual aneka kacang dan buah-buahan kering. Boleh coba tapi harus beli hehehe…

Naschmarkt07

Ada juga kue manis khas Mediterania: baklava dan sejenisnya…

Naschmarkt09

Dua pengunjung sedang membeli keju. Puluhan jenis keju dijual di kedai ini.

Naschmarkt08

Yang ini adalah toko bumbu dan makanan kemasan. Santa kelapa dalam kaleng bisa dicari di toko ini.

Naschmarkt10

Panggil saya Dr. Falafel. Baru saja wisuda S-3. Sebelumnya adalah Falafel, SH, LLM hehehe…

Naschmarkt11

Sebenarnya saya agak sungkan difoto, Masbro. Okeh…

Naschmarkt12

Tebak-tebak buah manggis ada juga di sini.

Naschmarkt13

Buah yang konon kabarnya sedang naik daun di Indonesia.

Naschmarkt14

Katakanlah dengan bunga. Bunga segar juga dijual di Naschmarkt.

Naschmarkt15

Lombok, cabai, chili dalam berbagai bentuk, ukuran dan warna. Bersatu dalam ‘kepedasan’.

Naschmarkt16

Tragedi buah apel.

Selamat Makan, Prijatno

Saat hidup di asrama SMA tahun 1990-1993, setidaknya tiga kali sehari saya mengucapkan kata ‘Selamat Makan.’ Tidak hanya mengucapkan, tetapi mengucapkan dengan keras. Penuh semangat.

Setiap hari seluruh penghuni sarapan, makan siang dan makan malam bersama di ruang makan asrama. Jika dalam setahun rata-rata 300 hari dihabiskan di asrama, selama 3 tahun saya dan teman-teman mengucapkan kata ‘Selamat Makan’ 2.700 kali! (Data resmi please cek BPS).

Prosesi makan bersama ini diawali dengan pemukulan gong oleh petugas piket. Sebelum gong ditabuh, suasana ruang makan sangatlah hiruk-pikuk. Obrolan, candaan, tawa riang (maupun getir) terdengar di setiap sudut.

Begitu gong berbunyi suasana seketika menjadi senyap. Semua menundukkan kepala, berdoa menurut agama dan keyakinan masing-masing.

Saat gong ditabuh lagi tanda selesai berdoa, semua yang ada di ruang makan bersama-sama dengan penuh semangat mengucapkan “Selamat makaaaannnnn…!!!” Acara makan dimulai.

Kemarin di Ljubljana saya berkesempatan jalan-jalan sebentar ke pusat kota. Beruntung hari itu sedang digelar festival makanan. Makanan khas Slovenia – juga kuliner dari berbagai negara – disajikan di tenda-tenda kecil yang tertata rapi.

Di salah satu sudut terpasang spanduk. Di situ tertulis ucapan pengantar makan dalam berbagai bahasa. Dan ternyata ada kata ‘Selamat Makan’ di spanduk itu. Ada rasa senang melihatnya meski tidak sampai menitikkan air mata. (Kalah oleh air liur akibat lapar -red).

Tulisan ‘Dober tek’ – bahasa Slovenia untuk selamat makan – dicetak tebal di spanduk. Ada juga tulisan ‘Prijatno.’ Saya kira ‘Prijatno’ ini nama ketua panitia food festival hehehe…

Berdasarkan hasil konsultasi dengan Ki Google, ‘Prijatno’ adalah selamat makan dalam bahasa Bosnia. Oalah…

Ya sudah kalau begitu. Selamat makan, Prijatno… (kali ini tanpa bunyi gong).

Dengan 20 Euro Dapat Gelar Bangsawan

Sungguh-sungguh terjadi. Kemarin, hanya dengan membayar 20 Euro saya dianugerahi gelar kebangsawanan Inggris. Proses penganugerahan gelar juga berlangsung cepat, tidak pakai ribet.

Ceritanya begini. Salah satu kuliner khas Ljubljana, Slovenia adalah grilled octopus alias gurita panggang. Kemarin siang saya masuk ke sebuah warung makan tidak jauh dari pusat kota. Saya lihat warung tersebut menyajikan menu gurita panggang.

Saat melihat buku menu di dekat pintu masuk, pramusaji datang menghampiri. Dengan ramah dia menyapa “Good afternoon, SIR.”

Saya katakan ingin menikmati gurita panggang. Dengan sigap sang pramusaji menunjukkan menu gurita dan mempersilakan saya duduk.

“What would you like to drink, SIR.” Lagi-lagi saya dipanggil SIR. Penyebutan SIR terus terdengar sepanjang saya duduk dan menikmati gurita panggang yang super nikmat.

Sampai akhirnya gurita di piring tandas dan acara makan selesai. Pramusaji mengucapkan terima kasih.

“Enjoy your stay in Ljubljana, SIR,” katanya menutup pembicaraan.

Demikianlah. Hanya dengan 20 Euro saya mendapatkan gelar kebangsawanan Inggris yang cukup bergengsi: SIR. Sayangnya gelar itu langsung dilucuti begitu saya keluar dari warung makan hehehe…

By the way, gurita panggangnya sangat enak. Empuk dengan bumbu yang segar meresap. Penampakannya di foto sebagaimana terlampir. Dan soal gelar bangsawan SIR, don’t worry ini cuma guyon alias kelakar.

Dilarang Belanja! (di Hari Minggu)

Di Indonesia hari Minggu identik dengan hari belanja. Di Jakarta, pusat perbelanjaan atau shopping center selalu dipenuhi pengunjung. Begitu juga antrian di kasir supermarket selalu panjang karena banyak keluarga yang berbelanja kebutuhan sehari-hari untuk satu pekan ke depan. Aktivitas belanja di hari Minggu ini membuat kemacetan lalu lintas di sekitar shopping center dan ‘pasar kaget’ menjadi suatu cerita biasa.

Tidak hanya pusat perbelanjaan, ‘pasar kaget’ yang khusus digelar pada akhir pekan juga tidak kalah ramai. Salah satu yang sering saya kunjungi adalah ‘pasar kaget’ STEKPI Kalibata (sekarang sudah bubar). Orang dari berbagai kalangan tumpah ruah sampai melangkahkan kaki menjadi tidak leluasa. Sebagian besar datang dengan tujuan untuk berbelanja.

Di Wina, Austria adalah kebalikannya. Hari Minggu semua toko tutup. Begitu juga shopping center dan supermarket. Aktivitas bisnis yang buka hanyalah restauran dan kedai makanan. Padahal di hari biasa (Senin sampai Sabtu) toko-toko juga hanya buka sampai jam enam sore. Hanya pada hari Kamis mereka buka sampai jam delapan malam.

Tutupnya tempat belanja menjadi masalah saat kita perlu membeli sesuatu. Yang kerap terjadi adalah istri tiba-tiba terperanjat karena tidak ada lagi stok gula pasir atau minyak goreng di dapur, sementara dia sedang menyiapkan masakan untuk dibawa ke acara kumpul-kumpul Minggu siang. Hal ini tidak menjadi soal di Indonesia karena banyak warung yang buka sepanjang waktu.

Konon ada tiga alasan mengapa toko-toko tutup di hari Minggu. Pertama, hari Minggu adalah hari untuk beribadah bagi umat Kristen yang merupakan mayoritas di Austria. Kedua, hari Minggu adalah hari untuk berkumpul dengan keluarga sehingga tidak tepat diisi dengan keluyuran di mall.

Dua alasan pertama sangat masuk akal dan dapat dicerna dengan logika sederhana. Setelah lima hari bergelut dengan pekerjaan, dibutuhkan satu hari untuk bersantai bersama keluarga. Acara belanja umumnya dilakukan hari Sabtu dan hari Minggu digunakan sepenuhnya untuk acara keluarga dan mengumpulkan tenaga untuk seminggu ke depan.

Alasan ketiga adalah untuk mengontrol konsumerisme dan mempertahankan nilai-nilai sosial. Karena toko-toko tutup, para orang tua memiliki kesempatan mengajak anak-anak mereka berkunjung handai taulan, bermain di taman, atau berkunjung ke museum. Artinya, di Eropa yang selama ini sering dianggap identik dengan kapitalis justru terdapat upaya nyata untuk mencegeh konsumerisme yang membabi buta!

Pemerintah kota Wina juga memanfaatkan hari Minggu untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi. Caranya dengan menggratiskan tiket angkutan umum bagi anak-anak usia sekolah. Karenanya orang-orang lebih memilih baik bus dan trem di hari Minggu. Jalanan menjadi lengang tanpa harus dengan slogan ‘car free day.’

Awalnya saya belum dapat memahami ‘larangan berbelanja di hari Minggu’ ini. Lama-lama akhirnya terbiasa juga meski tetap ngeyel membayangkan mengisi hari Minggu dengan sesuatu yang ‘khas’ Jakarta. Misalnya dengan ‘ngubek-ngubek’ toko buku di pusat perbelanjaan, sesuatu yang tidak dapat dilakukan di sini.

Selamat menikmati hari Minggu!

Pesona Kota Kecil: Tulln, Austria

Beberapa waktu lalu, tanpa rencana, saya dan keluarga pergi melancong ke kota Tulln. Nama lengkapnya Tulln an der Donau atau ‘Tulln di tepi Sungai Danube’, sebuah kota kecil yang terletak kira-kira 25 kilometer arah barat laut dari kota Wina, ibu negeri Austria. Penduduk kota ini tercatat 15.198 jiwa pada tahun 2012. Setara dengan dua kali populasi Gununglurah – desa tempat saya lahir dan menghabiskan masa kecil.

Perjalanan dari Wina ditempuh dalam waktu 30 menit. Sengaja saya mengambil ‘jalan kampung’ untuk menikmati panorama pedesaan ala Eropa. Dan benar saja, sepanjang jalan terhampar alam yang hijau menyambut musim semi. Sesekali hamparan bunga menyambut di beberapa titik.

Suasana sepi dan lengang terasa di sepanjang jalan. Hari Minggu memang hari bermalas-malasan. Toko-toko tutup. Orang-orang lehih banyak menghabiskan waktu di rumah.

Suasana sepi juga menyambut kedatangan kami di kota Tulln. Setelah mendapatkan tempat parkir di pelataran rumah penduduk, kami berjalan menuju tepian Sungai Danube. Dua menit berjalan kami tiba di bantaran salah satu sungai terpanjang di Eropa ini. Warna hijau dedaunan ditimpali aneka warna bunga mendominasi pemandangan. Tulln memang terkenal dengan taman-tamannya yang luas dan elok.

Saat kami tiba, sekitar jam 2 siang, suasana di tepian sungai masih sepi. Hanya terlihat beberapa orang bersepeda. Ada juga yang duduk-duduk menatap kapal dan speedboat yang sesekali melintas sambil menikmati sinar mentari musim panas.

Puas menikmati udara segar dan pemandangan di tepi sungai, kami melanjutkan pergerakan ke pusat kota atau Zentrum. Petunjuk arah dan peta terpasang jelas di beberapa titik. Disebutkan bahwa pusat kota dapat dicapai dalam waktu tiga menit berjalan kaki atau satu menit bersepeda. Sangat informatif.

Kami menyusuri gang-gang kecil yang bersih di antara rumah dan apartemen. Beberapa restauran terlihat penuh oleh pengunjung yang sedang menikmati makan siang. Dan sudah menjadi tradisi orang Austria, gelas-gelas besar bersisi bir terlihat mendominasi meja makan mereka.

Tidak sampai tiga menit, kami tiba di pusat kota. Rupanya keramaian terpusat di sini, di alun-alun. Sebuah lapangan berlantai beton seluas kurang lebih 50 x 20 meter terhampar. Di sisi selatan lapangan melintas jalan protokol, di sisi utara adalah deretan toko, kafe, dan restauran. Sementara di sisi timur bediri dengan megah bangunan klasik kantor pemerintah kota. Tepat di bawah lapangan adalah tempat parkir berbayar.

Cuaca cerah hari itu dimanfaatkan untuk memanjakan diri dengan sinar matahari. Satu pemandangan menarik, orang lalu-lalang dengan es krim di genggaman. Melihatnya segera dua anak saya mengajukan petisi: beli es krim.

Tidak ada alasan untuk menolak, acara dilanjutkan dengan menikmati es krim sambil berjemur seperti orang Eropa. Tidak tahan didera mentari, saya dan istri – tipikal makhluk tropis – mencari tempat duduk yang terlindungi dari sinar matahari. Sambil berteduh, kami mengawasi anak-anak yang sedang bermain air mancur di tengah lapangan. Es krim dan main air. Apalagi yang lebih menyenangkan buat anak-anak selain dua hal tersebut…

Setelah puas ‘berjemur’ kami melanjutkan perjalanan melihat-lihat sekeliling. Kurang dari 15 menit setiap sudut pusat kota sudah dapat dinikmati. Jalanan terlihat lengang dan menurut informasi angkutan umum juga ikut libur di hari Minggu. Wah, terbayang kemana-mana harus naik ojek…

Kami berjalan menyusuri taman kembali menuju tepian sungai. Sasaran berikut adalah naik ‘kereta api mini’ keliling kota. Karena kereta penuh kami harus menunggu 20 menit untuk perjalanan berikut.

Kereta mini ini mirip dengan yang dioperasikan di Monas, Ancol, Ragunan, atau di beberapa jalan kecil di perkampungan padat penduduk di Jakarta. Tarif satu kali naik adalah satu setengah euro. Lama perjalanan seiktar 20 menit. Artinya, kami mengulang lagi sudut-sudut kota yang telah dilewati sebelumnya. Bedanya, kereta membawa kami agak jauh ke pinggir kota dan berhenti di depan kebun raya.

Sang masinis dengan cekatan mengendalikan kereta meliuk-liuk di antara bangunan-bangunan kuno yang antik, kokoh sekaligus anggun. Sesekali dia membunyikan klakson untuk memberi aba-aba di perlintasan.

Perjalanan dengan kereta berakhir dan kami turun di pemberhentian tak jauh dari tempat parkir mobil. Melirik arloji, ternyata sudah jam 18.30 meski siang masih terang-benderang. Matahari baru akan terbenam jam 20.30 namun perut sudah mengindikasikan saatnya makan malam. Akhirnya kami kembali ke mobil, menikmati makan malam dengan bekal yang dibawa dari Wina.

Setelah perut diisi makanan, otak saya kembali bisa berpikir. Sebenarnya tidak ada yang begitu istimewa atau spektakuler di kota Tulln. Tempat-tempat yang kami kunjungi termasuk standar untuk ukuran Eropa: tepi sungai, taman, lapangan di pusat kota, naik kereta mini. Namun di balik yang standar tadi ada satu hal yang pantas dikagumi: bagaimana objek-objek wisata tadi dikelola dengan baik sehingga ‘hidup’ dan secara ekonomi ‘menghasilkan.’ Padahal Tulln bukan kota besar, hanya kota kecil di sudut Austria.

Kemampuan mengelola ini membuat Tulln menjadi tujuan – atau setidaknya persinggahan – wisata. Terlihat dari beberapa mobil dengan plat nomor dari kota dan negara lain yang saya temui. Menjelang jam 19.00 kami kembali ke Wina dengan rute berbeda dengan saat berangkat. Matahari tidak lagi begitu terik dan keindahan alam kembali terbentang di sepanjang jalan. Sambil mengemudi, saya berandai-andai pemanfaatan potensi wisata model Tulln ini juga bisa diterapkan di Indonesia.

Semoga.

Asylum a la Carte

Suaka sesuai selera. Begitu mungkin terjemahan bebasnya. Istilah ‘asylum a la carte’ pertama kali saya dengar dari Johanna Mikl-Leitner, Mendagri Austria. Bu Menteri mempertanyakan mengapa migran yang saat ini berbondong-bondong masuk Eropa seperti begitu ngotot hendak ke Jerman. Mengapa mereka tidak mengajukan suaka di negara yang masuk katefori ‘aman’ yang pertama kali mereka singgahi.

Situasi di Slovenia dijadikan contoh oleh Bu Menteri. Di Slovenia saat ini terdapat sekitar 2.500 orang dengan status pengungsi, namun hanya tujuh di antara 2.500 orang itu yang mengajukan suaka ke pemerintah setempat. Sisanya tidak mengajukan suaka. Dapat ditebak yang tidak mengajukan suaka ini ingin melanjutkan perjalanan ke Jerman.

Slovenia itu kurang aman atau gimana? Kira-kira begitu pertanyaan lanjutan Bu Menteri. Jika para migran itu meninggalkan negeri asal mereka karena tidak ada lagi rasa aman, harusnya mereka mengajukan suaka di negeri aman pertama yang disinggahinya.

Kuatnya keinginan para migran untuk menuju Jerman membuat Bu Menteri curiga. Jangan-jangan migran itu lari ke Eropa bukan karena keselamatan mereka terancam, tetapi lebih disebabkan oleh motif ekonomi. Jika benar demikian, oportunis banget dong mereka. Wallahu a’lam.

Hal ini antara lain yang membuat Austria sejak awal mendukung proposal penerapan kuota wajib bagi anggota Uni Eropa untuk menampung pengungsi. Berdasarkan skema ini setiap anggota EU wajib menerima pengungsi dalam jumlah tertentu. Dua tahun ke depan pengungsi yang direlokasi berjumlah 120.000 orang. Mereka saat ini berada di penampungan di Italia, Yunani dan Hungaria.

Austria berpandangan bahwa kuota wajib tidak hanya bertujuan membagi tanggung jawab di antara anggota EU secara lebih fair. Lebih dari itu, adanya sistem kuota membuat migran tidak bisa lagi menentukan negara yang akan dijadikan sebagai tujuan akhir. Bisa saja mereka direlokasi ke Jerman, bisa juga ke Portugal. Tergantung garis tangan.

Migrasi internasional memang perkara yang pelik. Dengan segala kerumitannya publik sering susah membedakan mana pengungsi yang sesungguhnya – yang hidupnya benar-benar terancam di negara asal – dan mana migran oportunis yang memanfaatkan situasi untuk meningkatkan taraf hidup. Belum lagi jika dikaitkan dengan praktik people smuggling atau penyelundupan manusia yang ketap melibatkan sindikat kejahatan internasional.

Menutup status ini, saya ikut mendoakan semoga krisis pengungsi yang tengah berlangsung di Eropa dapat segera terselesaikan.

Perdagangan Orang atau Penyelundupan Manusia?

Eropa sedang dihadapkan pada krisis migrasi terbesar di kawasan pasca Perang Dunia Kedua. Saat ini diperkirakan ribuan migran tengah berusaha masuk Eropa, sementara ribuan lainnya sudah berhasil masuk. Sebagian besar migran berasal dari kawasan Timur Tengah dan Afrika. Ada yang meninggalkan negara asal karena alasan politik dan keamanan. Ada juga yang karena alasan ekonomi dan keinginan meningkatkan kesejahteraan.

Media mejadikan migrant crisis di Eropa sebagai berita utama. Istilah penyelundupan manusia (people smuggling) dan perdagangan orang (human trafficking) banyak digunakan. Apa perbedaan keduanya?

Penyelundupan manusia secara garis besar merujuk tindakan memasukkan warga negara asing ke negara tujuan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan aturan keimigrasian. Dalam prosesnya, orang yang diselundupkan (smuggled migrant) biasanya memberi imbalan kepada pihak penyelundup (smuggler). Dengan kata lain orang yang diselundupkan melakukan perbuatannya dengan sadar dan mengetahui konsekuensi perbuatannya.

Praktik penyelundupan manusia banyak terjadi di kalangan pencari suaka. Untuk dapat masuk ke Australia, misalnya, sekelompok pencari suaka asal Asia Selatan membayar nakhoda untuk membawa mereka ke Pulau Christmas, dari Pelabuhan Ratu melintasi Samudera Hindia. Mereka berusaha masuk teritori Australia tanpa visa, bahkan tanpa mengantongi bukti identitas apapun.

Sementara perdagangan orang merujuk pada tindakan perekrutan, pengiriman, pemindahan, penyembunyian atau penerimaan orang dengan tujuan eksploitasi – umumnya disertai dengan ancaman, penggunaan kekerasan atau bentuk bentuk pemaksaan lain.

Perdagangan orang sering terjadi dalam konteks rekrutmen tenaga kerja migran. Seorang remaja ditawari diiming-imingi peluang kerja di sebuah restauran di negara A, sebagai contoh, namun di akhir cerita dia dijerumuskan sebagai pekerja seks komersial di negara B. Remaja tersebut ditipu dan melakukannya tidak atas dasar suka rela.

Meski berbeda, baik penyelundupan manusia maupun perdagangan orang dijalankan oleh sindikat dan sama-sama tidak manusiawi. Sering kita membaca berita perahu berisi pencari suaka tenggelam di tengah samudera. Mereka sudah membayar mahal namun ditipu. Bukan kapal bagus yang mereka dapat tapi perahu kecil dari kayu yang telah lapuk.

Perdagangan orang kerap berakhir dengan tragedi kemanusiaan: eksploitasi seksual, kerja paksa, perbudakan, bahkan penjualan organ tubuh.

Beberapa media masih sering keliru dalam menggunakan dua istilah ini. Ada juga yang mengira penyelundupan manusia dan perdagangan orang adalah istilah yang sama. Untuk lebih mudah mengingatnya, penyelundupan manusia banyak berkaitan dengan pengungsi dan pencari suaka – sedangkan perdagangan orang umumnya terkait dengan tenaga kerja migran.

Fahimtum?

Rugby: Antara Brutalitas dan Sportivitas

Setelah tayangan sepakbola Liga Inggris selesai, kanal televisi saya pindah ke siaran langsung pertandingan Piala Dunia rugby. Laga yang disiarkan adalah England versus Wales.

Hampir semua bentuk ‘kekerasan’ tersaji dalam pertandingan rugby. Mulai dari jegal, tackle, tabrak, sikut, injak, piting. Segala cara dan upaya seperti ‘dihalalkan’ dalam rangka merebut dan mempertahankan bola.

Terlebih yang bertanding adalah England dan Wales. Secara politik, keduanya adalah entitas yang memiliki kedudukan setara sebagai bagian dari United Kingdom of Great Britain and Nothern Ireland – yang dalam bahasa Indonsia secara keliru dipadankan dengan Inggris dan bukan Kerajaan Serikat. Tapi dalam olahraga keduanya selalu bersaing. England selalu ingin mempertahankan dominasi, sementara Wales tidak mau terlihat inferior.

Walhasil selama 80 menit jalannya pertandingan, kekerasan demi kekerasan silih berganti dilakukan oleh pemain kedua tim. Di tengah laga, sejumlah pemain terpaksa ditandu ke luar lapangan karena mengalami cedera lumayan parah. Ada juga beberapa pemain yang harus dibalut kepala, tangan atau kakinya karena mengalami luka akibat benturan.

Menariknya, meski saling jegal dan baku tackling – para pemain dari kedua tim mampu mengendalikan emosi selama pertandingan berlangsung. Tidak ada yang marah karena dijegal lawan – sekasar apapun. Apalagi membalas dengan pukulan, misalnya. Tidak ada yang sewot karena kepalanya terinjak di tengah kerumunan. Singkatnya, semua menjunjung tinggi sportivitas dan tahu benar jika kekerasan yang dilakukan adalah bagian dari permainan. Yang penting aturannya ditaati.

Karakteristik yang memadukan brutalitas dan sportivitas ini membuat rugby dijuluki sebagai olahraga ‘berandalan’ yang dimainkan oleh ‘gentlemen’. Karakteristik ini juga yang mungkin membuat rugby tidak bisa berkembang di Indonesia. Laga olahraga dengan tingkat kekerasan seperti rugby bisa memicu tawuran massal – pemain berikut penonton – dalam tempo sesingkat-singkatnya. Lha wong olahraga catur yang tanpa kontak fisik saja bisa berakhir dengan adu jotos hehehe…

Oh ya, Wales keluar sebagai pemenang dengan skor 28-25. Padahal sampai menit ke 70 England masih memimpin. Selamat buat Wales!